Belajar dari Perwira Kapernaum (1)

Ayat bacaan: Matius 8:13
===================
Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.

perwira kapernaum, iman

Pengalaman dari profesi ayah saya sebagai dokter sejak tahun 70an hingga kini menyisakan banyak kisah menarik. Dulu ia sering bercerita sambil tertawa bahwa ada pasien-pasien yang tidak mau membayar jika tidak disuntik dan diberi obat. Terutama suntik, katanya. Padahal tidak semua penyakit harus ditindaklanjuti dengan jarum, tapi itulah yang mereka harapkan ketika datang ke dokter. Tidak jarang, katanya, pasien langsung hanya bilang “terima kasih, dok..” dan langsung beranjak meninggalkan praktek tanpa bayar. Padahal menulis resep dan merekomendasikan obat tidak sembarangan. Butuh pendidikan bertahun-tahun untuk bisa seperti itu, namun tanpa jarum suntik rasanya kurang afdol bagi mereka. Lucu memang, tapi itu kejadian nyata dari pola pemikiran pasien di kota kelahiran saya sekian tahun yang lalu.

Kisah di atas sebenarnya mirip dengan pola pemikiran sebagian orang terhadap keimanan. Ketika kita atau salah seorang keluarga kita sedang sakit atau perlu didoakan, cukupkah kita minta didoakan jarak jauh? Ada banyak orang yang merasa kurang afdol jika hanya lewat jarak jauh. Kalau tidak datang langsung, tumpang tangan, dijamah, mukjizat rasanya tidak akan bisa terjadi. Kalau tidak pendeta yang top kesembuhan rasanya tidak mungkin terjadi. Kesembuhan atau mukjizat lainnya menjadi bukan berasal dari Tuhan, namun tergantung dari manusianya, pendetanya. Ini adalah pola pikir yang sudah menyimpang. Kita bisa belajar dari kisah seorang perwira Kapernaum yang mendatangi Yesus.

Mari kita baca Matius 8:5-13. Disana dikisahkan ketika Yesus memasuki Kapernaum, ada seorang perwira yang menjumpaiNya. Si perwira ternyata ingin minta tolong atas nama salah seorang pelayannya yang saat itu terbaring di rumah karena lumpuh. “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” (Matius 8:6). Mendengar hal itu, Yesus pun menjawab “Aku akan datang menyembuhkannya.” (ay 7). Bayangkan jika kita ada di posisi sang perwira Kapernaum, apa reaksi kita? Mungkin kita akan berteriak kegirangan, menarik tangan Yesus untuk secepatnya mendatangi rumah kita, menumpang tangan atas si pelayan, mendoakannya langsung di tempat bahkan mungkin menahan Yesus di sana hingga mukjizat terjadi. Tapi lihatlah apa reaksi perwira Kapernaum. “Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” (ay 8). Iman si perwira begitu luar biasa. Dia ternyata percaya bahwa Tuhan punya kuasa yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Mukjizat bukan terjadi semata-mata akibat perjumpaan langsung, jamahan, tumpang tangan atau apapun yang dilakukan orang, namun semua itu adalah berasal dari Tuhan. Artinya, kapanpun, dimanapun, dengan cara apapun, mukjizat itu bisa terjadi, karena sekali lagi, kuasa Tuhan berada di atas segalanya dan tidak terbatas oleh apapun. Kembali pada kisah perwira Kapernaum, Imannya membuat Yesus kagum. “Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.” (ay 13).

Lewat sepatah kata, Yesus sanggup menyembuhkan orang yang sedang tergeletak jauh disana. Sang Perwira percaya itu, dan itulah yang terjadi, sesuai apa yang ia percayai. Inilah bentuk iman yang mampu menyaksikan turunnya mukjizat Tuhan. Iman mampu membuat perbedaan. Penulis Ibrani menulis demikian: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1). Dan Yesus berkata: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yohanes 20:29b). Meski kita belum melihatnya, seperti halnya perwira Kapernaum yang saat itu masih jauh dari rumahnya dan belum mengetahui apakah hambanya sudah sembuh saat itu juga atau belum, namun imannya membuatnya yakin bahwa itu telah terjadi meski belum melihat langsung. Dan dalam ayat 13 tadi kita bisa membaca apa yang terjadi. Ya, hambanya memang sembuh saat itu juga! Iman yang teguh akan membuat kita bisa menerima berkat dan mukjizat Tuhan. Bukan atas kehebatan manusia, melainkan iman akan Kristus lah yang menyelamatkan. Ingatlah apa yang dikatakan Yesus: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (Markus 11:23-24). Percaya dalam iman yang teguh, maka kita akan menerima. Kemudian ingatlah bahwa semua itu haruslah sesuai dengan kehendakNya, bukan kehendak kita. “Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya.” (1 Yohanes 5:14-15). Itu janji Tuhan dan kita tahu janji Tuhan itu “ya dan amin”. Belajar dari iman perwira Kapernaum hari ini, milikilah iman yang sungguh-sungguh, dan percayalah sepenuhnya pada Tuhan. Jangan menggantungkan diri kepada sosok manusia yang terbatas tapi berpeganglah pada Tuhan yang punya kuasa diatas segalanya. Malam ini secara khusus saya mendoakan dari jauh dalam nama Yesus untuk teman-teman yang sedang mengalami sakit penyakit, permasalahan dan lain-lain yang membuat anda sulit bangkit dan menderita. Tuhan memberkati.

“”Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.”

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply