Bearing the Unbearable Pain

Ayat bacaan: Mazmur 23:1===================”THE LORD is my Shepherd, I shall not lack.”Dalam menjalani hidup akan ada saat-saat dimana kita harus siap berhadapan dengan rasa sakit yang sepertinya tidak terperikan seperti saat kehilangan orang yang disa…

Ayat bacaan: Mazmur 23:1
===================
“THE LORD is my Shepherd, I shall not lack.”

Dalam menjalani hidup akan ada saat-saat dimana kita harus siap berhadapan dengan rasa sakit yang sepertinya tidak terperikan seperti saat kehilangan orang yang disayangi, putus cinta, kebangkrutan, vonis atas penyakit dan berbagai masalah besar lainnya. The unbearable pain, demikian bahasa Inggrisnya, bisa membuat kita depresi, trauma, sulit bangkit/maju dan tidak sedikit pula yang memilih mengakhiri hidup karena merasa tidak sanggup menanggung beban derita. Saya pernah mengalami hal tersebut beberapa kali, misalnya saat saya harus rela melepas ibu saya dipanggil menghadapNya di saat saya merasa masih sangat membutuhkan kehadirannya. Hubungan saya dengan ibu saya memang sangat dekat sejak kecil. Beliau memilih meninggalkan profesinya untuk membimbing saya dan adik saya di rumah hingga dirasa cukup untuk berdikari. Saat saya selesai SMA, barulah ia kembali melanjutkan profesinya. Itupun dia tidak pernah terlalu sibuk buat anak-anaknya dan selalu mempergunakan waktu-waktu yang ada untuk bersama anak-anaknya. Maka saat ia divonis kanker, dunia terasa runtuh. Ia sempat koma selama 3 bulan dan tidak lagi bisa berkomunikasi. Satu-satunya yang membuat saya yakin ia mendengar cerita-cerita saya adalah matanya yang meski tertutup tapi terlihat berkedip saat saya minta. Kalau mengandalkan kekuatan saya sebagai manusia, saya jelas tidak sanggup. Tapi di saat itulah saya kemudian banyak mengalami pengalaman supranatural bersama Tuhan yang kemudian membuat saya bertobat dan lahir baru. All started from that point. Saya dipersiapkan Tuhan untuk bisa menerima itu, bahkan Dia memberi tahu kapan ibu saya Dia ambil beberapa jam sebelumnya. Hati saya dikuatkan, ditabahkan, dan saya bisa mengantarkan ibu saya untuk pulang ke rumah Bapa lewat doa. Pengalaman itu membuat saya sadar akan dua hal. Satu, tidak ada satupun orang yang selamanya hidup. Setiap saat siapapun akan dipanggil Tuhan dan kita yang ditinggalkan harus siap, suka tidak suka, mau tidak mau. Dua, bahwa meski rasanya tetap sakit, tapi besar kasih Tuhan membuatNya peduli kepada rasa sakit kita. Dia akan menguatkan, meneguhkan dan memberi penghiburan. Itu saya rasakan langsung. Hingga hari ini saya masih merasa kehilangan, tetapi saya tahu beliau saat ini bahagia di sisi Bapa Surgawi. Ada ayat yang sangat berkesan buat saya dan selalu menguatkan saya terutama dalam menghadapi berbagai masalah berat yang uniknya saya dapat belakangan. “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” “The Lord is my Sheperd, I shall not lack.” (Mazmur 23:1).

Ayat ini bukan ayat yang jarang di dengar, bahkan sering dipakai untuk menghibur mereka yang kehilangan. Kita sudah tahu dan kenal, tetapi seberapa jauh kita menghidupinya dalam keseharian kita? Seberapa jauh kita mampu mengimaninya ketika kita mengalami kepedihan atau penderitaan? Daud menyatakannya dengan singkat tetapi padat dengan makna. Ia mengatakan, meski apapun yang terjadi, no matter what, come what may, ia tidak akan pernah kekurangan, he shall not lack. Apakah karena kekuatannya, kehebatannya, kemampuannya dan ketahanannya? Sama sekali tidak. Daud tahu bahwa kekuatannya sebagai manusia sangat terbatas. Pada situasi-situasi tertentu kemampuan manusia yang sehebat apapun tidak akan mampu lagi berbuat apa-apa. Daud tahu adalah percuma untuk menggantungkan hidup kepada kemampuannya sendiri. Bahkan dengan fakta bahwa ia adalah seorang raja Israel dengan kekuasaan yang besar. Daud bisa berkata bahwa ia tak akan kekurangan bukan karena kekuatannya sendiri, tapi semata-mata karena menyadari keberadaan Tuhan sebagai Gembala yang baik atas hidupnya. Tidak lebih dan tidak kurang.

Jika anda membaca ayat-ayat selanjutnya dalam Mazmur pasal 23 ini, anda akan merasakan kebesaran Tuhan dengan peranNya sebagai Gembala yang baik dalam hidup anda. “Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” (ay 2-3). Terasa begitu nyaman dan melegakan bukan? Untuk diketahui, ayat-ayat ini hadir dari Daud yang mengalami begitu banyak masalah dalam hidupnya. Berkali-kali ia menghadapi ancaman, dikejar-kejar dan tersisih dari bangsanya sendiri, berkali-kali ia menghadapi situasi yang mengancam nyawanya, tetapi ia bisa meletakkan dan mempercayakan seluruh hidupnya ke dalam pemeliharaan Tuhan. Dan ayat ini lahir bukanlah disaat ia tengah bersenang-senang. Tetapi imannya cukup untuk memberi rasa tenang karena percaya kepada Tuhan sebagai Gembala yang baik bagi dirinya. “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” (ay 4). Baik dalam masa tenang maupun sukar, Daud menyadari bahwa Tuhan akan selalu ada bersamanya, sehingga ia  bisa berkata: “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.” (ay 6). Mengagumkan bukan? Mungkin mudah bagi kita untuk mengatakan hal ini di saat kita tengah berada dalam kondisi yang baik, tetapi seberapa jauh kita masih bisa mengimaninya ketika masalah tengah bertubi-tubi menghampiri kita?

Yesus sendiri berkata: “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yohanes 10:11). Ayat sebelumnya berkata: “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (ay 10). Seperti itulah sosok Gembala yang selalu menaungi kita. Masalah bisa saja datang melanda hidup kita, tetapi Tuhan menjanjikan kita untuk tetap memiliki hidup. Bukan sekedar hidup tetapi dalam segala kelimpahan. Kelimpahan? Ya. Meskipun masalah hadir dalam hidup kita, tetapi Tuhan menjanjikan penyertaanNya yang sanggup memberi kekuatan, memberi kelegaan, memberi perlindungan, memberi harapan, dan itu semua Dia sediakan bukan secukupnya melainkan secara berkelimpahan. Bapak Pendeta itu merasakan bagaimana Tuhan sanggup memberinya kekuatan pada masa-masa sulit, dan ia menyadari bahwa tidak ada alasan baginya untuk kecewa kepada Tuhan dan meninggalkanNya. Tidak. Dia tetap setia melayani Tuhan, meski belahan jiwanya telah dipanggil terlebih dahulu untuk masuk ke dalam KerajaanNya yang penuh damai sukacita, tanpa ratap tangis penderitaan lagi seperti yang kerap kita alami di dunia ini.

Ketika kita mengalami situasi penuh penderitaan, mampukah kita untuk terus percaya bahwa kita tidak akan pernah kekurangan kekuatan? Percayakah kita bahwa penyertaan Tuhan akan selalu memberi peneguhan dan kelegaan dalam memikul beban berat? Ketika jiwa kita serasa dicabik-cabik oleh penderitaan, yakinkah kita bahwa kita tidak akan pernah kekurangan sukacita? Ketika ada peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar kendali kita, mampukah kita mengandalkan Tuhan yang tidak terbatas atau kita masih sibuk menggantungkan diri kita kepada kekuatan diri sendiri atau manusia lain yang terbatas? Dalam situasi sesulit apapun, ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita dan sangat-sangat peduli dengan penderitaan kita. Dia siap membantu dan menguatkan kita serta memberi kelegaan. Percayalah bahwa Tuhan tidak akan tinggal diam ketika kita benar-benar membutuhkan jamahanNya. Dengan menyadari itu, kita pun bisa berkata seperti Daud, Tuhan adalah gembalku, takkan kekurangan Aku.

Cling to God in bearing the unbearable pain

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply