Belajar Rendah Hati dan Bertobat

rendah hati namun cita-cita tinggi by Keep CalmSelasa 12 Agustus 2014 Hari Biasa Pekan XIX Yehezkiel 2:8–3:4; Mazmur 119:14.24.72.103.111.131; Matius 18:1-5.10.12-14 “Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?” (Matius 18:1) PERIKOP yang diwartakan kepada kita hari ini terdiri dari dua bagian lagi, seperti kemarin. Pertama, tentang kerendahan hati seperti anak kecil agar masuk […]

rendah hati namun cita-cita tinggi by Keep Calm

Selasa 12 Agustus 2014
Hari Biasa Pekan XIX
Yehezkiel 2:8–3:4; Mazmur 119:14.24.72.103.111.131;
Matius 18:1-5.10.12-14

“Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?” (Matius 18:1)

PERIKOP yang diwartakan kepada kita hari ini terdiri dari dua bagian lagi, seperti kemarin. Pertama, tentang kerendahan hati seperti anak kecil agar masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Kedua, tentang sukacita Kerajaan Sorga atas satu orang berdosa yang mau bertobat.

Keduanya terhubungkan oleh fakta bahwa untuk suatu pertobatan, selalu dibutuhkan kerendahan hati. Sebaliknya, untuk bisa rendah hati, kita harus bertobat.

Setiap orang, sadar maupun tidak, gampang banget tergoda oleh satu sikap yang disebut “ambisi”. Maka, yang bersangkutan lalu tampak “ambisius”. Karakter yang diwarnai “ambisi” dan menjadikan seseorang “ambisius” merupakan hal yang tidak baik, negatif.

Tampak jelas bahwa Yesus tidak sepaham dengan yang namanya “ambisi” ataupun sikap “ambisius”. Itulah sebabnya, Yesus mengajak para murid sadar bahwa Kerajaan Sorga tidak bisa diwarnai oleh “ambisi” dan sikap “ambisius”.

Kerajaan Sorga itu anugerah! Allah menganugerahkan Kerajaan Sorga bukan sebagai kekuasaan tetapi pelayanan. Untuk itu, dasarnya bukan sikap ambisi, melainkan sikap rendah hati.

Mengapa para murid bertanya kepada Yesus tentang siapa yang terbesar dalam Kerajaan Sorga? Tampaknya, para murid sudah mulai mengalami daya dan efek karya Yesus tentang Kerajaan Sorga yang membuat banyak orang kian terpesona. Nah, para murid mulai tergoda dengan “ambisi” tertentu, untuk mempunyai peranan dalam Kerajaan Sorga.

Dan sebagai model sikap rendah hati, Yesus memilih anak kecil. Maka, “Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: Sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Matius 18:2-3). Jangankan menjadi “terbesar”, untuk “masuk ke dalam Kerajaan Sorga” saja, orang harus rendah hati seperti anak kecil.

Maka, Yesus pun mengingatkan para murid, “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa- Ku yang di sorga” (Matius 18:10)

Mengapa kita harus belajar dari anak kecil dan menjadi seperti anak kecil agar bisa masuk Kerajaan Sorga? Pada masa Yesus, tidak memiliki hak, posisi, ataupun privilisi dari dirinya sendiri. Anak kecil tidak memiliki kemampuan dan sama sekali tergantung dari orangtuanya. Di sanalah terlukis kerendahan hati. Bukan kekuasaan melainkan ketergantungan karena ketidakmampuan dan kelemahan.

Yang berhak masuk Kerajaan Sorga adalah orang yang rendah hati, bukan orang yang congkak dan tinggi hati. Juga bukan orang yang penuh ambisi, apalagi membabi buta dan menghalalkan segala cara untuk meraih keinginannya.

Dalam situasi ini, dibutuhkan sikap tobat, pertobatan. Untuk bisa bersikap rendah hati, kita harus bertobat. Atau sebaliknya, sikap tobat memerlukan kerendahanhati.

Pertobatan dan kerendahan hati ibarat dua sisi sekeping mata uang yang saling menentukan.

Baik kerendahan hati dan sikap tobat mendatangkan sukacita sorgawi. Kerendahan hati dan pertobatan membuat kita layak masuk Kerajaan Sorga. Satu orang saja bersikap rendah hati dan bertobat, sukacita Kerajaan Sorga bergema.

Dengan Adorasi Ekaristi Abadi, kita belajar bertobat dan bersikap rendah hati. Dengan demikian kita menambahkan paduan suara yang penuh sukacita dalam Kerajaan Sorga. Semakin banyak yang ikut serta dan terlibat dalam gerakan Adorasi Ekaristi Abadi, semakin bertambah pula yang bertobat dan bersikap rendah hati. Maka, sorga pun kian dipenuhi dengan gemuruh dan gelora sukacita!

Tuhan Yesus Kristus, ajarilah aku bersikap lemah lembut, sederhana dan rendah hati. Dengan demikian, kami pun belajar bertobat terus-menerus agar sukacita Kerajaan Sorga semakin bergema, kini dan selamanya. Amin.

Girli Kebon Dalem
SALAM TIGA JARI: Persatuan Indonesia dalam Keragaman

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply