Belajar Rendah Hati dan Setia Memikul Salib, Peringatan Wajib Santo Vincentius a Paulo

vincentius a pauloSabtu, 27 September 2014 PW St. Vinsensius a Paulo, Imam Pengkotbah 11:9-12:8; Mazmur 90:3-4.5-6.12-14.17; Lukas 9:43b-45 APA yang dapat kita petik dari Injil hari ini? Bagian kedua dari teks Injil hari ini menarik perhatian saya, khususnya kalimat terakhir. “…mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada Yesus.” Mereka tidak mengerti perkataan Yesus namun mereka takut […]

vincentius a paulo

Sabtu, 27 September 2014
PW St. Vinsensius a Paulo, Imam
Pengkotbah 11:9-12:8; Mazmur 90:3-4.5-6.12-14.17; Lukas 9:43b-45

APA yang dapat kita petik dari Injil hari ini?

Bagian kedua dari teks Injil hari ini menarik perhatian saya, khususnya kalimat terakhir. “…mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada Yesus.” Mereka tidak mengerti perkataan Yesus namun mereka takut bertanya kepada Yesus. Mengapa?

Jawabnya ada pada kita. Sikap itu merupakan representasi karakter kita. Betapa sering pun bersikap sama. Kita tidak mengerti namun takut bertanya. Itulah kesombongan kita. Bertanya itu butuh kerendahan hati. Kita sering kurang rendah hati.

Yesus bersabda tentang penderitaan dan penyaliban-Nya. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Dengarkan dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” Yesus mengajarkan kepada kita tentang penderitaan, pengkhianatan, penolakan dan penyaliban mengikuti karya-karya mujizat-Nya.

Semua orang heran karena segala yang dilakukan Yesus. Lalu  Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada Yesus.

Dengan membaca Injil kita tahu bahwa mujizatNya menyatakan daya dan keagungan berkat Allah bagi kita, khususnya bagi yang rendah hati. Namun karya mujizat juga memberi wejangan profetik kepada kita. Kita tidak bisa berbagi kemuliaan tanpa memikul salib kita.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita menyembah Yesus yang mengajarkan kepada kita tentang pengkhianatan dan penyaliban yang dialamiNya namun itu tidak menyentuh rasa kita sebab kita tidak paham makna kemesiasan-Nya. Maka sementara kita menyembah Dia, kita mohon kepadaNya agar kita mengerti bahwa jalan menuju kemenangan atas dosa dan maut harus melalui salib dan kebangkitan Kristus.

Tuhan Yesus Kristus, dengan penderitaan dan wafatMu di salib, Engkau telah menyatakan kemuliaan dan kemenanganMu atas dosa dan maut demi keselamatan kami. Semoga kami tidak pernah gagal untuk melihat kemuliaan dan kemenangan dalam penderitaan dan salibMu. Bantulah kami unruk menyelaraskan  hidup kami dengan kehendakMu dan mengikuti jalan kasih dan kekudusanMu dengan setia memikul salib kami kini dan selamanya. Amin.

Girli Kebon Dalem
»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
“abdi Dalem palawija”
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply