Ayat bacaan: Matius 13:26
====================
“Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu.”

benih dan tanah

Sudah beberapa kali saya dan istri mencoba menanam mulai dari benih. Beberapa hari kami pun harap-harap cemas menanti apakah benih itu akan tumbuh atau tidak. Ada beberapa memang yang gagal, tapi kebanyakan berhasil. Betapa gembiranya melihat munculnya tunas kecil menyembul dari tanah, dan kemudian terus tumbuh membesar. Benih-benih sayuran itu kini sudah menunjukkan hasil yang cukup baik. Beberapa malah sudah siap petik. Menanam sendiri dari benih dan melihat hasilnya terasa jauh lebih menyenangkan dan lebih puas ketimbang membeli yang sudah jadi. Apa yang saya perhatikan selanjutnya bukan hanya benih yang tumbuh tunas dan menjadi tanaman itu saja, tetapi saya pun melihat bagaimana tanah bekerja. Tanah tidak bisa dan tidak akan pernah bisa memilih. Tanah akan menumbuhkan apapun yang kita tabur ke atasnya. Jika kita menabur benih buah maka buah yang akan tumbuh. Jika benih sayur, maka sayurlah yang tumbuh. Tidak akan mungkin benih sayur menjadi buah, tidak mungkin pula benih buah menjadi sayur. Kondisi tanah pun harus subur. Campuran antara tanah dan pupuk harus baik. Terlalu banyak pupuk akan membuat tanah menjadi panas, tanpa pupuk sama sekali pun benih akan sulit tumbuh. Tidak sulit untuk menanam, tetapi mudah juga tidak. Kondisi tanah, keadaan benih dan ketekunan kita merawat adalah hal-hal yang penting bagi keberhasilan kita dalam menanam.

Sebuah perumpamaan dari Yesus mempergunakan ilustrasi mengenai mengenai benih dan tanah ini, yaitu dalam perumpamaan tentang lalang di antara gandum. (Matius 13:24-30). “Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya.” (Matius 13:24). Rasanya orang hanya akan selalu menaburkan benih yang baik di ladangnya, dan tidak akan pernah mau menabur benih yang bisa merusak lahan taninya. Apakah ada orang yang dengan sengaja menanam benih lalang atau tanaman liar? Tentu saja tidak. Tapi musuh bisa menaburkan benih yang tidak baik di sana. “Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. (ay 25). Perhatikanlah, tanahnya sama, tapi benih yang baik dan yang tidak baik keduanya bisa sama-sama tumbuh dengan subur. “Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu.” (ay 26). Lalu bagaimana akhirnya? “Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku. (ay 30). Tanah tempat tumbuhnya sama, kedua benih yang baik dan tidak sama-sama tumbuh subur, tapi pada akhirnya kita bisa melihat mana yang masuk ke lumbung dan mana yang berakhir dengan dibakar.

Seperti halnya tanah, demikian pula yang terjadi dengan pikiran kita. Pikiran kita ibarat tanah yang subur. Pikiran kita selalu menerima, memberi respon, menumbuhkan apapun yang ditabur masuk di dalamnya tanpa terkecuali, sama seperti tanah. Apakah itu baik atau buruk, apakah itu positif atau negatif, apakah itu bermanfaat atau merusak, apakah yang mengarah pada keselamatan atau menjerumuskan kita ke dalam jurang dosa, semuanya akan ditumbuhkan oleh pikiran kita tanpa terkecuali. Baik atau buruk, keduanya bisa tumbuh subur di pikiran kita. Itulah sebabnya kita harus mampu menguasai pikiran kita sebelum pikiran kita berbalik berkuasa atas diri kita. Jika kita menanam hal-hal yang tidak baik, misalnya pikiran negatif, pornografi, berprasangka buruk, menduga-duga, atau malah menghakimi orang lain dalam pikiran kita, maka itulah yang akan tumbuh subur dan merajai hidup kita. Jika kita menabur hal-hal seperti mengasihani diri berlebihan, menganggap diri rendah, kebencian, dendam, atau bahkan kutuk, maka itulah yang akan direspon pikiran kita. Dari benih yang kecil, itu akan tumbuh hingga kelak berbuah. Dan benih yang jahat akan menghasilkan tindakan-tindakan yang jahat pula. Firman Tuhan sudah mengingatkan “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia.” (Amsal 23:7) Dalam versi King James Version dikatakan: “For as he thinketh in his heart, so is he.” Seperti yang kita pikirkan, demikianlah kita. Kita bisa menjadi pribadi yang baik, kudus dan berkenan, atau sebaliknya menjadi pribadi yang buruk, penuh kebencian dan kepahitan, semua tergantung dari benih seperti apa yang kita tabur ke dalam pikiran kita.

Oleh karena itu penting bagi kita agar selalu menanam hal-hal yang positif dalam pikiran kita. Paulus pun pernah mengingatkan hal ini dengan sangat jelas. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8). Lihatlah bahwa kita dianjurkan untuk selalu mengisi pikiran kita dengan hal-hal yang baik. Memandang dari sisi negatif akan membuat kita menjadi negatif pula, karena itulah yang akan ditumbuhkan oleh pikiran kita dan kemudian berbuah subur dalam hidup kita. Jika kita mengikuti pesan yang tertulis dalam Filipi 4:8 di atas, maka kita pun akan menuai persis seperti apa yang kita tanam, yaitu hal-hal yang benar, adil, mulia, suci, manis dan baik. Adalah sangat penting bagi kita untuk terus menabur benih firman Tuhan dalam pikiran kita secara teratur, sehingga tidak ada lagi tempat atau celah bagi benih-benih negatif untuk bertumbuh di dalam pikiran kita dan merusak kita serta merampas kesempatan kita untuk menjadi bagian dari Kerajaan Surga.

Karena Allah adalah kasih, maka firman-firmanNya yang kita tabur tentu akan menumbuhkan kasih pula. Jika kasih yang tumbuh, maka lita pun akan penuh dengan buah kasih dan kebajikan. “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” (1 Korintus 13:4-7). Semua inilah yang akan tumbuh dan semua ini akan membentuk pribadi kita menjadi pribadi yang berkenan di mata Tuhan. Tidak ada tempat bagi hal-hal negatif di dalam kasih. Jika kita berbuah kasih, maka pikiran kita bisa terhindar dari pengaruh-pengaruh negatif yang siap menenggelamkan diri kita dan mengarahkan kita untuk hanyut semakin jauh dalam dosa. Selain itu, janganlah kita memenuhi pikiran kita dengan berbagai ketakutan atau kekhawatiran yang seringkali tidak beralasan dan belum tentu terjadi seperti yang kita takutkan. “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Filipi 4:6). Jika ini kita lakukan maka hidup kita pun menjadi lebih indah sebab damai sejahtera Allah akan selalu hadir di dalam diri kita. “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:7).

Menabur firman Tuhan dalam pikiran kita, menabur benih-benih yang baik disana, itu akan membuat kita kelak bertunas hal-hal yang baik pula. Jangan lupakan bahwa kita pun harus menaklukkan pikiran kita dalam Kristus agar tidak ada benih-benih negatif yang bakal tumbuh disana. Hal ini tepat seperti yang dilakukan pula oleh Paulus dan rekan-rekan sepelayanannya. “Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus” (2 Korintus 10:5b). Control your mind and don’t let your mind control you. Kita harus mampu mengendalikan pikiran kita, menabur hal-hal yang positif, yang baik dan yang benar sesuai firman Tuhan, serta menaklukkannya kepada Kristus. Marilah kita mengendalikan dan memperhatikan pikiran kita, sebab apapun benih yang kita tanam di dalamnya akan sangat menentukan tunas seperti apa yang akan tumbuh dari diri kita.

Apa yang tumbuh dalam pikiran kita tergantung dari benih seperti apa yang kita tabur di dalamnya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. renungan katolik matius 13 24-30
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.