Bayi Dibuang

14 Juli - RmT

“Tetapi ia tidak dapat menyembunyikannya lebih lama lagi, sebab itu diambilnya sebuah peti pandan, dipakalnya dengan gala-gala dan ter, diletakkannya bayi itu di dalamnya dan ditaruhnya peti itu di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil.” (Kel 2, 3)

SAYA mencoba menulis ‘bayi dibuang’ di dalam google dan mendapatkan sekian banyak berita tentang pembuangan bayi di banyak tempat.

Ada bayi yang dibuang di sungai, selokan, di pantai, di sumur, ditaruh di depan rumah atau panti asuhan. Ada juga bayi yang ditaruh dalam tas, dibungkus plastik kresek dan digantung di spion mobil, dibungkus kain. Ada bayi yang sudah mati dan membusuk, ada pula bayi yang masih bisa ditolong dan diselamatkan. Banyak bayi dibuang karena kehadiran mereka memang tidak dikehendaki oleh orang tuanya; atau karena hasil perselingkuhan atau kecelakaan di dalam hubungan pria dan wanita. Pembuangan bayi merupakan kenyataan yang semakin banyak terjadi. Kasus pembuangan bayi semakin lama, semakin meningkat jumlahnya. Bayi adalah pribadi yang paling lemah, yang mesti harus dijaga, dilindungi dan dikasihi. Maka pembuangan bayi merupakan hal yang jahat.

Pembuangan bayi rupanya tidak hanya terjadi pada jaman ini. Musa, pada saat masih bayi, juga pernah dibuang oleh ibunya. Pembuangan atau pembunuhan bayi terjadi karena kebijakan penguasa untuk menekan orang Ibrani, agar mereka tidak berkembang banyak. Kisah Musa memberikan pesan bahwa orang yang dibuang oleh sesamanya, akhirnya dipergunakan Allah untuk menyelamatkan orang lain.

Yesus pun merupakan batu yang dibuang, disingkirkan dan dibunuh. Namun Dialah yang akhirnya menyelamatkan semua orang yang percaya. Orang-orang yang dibuang, disingkirkan, dianiaya atau dimarginalkan bisa dipergunakan oleh Tuhan untuk melaksanakan kehendak-Nya. Mereka bisa menjadi penyalur berkat dan pembawa selamat bagi orang lain.

Teman-teman selamat malam dan selamat beristirahat. Berkah Dalem.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply