Belajar dari Penjual Nasi Goreng (1)

Ayat bacaan: Kolose 3:23================”Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”Ada sebuah warung nasi/mi goreng kecil-kecilan yang sering saya kunjungi. Warungnya kecil saja, tempat…

Ayat bacaan: Kolose 3:23
================
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Ada sebuah warung nasi/mi goreng kecil-kecilan yang sering saya kunjungi. Warungnya kecil saja, tempatnya pun biasa. Tetapi rasanya sangat lezat dan beda dari kebanyakan nasi goreng di tempat lain. Karena sudah sering disana, saya mengenal pemilik yang langsung terjun memasaknya sendiri dan suka ngobrol selagi ia menyiapkan pesanan. Apa yang berbeda adalah bukan karena ia sudah pengalaman dalam membuat nasi goreng sejak masa kecilnya, tapi karena ia sangat menikmati setiap sajian yang ia masak. Ia mengatakan bahwa memasak itu baginya seni, sama seperti pelukis yang sedang berkarya atau pemusik yang sedang bermain. Intinya ia melibatkan hati dan perasaan, menganggap segala yang ia masak sebagai sebuah karya seni, his masterpiece yang ia buat sebaik-baiknya. Itu membuat nasi goreng buatannya terasa sangat spesial.

Hanya warung nasi goreng kecil, didirikan oleh seorang bapak untuk mencari nafkah. Bagi kebanyakan orang meracik dan memasaknya dengan enak supaya orang kembali lagi kesana sudah lebih dari cukup. Tapi bapak yang satu ini memilih untuk meletakkan hatinya, memasak dengan perasaan dan menganggapnya sebuah karya seni. Ia menikmati setiap yang ia masak dan melakukan yang terbaik disana. Yang ia buat mengingatkan saya kepada sebuah kutipan dari Martin Luther King, Jr sekian puluh tahun yang lalu. Demikian kutipannya: “If a man is called to be a street sweeper, he should sweep streets even as Michelangelo painted, or Beethoven composed music, or Shakespeare wrote poetry. He should sweep streets so well that all the hosts of heaven and earth will pause to say, here lived a great street sweeper who did his job well.” 

Ini adalah sebuah himbauan yang sangat pantas untuk direnungkan, yaitu agar kita tidak menilai besar kecilnya pekerjaan terlalu sempit, lalu bisa menghargai pekerjaan itu seberapapun kecilnya menurut pandangan kita. Pada kenyatannya ada banyak orang yang menganggap tingkat keseriusan bekerja itu berbanding lurus dengan upah yang mereka dapatkan. Mereka cukup bekerja ala kadarnya atau bahkan asal-asalan apabila pekerjaan itu dinilai terlalu ringan atau mungkin juga karena upahnya dianggap terlalu kecil bagi mereka. Saya mengerti jika orang akan lebih termotivasi jika mereka mendapatkan upah yang memadai, apalagi jika disertai insentif yang menggiurkan. Itu akan membuat orang lebih bersemangat untuk memberi yang terbaik bukan? Dari kacamata dunia memandang, memang seperti itu. Di sisi lain, saya juga paham bahwa ada banyak pimpinan yang memanfaatkan karyawannya secara keterlaluan, menyuruh mereka melakukan lebih dari apa yang menjadi gugus tugas mereka. Karenanya saya tidak ingin pula serta merta menyalahkan orang yang mengukur tingkat keseriusannya sesuai apa yang mereka dapatkan. Apa yang ingin saya sampaikan hanyalah bagaimana prinsip Kerajaan dalam memandang hakekat sebuah pekerjaan dan bagaimana seharusnya kita menyikapinya.

Martin Luther King, Jr mengatakan bahwa jika seseorang memang dipanggil untuk menyapu jalan, mereka seharusnya bersyukur untuk itu dan mengerjakan sebaik-baiknya, sebaik dan seindah Michaelangelo melukis atau Beethoven mengkomposisi karyanya. Kita mungkin bingung, bagaimana mungkin tukang sapu bisa melakukan karya seni seindah kedua maestro legendaris sepanjang masa ini? Tentu itu sebuah perbandingan yang sangat jauh. Tapi sesungguhnya kalau direnungkan, kalimat ini sebenarnya mengingatkan kita bahwa apapun yang kita kerjakan bisa menjadi sangat istimewa dengan hasil yang luar biasa, seindah sebuah karya seni. hasilnya tentu bisa menjadi sangat baik dan sangat indah. Apapun itu yang kita kerjakan apabila kita dilakukan dengan sepenuh hati, seserius melakukannya seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia, hasilnya bisa sangat berbeda. Dan itulah yang sesungguhnya sudah diingatkan sejak lama kepada kita semua. Ayatnya berbunyi: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23).

Melakukan sesuatu pekerjaan, tugas, pelayanan atau panggilan seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Bagi sebagian orang mungkin kalimat ini terdengar agak aneh atau membingungkan. Karenanya ijinkan saya memberi contoh yang lebih mudah. Misalnya anda berprofesi sebagai penjahit dan pada suatu hari pemimpin negara datang ke rumah anda dan meminta anda untuk membuatkannya baju. Anda tentu akan bergegas mempergunakan segala yang terbaik yang anda miliki untuk menciptakan yang paling istimewa yang bisa anda lakukan bukan? Itu akan anda anggap sebuah kehormatan besar yang harus disikapi dengan sebaik mungkin. Itu baru pemimpin negara. Firman Tuhan di atas mengatakan bahwa sesungguhnya kita menganggap setiap hal yang kita lakukan atau kerjakan, tak peduli besar atau kecil haruslah diperbuat dengan segenap hati seperti anda sedang melakukannya untuk Tuhan sendiri. Bukan untuk orang yang menggaji, bukan untuk orang lain, bukan untuk manusia, tetapi untuk Tuhan. Kalau prinsip ini yang anda pegang, maka anda tidak lagi berhitung untung rugi disana, tidak lagi menggunakan pengetahuan, tenaga dan keahlian anda dengan ukuran besar-kecilnya pekerjaan menurut penilaian anda sendiri, tetapi anda akan memberi yang terbaik dari diri anda dalam setiap hal yang dikerjakan. Anda akan menganggap pekerjaan apapun sebagai sebuah karya seni yang membutuhkan torehan seorang maestro dimana andalah yang diberi waktu dan kesempatan untuk itu. Seperti itulah seharusnya kita menyikapi sebuah pekerjaan.

Pekerjaan apapun, selama pekerjaan itu baik dan benar, lakukanlah sungguh-sungguh seperti kita melakukannya untuk Tuhan. Tuhan sanggup memberkati pekerjaan anda dan memberi kelimpahan jika Dia berkenan atas usaha anda. Itu adalah sesuatu yang sifatnya pasti. Pekerjaan yang dianggap rendah sekalipun oleh manusia, akan berharga sangat tinggi untuk Tuhan, jika kita melakukannya untuk Tuhan, atas kasih dan rasa syukur kita pada penyertaanNya dalam hidup kita, dalam namaNya. Kita lihat ayat sebelum ayat bacaan hari ini: “Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.” (Kolose 3:22) Memang apa yang dinyatakan Paulus ditujukan untuk hamba-hamba mengenai ketaatan akan tuan mereka, namun apa yang dinyatakan sudah sepantasnya berlaku bagi setiap profesi atau pekerjaan. Semua itu akan sangat berarti di hadapanNya, dan merupakan persembahan yang harum jika kita mempersembahkannya untuk Tuhan.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply