Belajar Lewat Keteladanan Paulus (1)

Ayat bacaan: 1 Korintus 4:16
====================
“Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!”

Seperti apakah orang yang bisa disebut atau dijadikan teladan? Kata teladan mengacu kepada sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh seperti dalam sifat, sikap, perbuatan, tingkah laku dan sebagainya. Itu yang seharusnya. Tapi pengertian teladan atau role model sudah mulai menyimpang. Banyak orang yang keliru mengambil figur panutan dan ‘meneladani’ perilaku-perilaku buruk dari figur tersebut. Misalnya ngefans sama artis yang hidupnya penuh dengan obat-obat terlarang, hubungan bebas dan sebagainya, yang mengajarkan perilaku-perilaku buruk atau malah tokoh dunia yang terkenal kejam dan sudah membantai begitu banyak jiwa pun ternyata banyak fansnya karena dianggap keren. Ada saja memang orang yang seperti itu. Itu bukanlah sebuah keteladanan menurut pengertian sebenarnya. Seorang yang bisa dijadikan panutan atau teladan adalah orang yang terus menanamkan nilai-nilai kebenaran, budi pekerti dan berbagai kebaikan lainnya yang bukan hanya sebatas ajaran lewat kata-kata saja tetapi tercermin langsung dalam keseharian hidup mereka.

Orang-orang yang menjadi teladan adalah orang berintegritas yang punya kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Itu sebabnya untuk menjadi seorang teladan bukanlah perkara mudah. Bila dalam mengajar kita hanya perlu membagikan ilmu dan pengetahuan lewat perkataan, tetapi dalam menerapkan keteladanan kita harus mengadopsi langsung seluruh nilai-nilai  yang kita ajarkan untuk tampil secara langsung dalam perbuatan kita, siap dicontoh oleh mereka. Ada orang-orang yang mampu menunjukkan nilai-nilai kebenaran dalam hidupnya sehingga mampu memberi pengajaran tersendiri meski tanpa mengucapkan kata-kata sekalipun. Sebaliknya ada orang yang terus berbicara tapi hasilnya tidak maksimal karena tidak disertai dengan contoh nyata dari cara atau sikap hidupnya. Dan itu akan sia-sia saja pada akhirnya.

Ada banyak orang tua yang kecapaian akibat terlalu sibuk bekerja hanya akan memarahi anak-anaknya kalau ada yang salah tanpa memeriksa terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi. Di satu sisi mereka melarang ini dan itu, tapi di sisi lain mereka melanggar sendiri peraturan yang mereka buat. Saya kan orang tua, terserah saya. Kamu masih anak kecil, harus menurut. Titik, tidak pakai koma. Ini bukanlah sikap orang yang bisa dijadikan teladan karena hanya memerintah tanpa mencontohkan. Anak akan sulit belajar tentang kebenaran jika berada dalam bentuk keluarga seperti itu.

Agar bisa menjadi teladan itu tidak mudah. Berat dan seringkali butuh pengorbanan. Kalau orang tua inign mengajarkan bahwa tidak baik untuk cepat marah, orang tua tersebut harus terlebih dahulu menunjukkan kesabaran, bukan malah menunjukkan betapa pendeknya sumbu kesabaran mereka. Kalau mau mengajarkan harus hidup jujur dan bersih harus terlebih dahulu melakukannya tanpa syarat, bukan mencari alasan karena terpaksa dan sebagainya. Kalau mau mengajarkan harus rajin membangun hubungan dengan Tuhan, kita harus mencontohkannya dan bukan hanya menyuruh tapi sendirinya malas karena merasa tidak lagi punya cukup waktu untuk itu setelah habis dipakai bekerja atau menyalurkan hobi. Seseorang pernah berkata bahwa urusan doa adalah urusan istri, sementara dia tugasnya memenuhi kebutuhan akan materi. Ketika saya tanyakan apakah anak laki-lakinya yang masih kecil ia ajarkan untuk rajin berdoa sejak di usia kecil, ia berkata dengan bangga: “tentu saja.” Disini bisa kita lihat contoh orang yang meski mengajarkan anaknya tentang hal benar tapi ia sendiri tidak memberi keteladanan. Atau ada pula yang rajin berdoa tapi dalam hidup sehari-hari perilakunya buruk dan secara transparan dilihat oleh anak-anaknya. Ini tidak akan baik bagi pertumbuhan si anak.

Hari ini mari kita lihat contoh lewat Paulus. Pada suatu kali Paulus berkata dengan tegas kepada jemaat Korintus: “Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!” (1 Korintus 4:16). Hanya sebuah kalimat singkat dan sederhana, tapi kalau kita renungkan kalimatnya yang singkat itu sebenarnya tidaklah ringan. Paulus tidak mungkin berani berkata seperti itu apabila ia tidak atau belum mencontohkan apapun yang ia sampaikan mengenai kebenaran firman Tuhan. Tapi kita tahu seperti apa cara hidup Paulus. Ia mengalami perubahan hidup 180 derajat dalam waktu relatif singkat. Dari seorang penyiksa orang percaya, ia berubah menjadi orang yang sangat radikal dan berani dalam menyebarkan Injil keselamatan. Ia mengabdikan seluruh sisa hidupnya untuk pergi ke berbagai pelosok dalam menjalankan misinya bahkan hingga sampai di Asia kecil. Tidak ada pesawat waktu itu yang mampu mengantar orang dalam waktu singkat, tidak ada pula sarana internet yang memungkinkan orang bisa berhubungan tatap muka secara langsung meski berada jauh satu sama lain seperti chatting, teleconference dan sebagainya. Ditambah lagi ia justru masih harus bekerja demi membiayai keperluan pelayanannya. Bisa kita bayangkan bagaimana beratnya perjuangan Paulus. Cobalah letakkan diri kita pada posisinya, rasanya kita mungkin bisa stres, depresi dan sebagainya diterpa kelelahan dan tekanan dalam menghadapi hari demi hari. Atau mungkin saja kita merasa kecewa dan tawar hati karena apa yang dialami berbeda dengan yang diharapkan.

Tapi Paulus bukanlah orang bermental lemah. Ia tahu diatas segalanya anugerah keselamatan yang ia terima merupakan sebuah anugerah yang luar biasa besar sehingga ia ingin melihat banyak orang lagi bisa mengikuti jejaknya. Ia memang berkeliling menyampaikan berita keselamatan, tetapi yang jauh lebih penting adalah ia mencontohkan sendiri aplikasi kebenaran dalam hidup lewat cara hidupnya. Jelas ia benar-benar menghayati keselamatan yang diperolehnya dengan penuh rasa syukur dan mempergunakan seluruh sisa hidupnya secara penuh hanya untuk Tuhan.

Dalam menjalankan misinya Paulus mengalami banyak hal yang mungkin akan mudah membuat kita kecewa apabila berada di posisinya. Berat, bahkan sampai harus mengalami penyiksaan dan tindak-tindak kekerasan lain. Tetapi tidak demikian dengan Paulus. Lihatlah apa yang ia katakan: “Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah.” (1 Korintus 4:11-13a). Bukankah itu luar biasa? Lihatlah bagaimana contoh yang ia berikan dalam menghadapi tekanan dan siksaan. Ia tetap memberkati walau dimaki, ia tetap sabar walau dianiaya, ia tetap ramah meski difitnah. Itu bukan hanya sebatas pengajaran lewat perkataan saja melainkan ia tunjukkan langsung dengan perbuatan nyata. Dan semua orang bisa melihat itu secara langsung. Kita bisa melihat sendiri bagaimana karakter dan sikap Paulus dalam menghadapi berbagai hambatan dalam pelayanannya. Apa yang ia ajarkan semuanya telah dan terus ia lakukan sendiri dalam kehidupannya. Oleh sebab itu pantaslah jika Paulus berani menjadikan dirinya sebagai teladan seperti yang tertulis pada ayat bacaan hari ini.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: