Belas Kasih

Ayat bacaan: Lukas 1:78-79
==========================
“oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.”

Sebagai pemimpin militer dan politik, Napoleon Bonaparte sangatlah disegani pada jamannya dan masih melegenda hingga saat ini. Di saat ia berkuasa pada fase-fase akhir Revolusi Perancis, ada sebuah kisah menarik yang dicatat oleh sejarah. Suatu kali datanglah seorang ibu kepada Napoleon untuk meminta pengampunan bagi putranya. Pada saat itu putranya sedang menanti untuk dihukum mati. Si ibu memohon agar anaknya diampuni. Tapi Napoleon mengingatkan bahwa kejahatan anaknya sudah keterlaluan, dan keadilan yang setimpal bagi tindak kejahatan yang dilakukan anaknya adalah hukuman mati. Si ibu menjawab, “sir, not justice, but mercy.” “Yang aku mohon bukanlah keadilan, tetapi belas kasihan”. Jawab Napoleon: “tapi anakmu tidak layak menerima belas kasihan, bu!” Sambil menangis ibu itu berkata: “But sir, it wouldn’t be mercy if he deserved it.” Terjemahannya, “Bukanlah belas kasihan namanya jika ia layak menerimanya..” Napoleon tertegun lalu berkata: “benar juga..ibu benar. Aku mau memberikan belas kasihan.” Dan anaknya pun akhirnya dibebaskan.

Penggalan kisah nyata diatas bisa menjadi jendela bagi kita untuk mengenal konsep mengenai belas kasihan yang berasal dari Allah kepada kita. Pada pasal demi pasal yang ada dalam Alkitab kita bisa menemukan belas kasihan yang diberikan Tuhan kepada manusia dalam jumlah yang tak terhitung banyaknya. Ambillah beberapa contoh seperti kisah ibu Yunani bangsa Siro-Fenisia yang memohon belas kasih Yesus atas anak perempuannya yang kerasukan roh jahat (Markus 7:24-30). Lalu seorang ayah bernama Yarius yang memohon belas kasih Yesus turun atas anak perempuannya yang sedang sekarat. Yang terjadi adalah Yesus membangkitkan anaknya yang sebenarnya sudah keburu meninggal. (Markus 5:21-43). Dalam kisah itu terselip pula seorang wanita yang sudah 12 tahun lamanya mengalami pendarahan, yang mengharap belas kasih Yesus dengan menyentuh jubahNya. Orang buta, orang lumpuh, orang kusta, dan lain-lain, telah menjadi kesaksian akan luar biasa besarnya belas kasih Tuhan. Dalam perjanjian lama pun demikian. Ada begitu banyak kisah dimana Tuhan melimpahkan belas kasihNya yang luar biasa besar.

Kembali pada kisah sang ibu dengan Napoleon di atas, dari kisah itu kita bisa mendapat gambaran mengenai bagaimana sebenarnya bentuk belas kasih itu. Belas kasih dianugrahkan pada manusia yang sebenarnya tidak layak menerimanya. Itulah inti dasar dari sebuah belas kasih. Kita manusia yang setiap hari berlumur dosa, melakukan kejahatan terhadap Tuhan, dan ganjaran yang sesuai adalah binasa, karena upah dosa ialah maut (Roma 6:23). Tapi lihatlah betapa Tuhan mengasihi kita. Tuhan memilih untuk bertindak bagai seorang bapa yang penuh belas kasih. Atas segala dosa yang sudah mencemari manusia, Tuhan bereaksi bukan membiarkan kita semua binasa dalam api neraka, tetapi Dia rela menganugerahkan Kristus untuk menyelamatkan kita, keluar dari kebinasaan dan masuk ke dalam kehidupan keka (Yohanes 3:16). Daniel dari jauh hari sudah mengerti akan hal ini. “Pada Tuhan, Allah kami, ada kesayangan dan keampunan, walaupun kami telah memberontak terhadap Dia dan tidak mendengarkan suara TUHAN, Allah kami, yang menyuruh kami hidup menurut hukum yang telah diberikan-Nya kepada kami dengan perantaraan para nabi, hamba-hamba-Nya.” (Daniel 9:9-10).

Kita datang menghadap Tuhan bukan dengan tangan kosong melainkan dengan tangan yang sangat kotor, bahkan berdarah. Kita datang dengan kesadaran penuh bahwa sesungguhnya atas segala pelanggaran yang kita lakukan kita layak menerima penghakiman. Kalau kita bicara hanya soal keadilan, kita seharusnya harus siap menerima hukuman tanpa berhak protes. Tetapi besarnya kasih Tuhan pada kita membuatNya justru menganugerahkan kita dengan keselamatan ditambah pemulihan hubungan yang sebelum kedatangan Yesus ke dunia terputus akibat dosa. Dalam Injil Lukas ada ayat yang berbunyi sebagai berikut: “oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.” (Lukas 1:78-79). Belas kasihan dari Allah disertai rahmatNya bisa membuat kita keluar dari kegelapan, lepas dari naungan maut untuk kemudian beralih kepada jalan menuju keselamatan yang penuh damai sejahtera.

Kerinduan Tuhan itu disampaikan oleh Petrus. “…karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” (2 Petrus 3:9). Sungguh besar dan tak terbatas kasihNya pada kita. Tuhan selalu siap mengampuni kita, tidak peduli sebesar apa kesalahan kita di masa lalu. Tuhan siap mengampuni kita. “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” (Yesaya 1:18). Dia terus menanti kedatangan kita berbalik dari dosa dan kembali kepada wilayah belas kasihNYa. Ketika kita datang padaNya dengan hati yang hancur, belas kasihNya pun akan turun atas kita. Kehendak Tuhan adalah kita semua diselamatkan dan dimenangkan. Belas kasihNya membebaskan kita. Adalah Tuhan sendiri yang menghapus dosa kita, dan Dia tidak lagi mengingat-ingat dosa kita. (Yesaya 43:25) Ketika manusia penuh dosa dan seharusnya layak binasa, kasih Allah yang besar siap memberi pengampunan dan menyelamatkan manusia sepenuhnya. Itulah belas kasih Tuhan.

Belas kasih artinya memberikan pengampunan dan kebebasan kepada yang sebenarnya tidak layak menerimanya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: