Benar Gak Sih Maria Diangkat ke Surga?

ADA 2 pesta Maria yang menjadi kontroversi antara Gereja kita dengan Gereja-gereja Protestan. Pesta Maria Diangkat ke surga dan Maria dikandung tanpa noda, 8 Desember.

Orang Protestan menolak pandangan ini karena tidak ada dalam Kitab Suci. Hari ini kita akan melihat apakah benar ajaran-ajaran ini tidak punya dasar pada Kitab Suci?

1 Kor. 15: menyatakan Kristus adalah yang sulung, yang bangkit dari antara orang mati. Semua orang akan dibangkitkan juga dalam persekutuan dengan Kristus. Hal itu akan terjadi pada akhir jaman. Tetapi Gereja Katolik menyatakan, Maria sudah menerima kurnia itu, pada saat kematiannya.

Di Yerusalem ada 2 Gereja tua yang dikatakan sebagai tempat Maria meninggal dan tempat Maria dimakamkan. Tetapi kedua Gereja itu tidak menyimpan jenazah ibu Maria. Gereja melihat bahwa hal itu terjadi karena hubungan khusus antara Yesus dengan ibuNya. Sejak dalam kandungan, ibu Maria dinyatakan bersih dari noda dosa. Memang tidak ada teks Kitab Suci yang menyebutnya secara langsung.

Tetapi jika kita bdk. Kel. 25:10-22: diceritakan bagaimana tabut, kotak tempat penyimpanan loh batu, perjanjian antara Allah dengan bangsa Israel, dilukiskan dengan teliti bagaimana kotak itu harus dibuat, kayunya kayu apa, dilapisi emas, tutupnya, hiasannya. Semua itu untuk menghormati loh batu, lambang perjanjian dan tempat pertemuan antara Allah dengan umatNya.

Jika tanda perjanjian yang hanya dari batu disimpan dalam tempat yang begitu teliti dan bagus dibuat dan dihias, bagaimana mungkin tanda perjanjian yang hidup, manusia Yesus, disimpan dalam tempat yang penuh noda dan dosa?
Kesucian Maria, bukan prestasi ibu Maria sendiri, tapi tanda kuasa dan kesungguhan Allah mempersiapkan kedatangan PutraNya ke dunia. Dan pengangkatan Maria ke surga, merupakan puncak anugerah persatuan total manusia dengan Allah.

Yesus yang menghasilkan persatuan total itu dan Maria menjadi contoh dan jaminan buah persatuan total itu, persatuan seutuhnya, dalam bahasa manusia, tubuh dan jiwanya, dengan Allah.

Dengan pemahaman ini, kita mau memahami Kisah pertemuan Maria dan Elisabet. Maria menerima kabar dari Malaikat bahwa akan menjadi ibu Tuhan dan bersedia dalam kepasrahan. Dan sekarang, Maria pergi untuk menolong Elisabet pada usia tua dan hamil tua. Maria tidak bergosip tentang kabar hebat, ia akan menjadi ibu Tuhan. Bahkan pujian Elisabet diarahkannya kepada Tuhan. Maria dan Elisabeth masih ada di dunia waktu itu. Tetapi bukan kah pada saat itu, surga sudah mulai turun ke dunia?

Persatuan total dengan Allah, yang mulai dinyatakan dengan penyerahan diri Maria, dikembangkan dengan mewartakan kabar baik, memperhatikan yang kekurangan dan membutuhkan, diarahkan kepada kemuliaan Allah.

Persatuan dengan Allah, itulah surga yang dapat kita alami dan wujudkan di dunia.Kita pasti juga pernah begitu, tetapi belum dalam totalitas yang penuh seperti yang dialami dan diperjuangkan ibu Maria.

Dosa-dosa kita membuat kita masih membuat jarak dengan Allah. Kita masih tawar-menawar, berkeras hati dan mencari kesenangan kita dalam kebiasaan-kebiasaan buruk yang belum mau kita hilangkan.

“Paman, terimakasih sudah mengajak saya ke Gereja Minggu depan. “ kata Tim dalam perjalanan liburan mereka untuk memancing di danau.

“Saya tidak mau menyinggung perasaan paman. Tapi jujur, saya merasa tidak begitu tertarik dengan urusan agama, sekarang ini.”

“Lho, kelihatannya kamu berminat sekali minggu lalu. Malah kamu bilang, Kitab Suci mulai menarik perhatianmu dan sepertinya Kitab Suci itu menarik dan benar.”

“Yaaaa. Tapi saya lalu pikir-pikir lagi. Rasanya tidak perlu lah cari selamat sekarang ini. Teman-teman ngumpul saya tidak akan mengerti. Saya masih suka jalan sama mereka. Nanti suatu ketika saya akan ke Geeja. Tapi sekarang, saya lebih suka seperti ini saja dulu, deh. Saya tahu, saya tidak sempurna. Tapi saya juga tidak jelek-jelek amat.”

Pamannya diam saja dan menyetir terus untuk beberapa lama. Tiba-tiba ia bersertu: “Wah, celaka. Saya lagi mikir omonganmu, sampai tidak memperhatikan tempat putar-balik tadi.. putaran berikut masih 15 km lagi.”

“Jadi kita musti putar-balik sekarang, dong, oom.” Kata Tim.

Tapi pamannya geleng kepala. “Saya lagi tidak ingin putar balik sekarang. Jalannya enak, tidak berlubang dan pemandangannya bagus.”

Tim memandang pamannya dengan heran. “Tapi kita harus putar balik kalau mau ke danau tempat memancing. Semakin lama kita di jalan ini, semakin jauh kita harus jalan balik nanti. Dan kalau kita salah jalan kejauhan dan tidak putar-balik, bisa-bisa kita sampai sudah gelap dan tidak sempat mincing akhirnya.”

Pamannya tersenyum waktu melambat dan masuk ke jalan kecil untuk bisa berputar kembali.

“Kamu benar. Tapi yang baru saja kamu katakan, persis sama seperti yang saya coba katakan kepadamu tentang hidup rohani. Kalau kamu ada di jalan yang salah, semakin cepat kamu putar-balik, semakin baik. Kalau kamu menunggu terlalu lama, mungkin kamu tidak akan sampai pada tujuan: ke surga!”

Dalam cerita ini, surga adalah tujuan hidup. Tetapi dalam Pesta Maria diangkat ke surga, hari ini, kita melihat, surga adalah kurnia Allah kepada manusia. Allah itu mahakasih. Ia mau menyelamatkan manusia, dengan membuat perjanjian kesetiaan kepada mereka.

Waktu manusia tidak taat, Allah masih berusaha, mengutus PutraNya menjadi Perjanjian Baru bagi semua manusia. Allah mau repot-repot mempersiapkan tempat yang layak untuk kelahiran PutraNya. Bersama dengan Yesus, Anaknya, Maria juga berjuang menjawab tawaran kasih kesetiaan Allah itu.

Kita tahu arahnya; bersatu dengan Allah berarti pasrah kepada Allah, hidup tertuju kepada sesama dan Allah. Dalam ketiga bidang ini kita masih lemah. Kita sering mencari kepastian dan jaminan pada diri kita sendiri, tidak pasrah.

Padahal kita tahu, berpusat pada ketiga hal ini, kita akan mengurangi banyak dosa dan kelemahan dan membuat hidup kita terarah menuju surga. Kita masih memilih hidup yang berpusat pada diri kita sendiri, bukan kepada sesama, apa lagi kepada Allah. Tetapi kita juga menjadi tempat Allah hadir, setiap kali kita kita menyambut komuni.

Seperti Allah mau repot-repot menjaga Maria agar layak menjadi tempat Yesus lahir, Allah juga pasti mau bersusah payah mengusahakan agar kita juga menjadi layak menjadi tempat PutraNya hadir di dunia ini. Semoga peristiwa kenaikan Maria ke surga ini membuahkan syukur dan tekad untuk berjuang bersatu lebih total dengan Allah sendiri.

Dengan demikian kita sudah boleh menikmati dan menghadirkan surga di dunia ini dan kelak bersatu sempurna dengan Allah Bapa, Tuhan Yesus, Roh Kudus dan ibu Maria di surga. Amin.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: