Monday, 24 November 2014

Bartimeus dan Imannya

Ayat bacaan: Markus 10:52
=====================
“Lalu kata Yesus kepadanya: “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.”

Suatu kali saya mengalami sebuah pengalaman tidak menyenangkan ketika sedang mengemudi. Ketika hendak mencari rumah seorang teman saya masuk ke gang yang salah. Harusnya saya berhenti di depan dan jalan kaki saja ke dalam, tapi saya terlanjur belok dan masuk ke dalam gang yang cukup sempit itu. Saya terus masuk karena hendak mencari tempat putaran, tetapi tidak kunjung menemukannya. Dalam keadaan sulit itu, ternyata saya tidak awas sehingga salah satu ban mobil malah terperosok masuk ke dalam lubang yang cukup dalam. Saya harus mencari bantuan dari orang disekitar sana untuk membantu mengangkat ban itu keluar dari lobang. Dan setelahnya, saya harus dengan perlahan mundur ke belakang agar bisa keluar dari gang itu. Pengalaman ini membuat saya berpikir bahwa ada kalanya dalam hidup ini kita pun bertemu dengan situasi-situasi dimana kita serasa terjebak dalam keadaan genting yang sepertinya tidak memberi peluang bagi kita untuk melepaskan diri. Ada banyak kejadian yang membuat kita bagai terbentur tembok buntu dimana jalan keluar seolah tidak ada lagi sama sekali, sehingga kita pun bisa berpikir bahwa itulah akhir dari segala-galanya. Ketika saya masuk ke gang yang salah itu, saya sempat kuatir bagaimana saya bisa keluar lagi kalau situasinya sudah seperti ini. Apalagi setelah ban depan terperosok ke dalam lubang. Lengkap sudah. Tapi pada akhirnya saya bisa kembali keluar dari situasi sulit itu, dan hidup kita pun sesungguhnya demikian. Meski dunia mungkin sudah menyerah, atau secara logika tidak ada satupun harapan yang terlihat, tapi kita harus ingat bahwa diatas segalanya kita punya Tuhan yang sangat peduli kepada kita, yang kuasaNya sama sekali tidak terbatas.

Mari kita lihat sesuatu yang terjadi pada diri seorang pengemis buta bernama Bartimeus, yang membawa pemulihan besar dalam hidupnya. Kisah ini tercatat dalam Markus 10:46-52. Bartimeus adalah seorang tuna netra. Karena kondisinya itu ia tidak bisa bekerja, sehingga ia terpaksa mengemis untuk bertahan hidup. Pada suatu hari Yesus lewat tepat didekatnya. “Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” (Markus 10:47). Bartimeus itu cuma pengemis buta, yang bagi masyarakat pada masa itu dianggap terlalu rendah sehingga tidak pantas untuk berteriak-teriak memanggil Yesus. Merekapun kemudian memarahinya. “Banyak orang menegornya supaya ia diam. Kasihan benar Bartimeus. Tapi untunglah ia bukan tipe orang yang gampang putus asa. “Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” (ay 48). Bukannya berhenti karena dimarahi, Bartimeus malah mengencangkan suaranya. Ia sadar bahwa itu kesempatan baginya. Imannya membuatnya tidak menyerah. Ia tahu bahwa Yesus adalah jawaban atas permasalahan yang ia alami. Logika, pendapat orang dan lain-lain semua ia kesampingkan. Ia mengencangkan imannya lebih dari sebelumnya. Maka Bartimeus pun terus memanggil Yesus. Ternyata teriakannya itu menggetarkan dan menggerakkan Yesus untuk bereaksi. Yesus pun lalu menyuruh orang-orang disana untuk memanggilnya. Mendengar itu, Bartimeus segera menanggalkan jubahnya dan bergegas menuju Yesus. Ketika mereka bertemu muka, inilah yang terjadi selanjutnya. “Tanya Yesus kepadanya: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang buta itu: “Rabuni, supaya aku dapat melihat!” (ay 51). Bartimeus bisa meminta kekayaan, meminta pekerjaan dan sebagainya selain matanya dicelikan, tapi Bartimeus tahu bahwa sumber masalahnya selama ini adalah ketidakmampuannya untuk melihat. Jika ia bisa melihat, ia tidak perlu jadi pengemis lagi dan bisa bekerja untuk hidup. Ia tahu betul akan hal itu, dan ia pun hanya meminta satu hal yang menjadi sumber permasalahan. Maka Yesus pun mengabulkan permintaannya dan menyembuhkannya. Alkitab mencatat jawaban Yesus ketika menyembuhkannya: “Lalu kata Yesus kepadanya: “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.” (ay 52).

Apa yang sesungguhnya menyembuhkan Bartimeus? Alkitab mengatakan bahwa apa yang menyembuhkannya adalah IMAN yang dimilikinya. Imannya yang percaya, yang tidak tergantung pada logika manusia, yang tidak tergantung apa kata orang. Ia tahu imannya tidaklah terletak pada pendapat manusia lainnya, atau tergantung tingkat kesulitan keadaan atau situasi yang tengah ia hadapi, tetapi semata-mata merupakan koneksi/hubungan antara dirinya dan Tuhan yang Maha Kuasa. Bartimeus berpegang teguh akan hal itu, dan Yesus berkata besar imannya itulah yang menggerakkan Tuhan untuk kemudian menyelamatkannya. Iman seperti itu ternyata cukup sanggup menggerakkan Tuhan untuk turun tangan melakukan hal-hal yang ajaib dalam hidup kita. Singkatnya, iman, itulah yang kita butuhkan untuk menerima berkat dan mukjizat Tuhan kepada kita.

Mudah bagi kita untuk menyebut kata iman, namun dalam prakteknya seringkali hal ini sulit untuk dilakukan. Mengapa begitu? Karena iman biasanya berhubungan dengan sebesar apa kepercayaan dan pengharapan kita kepada Tuhan pada saat jalan terasa buntu, sempit dan penuh situasi sulit. Dan itulah tepatnya yang diingatkan di dalam Alkitab. “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1). Iman memegang peran yang sangat penting bagi kita. Bisa tidaknya kita menerima mukjizat Tuhan untuk menjawab permasalahan kita, termasuk yang sudah seperti tidak ada jalan keluar lagi sekalipun, itu akan sangat tergantung dari ukuran iman kita. Sebesar apa? Yesus sudah mengatakan sekiranya seukuran biji sesawi saja besar iman kita, maka takkan ada yang mustahil bagi kita. “Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, –maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” (Matius 17:20). Biji sesawi itu berukuran sangat kecil. Diameternya kurang lebih hanya 1 milimeter saja. Jika kita masih belum memiliki iman yang cukup untuk menerima mukjizat-mukjizat ajaib Tuhan dalam hidup kita, itu artinya iman kita masih jauh lebih kecil dari biji sesawi yang ukurannya sudah sangat kecil itu.

Jika hari ini diantara anda ada yang mungkin sedang menghadapi jalan buntu yang terlihat seperti tidak lagi punya solusi atau harapan, ini saatnya untuk belajar mengambil keputusan seperti Bartimeus. Ia datang dan berseru-seru kepada Tuhan dengan mengedepankan imannya, dan lihatlah bagaimana Tuhan lantas merespon seruannya. Hal ini tepat seperti yang dikatakan Daud dalam salah satu Mazmurnya: “Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya.” (Mazmur 34:7) dan “Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya.” (ay 18). Iman akan menggerakkan kita untuk berseru kepadaNya, bergantung dan berpengharapan kepadaNya dalam kesesakan seberat apapun. Kita harus benar-benar paham bagaimana kedahsyatan Tuhan seperti yang tertulis dalam Mazmur berikut ini: “Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah.” (Mazmur 96:4). Ini saatnya kita memandang Tuhan sebagaimana adanya Dia, dan kita akan menyadari bahwa tidak ada satupun masalah yang lebih besar dibanding kuasaNya. Bartimeus mengalami jamahan dan pemulihan Tuhan yang ajaib, dan itu karena ia memiliki iman yang berbeda dari orang-orang lain. Pola pikirnya positif, ia mengetahui dengan benar bagaimana pribadi Tuhan yang penuh kasih. Ia pun tahu apa yang harus ia minta, bukan membabi buta meminta segala-galanya karena bersikap aji mumpung.  Firman Tuhan berkata: “Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.” (Yakobus 4:3). Bartimeus lolos dari ujian itu. Ia meminta sesuatu yang benar, dan ia memintanya kepada Yesus. Dan Yesus sudah berkata bahwa “Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” (Yohanes 14:14). Kalau itu berlaku bagi Bartimeus, bagi kita pun hal yang sama tentu berlaku. Mari kita belajar dari iman yang dimiliki Bartimeus. Sadarilah bahwa apapun yang sudah dianggap buntu oleh dunia ini, atau ketika kita dianggap tidak cukup penting oleh dunia ini untuk memperoleh apa-apa, kita punya Tuhan yang tidak akan terbatas oleh kebuntuan separah apapun, dan Dia akan dengan senang hati mengulurkan tanganNya, karena Dia sungguh mengasihi kita.

Apapun masalah yang tengah anda hadapi, maukah anda mengandalkan Yesus? Berserulah maka Dia akan menjawab

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

0saves


If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Related Posts to "Bartimeus dan Imannya"

Response on "Bartimeus dan Imannya"