Ayat bacaan: Mazmur 127:4
======================
“Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.”

Beda generasi, beda gaya. Beda cara pandang, beda pemikiran, beda selera dan beda-beda lainnya. Itu sudah menjadi hal yang lumrah seiring perkembangan atau perubahan jaman. Perbedaan ini tidak saja bisa menyebabkan munculnya masalah antara generasi berbeda tapi juga bisa memicu timbulnya konflik dalam keluarga, terutama antara orang tua dan anak. Orang tua tidak bisa menerima gaya hidup generasi yang lebih muda, mereka tetap berpegang kuat kepada tradisi mereka, sementara anak-anak merasa orang tua mereka terlalu kolot/kuno dan tidak mau mengerti mereka. Orang tua dianggap tidak bisa mengerti, sementara anak dianggap tidak mau menurut. Selalu ada perbedaan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan yang sering terjadi adalah generasi yang lebih muda akan menentang generasi sebelumnya. Jika dalam hal-hal kecil tentu masalah yang timbul dari perbedaan generasi ini tidak akan terlalu besar. Tetapi kalau terus menerus terjadi dan tidak dipikirkan, maka perbedaan ini bisa menyebabkan munculnya masalah yang serius yang melukai hubungan orang tua dan anak. Apalagi kalau menyangkut hal-hal mendasar atau prinsipil bagi salah satu/kedua belah pihak. Orang tua bersikap otoriter, anak bersikap seenaknya. Kapan bisa ada titik temunya kalau terus menerus seperti ini? Di satu sisi masalah seperti ini bisa timbul dari kekeliruan cara pandang orang tua terhadap anak. Karena mereka yang melahirkan, mereka menganggap mereka punya hak mutlak untuk mengatur anak sesuka hati mereka. Tidak jarang anak-anak dipaksa untuk memilih pendidikan bukan karena melihat minat dan bakat mereka tetapi semata-mata karena ikut orang tua atau malah karena dahulu orang tuanya gagal mencapainya. Ini ditimpakan kepada anak yang belum tentu tertarik atas pilihan orang tuanya. Di sisi lain, ada pula anak-anak yang sama sekali tidak mau mendengar masukan orang tuanya. Mereka lebih suka mendengar teman ketimbang nasihat orang tua. Kalau sudah begini, sulit bagi kita untuk mencari titik temu sehingga kedua kubu berhenti saling melukai satu sama lain.

Di dalam nyanyian ziarah Salomo yang dicatat di Mazmur berisi ayat yang menengahi hal ini. Bunyinya: “Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah.” (Mazmur 127:3). Dalam versi Inggrisnya anak-anak lelaki ini dikatakan sebagai “children”, jadi ayat ini berlaku baik bagi anak laki-laki maupun perempuan. Firman Tuhan mengingatkan bahwa anak bukanlah semata-mata hasil dari hubungan antara suami dengan istri, tetapi sesungguhnya merupakan pemberian Allah. Anak adalah anugerah luar biasa yang dititipkan kepada para orang tua. Dititipkan pada orang tua, pemiliknya tetaplah Allah sendiri. Bagaimana anak ini nantinya terbentuk merupakan hasil dari pertanggungjawaban dari orang yang dititipkan (orang tua) kepada sang Pemilik (Tuhan).

Jika kita melanjutkan pada ayat selanjutnya, kita akan menemukan kalimat berikut: “Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.” (ay 4). Pada ayat ini anak-anak diibaratkan sebagai anak-anak panah dan orang tua diibaratkan sebagai pahlawan, yang siap menembakkan anak-anak panah ini ke tempat yang tepat. Tidak ada pahlawan yang selalu ingin panahnya melenceng dari target. Apa yang membuat anak panah bisa meluncur tepat sasaran? Jelas, dibutuhkan keahlian dari sang pemanah. Secara teknis, busur yang tidak elastis dan kuat tidak akan bisa mengarahkan anak panah dengan baik. Di sisi lain, anak panah yang berat dan berekor kaku juga akan melenceng dari arah yang benar, meski busurnya baik. Dengan kata lain, untuk mencapai sasaran yang benar, keduanya harus baik.

Ayat ini menerangkan dengan jelas hubungan atau sinergi antara pemanah yang memegang busur dan mengarahkan dengan anak panah yang ditembakkan. Busur yang elastis mewakili sikap para orang tua yang, alangkah sangat bijak, jangan terlalu kaku dan mau mendengar/menimbang keluh kesah dan pendapat anaknya. Benar, orang tua pasti jauh lebih berpengalaman, lebih banyak makan asam garam, tetapi tidak ada salahnya pula untuk mengerti generasi berbeda dan mau lebih beradaptasi pada perkembangan jaman dan lebih mengenal cara hidup pada generasi dimana anak-anak mereka bertumbuh. Jalannya hubungan jangan sampai hanya satu arah. Anak tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan-keputusan yang menyangkut masa depan mereka. Terlalu kaku, mengatur, memerintah dan melarang secara otoriter sehingga lupa menyiapkan busur yang kuat sebagai tumpuan dan sumber yang mengatur kemana anak-anak panah ini nantinya melesat. Di sisi lain, anak-anak pun seringkali terlalu cepat menentang orang tuanya. Anak-anak yang tidak mendengar dan hanya mau berbuat sesuka hatinya seolah anak-anak panah yang berat, kaku sehingga sulit diarahkan ke target yang benar. Salah satu saja tidak berfungsi baik akan membelokkan arah ke tempat yang salah, apalagi jika dua-duanya tidak berfungsi.

Ada ayat lainnya yang berkata: “Seorang raja tidak akan selamat oleh besarnya kuasa; seorang pahlawan tidak akan tertolong oleh besarnya kekuatan.” (Mazmur 33:16). Seorang raja tidak akan selamat jika hanya bergantung pada besarnya kuasa mereka sendiri. Kalau dari sisi pahlawan, seorang pahlawan tidaklah tergantung dari besarnya kekuatan mereka sendiri. Orang tua tidak akan bisa menjadi pahlawan jika mereka mengandalkan kekuasaan dan kekuatan mereka semata dalam menentukan kelanjutan masa depan anak-anaknya. Di sisi lain, anak pun hendaknya jangan menjadi pribadi pembangkang. Terlalu cepat menentang tanpa pikir panjang juga salah. Karena ada kalanya anak harus belajar dari pengalaman dan kebijaksanaan orang tua mereka. Kalau ini masih belum juga membuat keduanya menemukan titik temu, ingatlah bahwa apa yang bisa membuat segalanya baik hanyalah jika kedua pihak, baik orang tua maupun anak mendasarkan segala sesuatunya kepada Tuhan. “Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya, untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.” (ay 18-19). Jika kita melihat dari pribadi Kristus sendiri, lihatlah bagaimana bentuk doa Kristus. “datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” (Matius 6:10). Lalu, “…..tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (26:39). Bukan kehendak kita, bukan kehendak orang tua, bukan kehendak anak, tapi yang terbaik adalah seperti yang Tuhan kehendaki. Bertanya kepada Tuhan dan menuruti apa yang menjadi kehendakNya tidak akan bisa kita lakukan apabila kita tidak membangun hubungan yang intim denganNya.

Belajar dari hal ini, yang terbaik untuk dilakukan adalah orang tua dan anak duduk bersama-sama, saling terbuka dan mendengar pendapat masing-masing. Beri kesempatan masing-masing untuk mengutarakan pandangannya. Dan yang lebih penting lagi, berdoalah bersama. Biarlah Tuhan yang berbicara dan memberitahukan apa yang terbaik. Tidak saja pada saat ada yang harus disikapi bersama tetapi juga teruslah membangun hubungan dengan Tuhan secara bersama-sama agar bisa terhindar dari konflik-konflik baik besar atau kecil yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Bersikap otoriter tidak akan pernah mendatangkan kebaikan. Di sisi lain, anak-anak hendaklah menghormati orang tuanya. “Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.” (Ulangan 5:16). Jangan terburu-buru membangkang. Dengarkanlah terlebih dahulu, pertimbangkan, pikir dengan baik, jangan sia-siakan suara mereka. “Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu” (Amsal 1:8). Generasi boleh berbeda, sifat dan gaya boleh berbeda, tapi dalam Tuhan kita semua satu dan tetap sama. Orang tua, jadilah busur yang kuat dan elastis agar anak-anak panah anda bisa mencapai sasaran yang tepat. Fleksibellah kepada anak-anak anda, dengarkan kebutuhan, keinginan, cita-cita dan impian mereka. Anak-anak, jadilah anak-anak panah yang stabil, jangan mengeraskan hati sehingga sulit diarahkan. Bersatulah dalam doa, dengarlah apa kata Tuhan, karena itulah yang terbaik.

Pemanah, busur dan anak panah harus sama-sama baik agar bisa tepat sasaran

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.