Banyak Tempat Tinggal Di Rumah Bapa

Ayat bacaan: Yohanes 14:2
=========================
“Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.”

tempat tinggal di Rumah Bapa, kewargaan surga

Sepertinya sudah menjadi kebiasaan bagi para pemudik untuk membawa saudara atau temannya dari kampung untuk ikut ke kota. Impian untuk mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik biasanya membuat mereka tertarik untuk mengadu nasib di kota besar. Kenyataannya menurut banyak pemerintah di kota-kota besar, lonjakan pendatang pasca mudik seringkali menimbulkan permasalahan. Di kota saya menurut data statistik biasanya ada 100.000 pendatang setiap tahunnya pasca mudik yang mencoba mencari peruntungan. Efek urbanisasi ini pun dianggap akan membebani pemerintah karena impian mereka nantinya tidak sesuai dengan kenyataan. Sampai ada pemeo yang bunyinya, “kejamnya ibu tiri, tak sekejam ibu kota”, ini menggambarkan ganasnya tingkat persaingan untuk bertahan hidup di ibu kota maupun kota besar lainnya. Jakarta sendiri merencanakan akan merazia pendatang baru pada H+7. Bagi saya ini merupakan sebuah ironi yang dilematis. Betapa ironis, saudara sebangsa setanah air yang punya status kewarganegaraan yang sama dilarang untuk masuk ke kota yang notabene adalah bagian dari negaranya sendiri. Ironis, betapa banyak penduduk dalam sebuah negara yang sudah merdeka 63 tahun ternyata tetap tidak merdeka untuk masuk ke wilayah yang merupakan bagian dari negaranya sendiri. Namun disisi lain, saya juga memahami kesulitan yang akan menimpa para pemimpin daerah akibat para pendatang baru tanpa pekerjaan ini. Puluhan hingga ratusan orang dengan kondisi sulit memasuki daerah yang menjadi tanggung jawab mereka tentu bukan masalah sepele untuk diatasi. Ini sebuah kondisi dilematis yang merupakan realita hidup setiap tahunnya.

Hidup memang tidaklah mudah. Tapi ingatlah bahwa apa yang kita alami di dunia ini hanyalah sementara sifatnya. Petrus mengingatkan bahwa di dunia ini kita hanyalah pendatang atau perantau. Kita harus berjuang melawan keinginan-keinginan daging agar mampu hidup dalam kekudusan dalam tempat perantauan sementara ini (1 Petrus 2:11). Kalau begitu, dimana kewargaan kita yang sesungguhnya? Bagi orang percaya yang menerima Yesus sebagai juru selamat, kita adalah warga surga. “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat” (Filipi 3:20). Di surga tidak ada pembatasan. Bagi setiap kita yang memegang perintah Kristus dan melakukannya, maka mereka akan dikasihi Tuhan dan juga oleh Kristus sendiri. (Yohanes 14:21), dan untuk kita ada tempat yang disediakan di surga. “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” (ay 2-4). Lihatlah apa yang dikatakan Yesus, bahwa di rumah Bapa ada banyak tempat tinggal yang sudah disediakan bagi orang percaya. Sebuah tempat indah dimana tidak lagi ada air mata. Sebuah tempat penuh damai sukacita. Sebuah tempat nyata dimana Yesus kini berada. “Inti segala yang kita bicarakan itu ialah: kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga” (Ibrani 8:1). Disana Yesus telah menyediakan tempat bagi siapapun yang percaya padaNya, yang memegang teguh dan melakukan semua yang Dia firmankan. Tidak ada kuota maksimum, tidak ada pembatasan jumlah, siapapun diundang untuk masuk ke dalam rumah Bapa. Bahkan Yesus pun terus mengetuk pintu hati manusia untuk diselamatkan, agar manusia pun bisa diselamatkan dan masuk ke dalam tempat yang telah Dia sediakan. Bukankah hal ini sangat indah?

Jika saat ini pergumulan, permasalahan dan kesulitan masih mengelilingi kita, janganlah gelisah. Betapa indahnya ketika Yesus memulai firmanNya tentang Rumah Bapa dengan perkataan: “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” (Yohanes 14:1). Di dalam “tempat perantauan” kita ini kita telah dijanjikan penyertaan Tuhan, dan ada tempat sebenarnya bagi kita yang telah disediakan Kristus sendiri. Surga, Rumah Bapa, adalah sebuah tempat yang nyata, bukan halusinasi atau fatamorgana, yang akan menjadi tempat kekal bagi setiap orang percaya yang hidup sungguh-sungguh menjaga kehidupannya sesuai firman Tuhan. Mari kita terus bertekun agar tempat yang Dia sediakan itu juga tersedia bagi kita.

Di Rumah Bapa ada banyak tempat tinggal, cukup bagi semua manusia yang bertobat dan menerima Yesus sebagai Juru Selamat

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Comment