Belajar dari Kegagalan Yudas


YUDAS adalah salah satu rasul yang dipilih Yesus. Selama tiga tahun, hari-harinya dilalui bersama Yesus yang berkeliling memberikan pelayanan, pengajaran dan pewartaan kerajaan Allah. Namun demi tiga puluh keping perak, Yudas tega mengkhianatiNya.


Bagaimana dengan diri kita? Apakah kita adalah ‘Yudas masa kini’ yang rela menjual Yesus demi mencapai kesuksesan, meraih popularitas dan mendapatkan harta yang melimpah?


Sadari bahwa kelekatan terhadap materi akan mendorong kita untuk menghalalkan segala cara demi meraih apapun yang kita dambakan. Keterpesonaan akan gemerlapnya kenikmatan duniawi membuat seluruh pikiran kita lumpuh dan hati kita buta. Akibatnya kita memilih untuk membelakangi Yesus dan mengabaikan teguranNya.


Belajarlah untuk menguasai diri dan mengendalikan hawa nafsu. Tumbuhkan rasa syukur atas semua berkat dan anugerah yang telah dilimpahkanNya kepada kita. Dan saat kita gagal dan jatuh ke dalam dosa, janganlah larut dalam keputusasaan, karena hanya akan menyeret kita ke dalam kebinasaan kekal. Datanglah ke hadapanNya dengan kerendahan hati dan memohon pengampunan daripadaNya, Ia pasti dengan sukacita menyambut setiap orang yang bertobat.


Mari berakar kepada Dia agar kita selalu memperoleh bimbingan dan kekuatan daripadaNya untuk menangkis setiap serangan iblis, dengan demikian kita dapat menjaga kesetiaan kita kepadaNya sampai akhir.


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Insinyur elektro alumnus ITB dan umat Paroki St. Yakobus, Kelapa Gading, Jakarta Utara; bergiat ‘merangkai’ kata-kata renungan yang menjadi ‘kata hati’ untuk satu hari (thoughts of the day); Anggota Komunitas Meditasi Katolik Ancilla Domini St. Yakobus.

Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply