Belajar dari Perwira Kapernaum (2)

Ayat bacaan: Matius 8:6
====================
“Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.”

perwira kapernaum, belas kasih, peduli sesama

Seberapa besar rasa belas kasih kita terhadap saudara-saudara kita yang tidak mampu atau yang sedang ditimpa kesulitan? Seringkali orang mudah merasa kasihan tapi sulit mengeluarkan tenaga maupun uang untuk membantu mereka. Mudah untuk merasa simpati, namun sulit untuk ber-empati. Beberapa kali saya mendengar alasan klasik, bagaimana bisa membantu kalau diri sendiri masih kekurangan? Tapi masalahnya, bagi manusia biasanya tidak pernah ada kata cukup. Batasan antara kurang dan cukup seringkali kabur dan sangat elastis, juga sangat subjektif. Sementara di sisi lain, ada orang yang benar-benar sedang berada dalam keadaan terjepit. Jangankan untuk kebutuhan sekunder, makan saja mungkin sudah sulit. Atau bagaimana dengan keluarga yang sedang kesulitan untuk membayar biaya perawatan rumah sakit misalnya, atau banyak contoh lain. Maukah kita mengulurkan tangan untuk membantu dengan ikhlas? Mudah-mudahan jawabannya ya. Menunjukkan rasa kasihan atau bersimpati memang baik, namun seringkali belum cukup mampu untuk meringankan beban orang lain secara nyata.

Hari ini saya ingin menyorot sisi lain dari kisah perwira Kapernaum yang menghadap Yesus. Jika kemarin kita melihat bagaimana keteguhan imannya yang mampu percaya secara penuh pada kuasa Tuhan, hari ini mari kita melihat belas kasih yang ia miliki. “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” (Matius 8:6). Perwira Kapernaum itu mendatangi Yesus bukan karena ia sendiri yang sakit, namun karena ia merasa kasihan kepada penderitaan hambanya yang sedang terbaring di rumah sakit. Sebagai seorang atasan seharusnya mudah bagi dia untuk mencampakkan bawahannya dan mencari orang baru. Namun lihatlah ia mau meluangkan waktu untuk repot-repot pergi bertemu Yesus. Dia tidak berhenti pada rasa kasihan saja, tapi ia melakukan sesuatu untuk menolong hambanya. He choosed to do some action instead of ended up feeling sorry. Dan itu membawa hasil nyata dengan kesembuhan hambanya. Ini sebuah sikap yang luar biasa yang bisa kita jadikan teladan. Hati si perwira Kapernaum ternyata penuh dengan belas kasih. Dan yang lebih penting lagi, hati penuh kasihnya disertai dengan sebuah perbuatan nyata.

Amsal Salomo menyebutkan “Siapa menghina sesamanya berbuat dosa, tetapi berbahagialah orang yang menaruh belas kasihan kepada orang yang menderita. (Amsal 14:21). Tuhan memperhitungkan segala belas kasih yang kita tunjukkan kepada sesama kita, walau sekecil apapun. Demikian pula yang dikatakan Yesus. “Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40). Di hari-hari sekarang ini kita sering menjumpai keadaan yang bertolak belakang dengan apa yang dilakukan sang perwira Kapernaum. Mudah bagi kita untuk melihat atasan yang betindak kasar, semena-mena dan merendahkan bawahannya, namun jarang bagi kita untuk melihat keadaan sebaliknya. Maka keteladanan yang ditunjukkan oleh perwira Kapernaum ini sungguh tepat untuk mengingatkan kita agar memiliki rasa belas kasih tanpa memandang jabatan, status atau tingkatan/strata sosial lainnya. Tuhan sendiri begitu besar belas kasihnya siapapun kita yang mengenal Dia. “Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka.” (Ibrani 8:12). Jika Tuhan saja penuh belas kasih, mengapa kita tidak? Selain itu, saling tolong menolong pun berarti kita memenuhi hukum Kristus. (Galatia 6:2). Sebagaimana Tuhan mengasihi kita, marilah kita juga mengasihi sesama kita, tanpa terkecuali, siapapun mereka, bukan hanya berhenti pada rasa kasihan tetapi terutama melalui tindakan.

Miliki belas kasih yang peduli terhadap penderitaan sesama kita dan sertailah dengan perbuatan nyata

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply