Belajar Dari Kelahiran Musik Jazz

Ayat bacaan: Matius 6:10
====================
“datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”

jazz renungan harian

Hari ini saya diingatkan pada sejarah kelahiran musik jazz. Mendekati akhir abad ke 19, peta musik dunia didominasi oleh jenis musik blues, ragtime dan marching band. Sekitar tahun 1890 di New Orleans muncullah jenis musik baru yang menggabungkan elemen-elemen dari ketiga jenis aliran di atas, ditambah dengan pengaruh lain seperti dasar musik klasik, dan dibawakan dengan gaya yang berbeda. Musik ini diawali dari penumpahan kebebasan jiwa para budak berkulit hitam ketika menikmati saat-saat istirahat mereka. Ketika pola musik masa itu masih setia pada notasi dan partitur hasil ciptaan komposer yang dimainkan not per not sesuai komposisinya, aliran baru ini mengutamakan improvisasi. Apa yang tertera pada komposisi hanyalah menjadi referensi dasar, kerangka, atau garis batas yang dijadikan patokan bagi para musisi untuk berkreasi penuh dalam improvisasi mereka. Inilah yang menjadi dasar bagi kelahiran musik jazz. Tidak heran kalau para musisi jazz bisa bebas ber-jam session dadakan tanpa cacat seperti yang tampil pada panggung-panggung live seperti pada Java Jazz 2008 kemarin. Mereka tetap dipandu oleh salah satu musisi, bisa dirigen atau salah satu pemain yang diplot menjadi panduan, sehingga kebebasan berimprovisasi mereka tetap ada dalam kerangka harmoni dari keutuhan lagu. Si “pemimpin” inilah yang mengorganisir mereka, memberi kesempatan bagi masing-masing musisi untuk berkreasi bebas pada saat-saat tertentu, yang seringkali cuma diberikan lewat kode kerlingan mata, anggukan kepala, apabila sang “pemimpin” juga memainkan salah satu jenis musik pada saat yang sama. Dalam pola jazz, tidak ada musisi yang dominan dari awal hingga akhir, yang bisa bermain seenaknya. Bayangkan jika ada salah satu musisi yang merasa bahwa dirinya lebih hebat dan tampil seenaknya tanpa perduli dengan struktur lagu atau perintah sang “pemimpin”, bisa dipastikan lagu akan berantakan kehilangan segalanya.

Bentuk ini juga terlihat pada doa yang diajarkan Yesus Kristus sendiri. Bukan kehendak kita, tapi kehendak Tuhan-lah yang berlaku di bumi, seperti halnya di surga. Seringkali manusia merasa lebih hebat dari yang lain atau hidup egois menurut kepuasan pribadinya saja. Hal ini seperti sikap musisi yang merasa lebih hebat, menonjolkan kehebatan sendiri saja sehingga menyimpang dari aransemen dan pola dasar sebuah lagu, akhirnya merusak harmoni dari lagu tersebut. Tuhan Yesus mengajarkan sebuah fokus yang benar, bagaimana kekuasaan Allah, kerajaanNya dan kehendakNya seharusnya berlaku bagi kita semua, ciptaanNya yang dikasihi. Tuhan seperti seorang dirigen atau pemimpin ensembel/grup musik yang tengah memainkan sebuah mahakarya seorang Maestro, dan kita semua diminta untuk memainkan bagian-bagian kita mengikuti aransemenNya. Segala kehendak bebas yang diberikan Tuhan pada kita seperti kebebasan berimprovisasi yang tetap ada dalam kerangka dan pola lagu yang benar. Semua itu bersatu dengan harmonis bagi kemuliaan Allah.

Hidup berpusat pada diri sendiri dan merasa lebih hebat dari orang lain akan menghancurkan keharmonisan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Comment