Belajar Dari Ibu Penjual Jamu

Ayat bacaan: Matius 28:19-20a
=============================
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.”

bersikap ramah, kasih, mengasihi

Kemarin saya sudah bercerita tentang mobil saya yang tiba-tiba mogok. Pagi hari tadi saya pergi ke bengkel, dan menunggu disana selama berjam-jam. Siang harinya istri saya datang menemani. Ketika sedang duduk, datanglah seorang ibu penjual jamu menghampiri istri saya, menawarkan jamu terbaru. Istri saya menolak, tapi si ibu itu tidak patah semangat! Ia terus ngobrol menggambarkan khasiat jamu dagangannya, dan ketika saya mendekati mereka, saya pun ditawari berbagai macam produknya. Ibu penjual jamu itu sangat ramah, keramahannya tidak seperti dibuat-buat, dengan senyum lebarnya ia terus menerangkan berbagai jamunya satu persatu. Bagaimana selanjutnya? Saya pun membeli segelas telur ayam kampung dicampur madu, yang menurut si ibu menghilangkan pegal-pegal dan baik untuk kelelahan. Mungkin dia tahu saya sudah dari pagi “terdampar” di bengkel. Apakah ibu itu bohong? Tidak. Segelas campuran telur dan madu itu membuat saya menjadi segar hingga malam, dan punya tenaga untuk mengangkat ember demi ember untuk mengisi bak mandi saya, karena kami belum juga mendapatkan pasokan air hingga saat ini. Saya akan melewatkan kesempatan untuk sesuatu yang menyehatkan jika ibu tadi tidak menawarkan (bukan memaksakan) dengan ramah dan penuh senyum canda.

Dan saya bersyukur bahwa Tuhan menuntun saya ke sebuah bengkel hingga bertemu si ibu tadi. Dari dia, saya pun diingatkan dan belajar akan satu hal. Ini sebuah analogi dari bagaimana kita sebagai murid Yesus harus bersikap menghadapi dunia. Ayat bacaan hari ini menulis bahwa Yesus meminta kita para muridNya untuk pergi dan menjadikan semua bangsa muridNya. Mengapa demikian? Karena kepada Yesus telah diberikan segala kuasa, baik di bumi maupun di surga. (Matius 28:18).Tidak ada orang yang bisa datang pada Tuhan tanpa melalui Yesus (Yohanes 14:6). Yesus adalah pintu, dimana siapapun yang masuk melalui Dia, maka orang itu akan selamat dan mempunyai hidup lengkap dengan segala kelimpahan. (Yohanes 10:9-10). Tuhan Yesus selalu merindukan domba-dombaNya yang hilang dan menginginkan mereka semua kembali padaNya, dan karenanya akan diselamatkan dari kematian yang kekal. “Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Matius 9:13). Kita sebagai murid-muridNya diutus untuk mewartakan kabar gembira, menyelamatkan banyak jiwa untuk mendapatkan keselamatan dalam kehidupan kekal yang penuh damai sejahtera.

Bagaimana seharusnya sikap kita untuk menjadi murid Yesus yang benar? Kita diminta untuk memiliki sikap-sikap baik kepada orang lain sebagai berikut: “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” (Kolose 3:12-13). Semua kualitas baik di atas haruslah didasarkan oleh kasih. “Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” (ay 14). Kasih menjadi dasar kekristenan yang seharusnya kita miliki jika terang Kristus ada dalam diri kita. Kita harus mengasihi siapapun di dunia ini tanpa pandang bulu. Kita diminta untuk saling melayani lewat kasih, dan tidak menyalahgunakan kemerdekaan yang berasal dari Tuhan malah untuk berbuat dosa. “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” (Galatia 5:13). Kita harus selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang (Titus 3:2), dan dengan demikian orang akan mengenal Yesus. Lewat siapa lagi terang Kristus akan memancar dan memantul kepada orang lain jika tidak melalui kita?

Jagalah agar jangan sampai kita menjadi batu sandungan. Jangan diskriminatif, memasang pagar tinggi terhadap saudara-saudari kita yang lain, terutama yang belum mengenal Kristus. Jangan pasang double, triple atau multiply standard, tetapi perlakukanlah semua orang dengan baik berdasarkan kasih, seperti halnya Kristus mengasihi kita. Ibu penjual jamu gendong diatas menawarkan dagangannya dengan kelemahlembutan, kesabaran dan keramahan, dan saya mendapat manfaatnya untuk menjaga stamina saya yang terkuras habis beberapa hari belakangan ini. Kita pun bisa belajar dari ibu penjual jamu untuk bersikap sama terhadap orang yang belum mengenal Tuhan. Sebagai murid-murid Yesus, kita seharusnya memiliki kerinduan yang sama dengan Yesus agar lebih banyak lagi jiwa terhilang bisa diselamatkan. Bukan lewat kekerasan, lewat caci maki, penghinaan atau pemaksaan, karena semua itu tidaklah ada gunanya dan tidak ada untungnya baik bagi kita maupun bagi saudara-saudara kita. Tidak ada jalan lain untuk memperkenalkan pribadi Yesus yang sesungguhnya dan segala berkat, hidup yang kekal dan pintu keselamatan menuju Bapa tanpa segala sesuatu sikap baik yang berdasar pada kasih.

Kenalkan Kristus dengan bersikap ramah dan penuh kasih pada sesama

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply