Beda Generasi, Beda Selera

Ayat bacaan: Ezra 3:12
=================
“Tetapi banyak di antara para imam, orang-orang Lewi dan kepala-kepala kaum keluarga, orang tua-tua yang pernah melihat rumah yang dahulu, menangis dengan suara nyaring, ketika perletakan dasar rumah ini dilakukan di depan mata mereka, sedang banyak orang bersorak-sorai dengan suara nyaring karena kegirangan.”

pujian penyembahan renungan harian


Lucu rasanya jika perbedaan sekitar satu dasawarsa saja bisa membuat selera musik menjadi beda.Ini baru bicara soal perbedaan selera musik dari generasi yang berbeda, karena faktor lain seperti pengaruh budaya, lingkungan dan lain-lain bisa berpengaruh besar terhadap selera musik seseorang. Saya adalah seorang penggemar musik jazz, mulai dari swing, bebop, bossa sampai jazz modern seperti acid jazz sekelas Incognito dan lain-lain. Sementara istri saya adalah penggemar RnB. Ada sih beberapa lagu yang bisa saya nikmati dari koleksi istri saya, juga sebaliknya koleksi jazz saya pun ada yang disukai istri saya. Tapi tetap pada dasarnya kita beda selera. Itu di dunia sekuler. Di wilayah rohani pun orang bisa memiliki selera yang berbeda. Satu hal yang pasti, sulit bagi kita untuk hidup tanpa musik, termasuk dalam urusan memuji dan menyembah Tuhan.

Gambaran di atas mengingatkan saya pada kisah ketika Zerubabel mulai membangun lagi mezbah Allah setelah bangsa Israel kembali dari tempat pembuangan di Babel. Mezbah dibangun kembali menggantikan mezbah buatan Salomo yang telah dihancurkan oleh tentara Kasdim sekian tahun sebelumnya (2 Raja Raja 25:1-10). Ketika fondasi mulai diletakkan, terjadilah hal yang kontradiktif diantara bangsa Israel. Generasi muda bersorak sorai dan memuji-muji Tuhan, sementara generasi tua menangis dengan suara yang tidak kalah kerasnya. Keduanya sama-sama nyaring, sehingga pada waktu itu sulit membedakan mana sorak sorai kegirangan dan mana yang merupakan tangisan. Dari mana dua reaksi ini bisa muncul? Generasi muda belum pernah melihat mezbah buatan Salomo yang telah dihancurkan itu, sehingga mereka bersuka ria ketika melihat mezbah mulai dibangun. Sementara generasi tua membandingkannya dengan mezbah buatan Salomo yang mewah, maka mereka pun bersedih dan menangis.

Hati yang sama buat Tuhan, dua reaksi berbeda. Hal seperti ini bisa terjadi pada dua generasi berbeda, atau faktor lainnya. Dalam memberikan pujian dan penyembahan kita yang terbaik buat kemuliaan Tuhan pun tentunya orang bisa memiliki cara, jenis penyampaian atau kemasan yang berbeda. Jangan buru-buru menghakimi teman-teman yang memakai aliran musik rock dalam memuji nama Tuhan, memberi label negatif pada mereka, dan sebaliknya jangan juga merendahkan teman-teman yang memanjatkan puji-pujian lewat hymne. Yang penting adalah hati yang menyembah, segalanya keluar dari hati yang tulus hanya untuk Tuhan saja, maka itu akan berkenan bagi Allah. Allah melihat hati kita dan tahu apakah yang kita persembahkan adalah semata-mata karena mengasihi Dia. Dia adalah Allah bagi kita semua, apapun selera musik kita, apapun alat musik yang kita pakai, nyanyi, nge-rap, nge-rock dan lain-lain. Mari kita bersyukur padaNya dengan hati bersukacita, meskipun lewat ekspresi yang berbeda.

Ada banyak jalan menuju Roma, demikianlah banyaknya cara untuk memuji Tuhan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Comment