Bahasa Kasih Tuhan

Ayat bacaan: 1 Yohanes 4:21
=======================
“Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.”

bahasa kasih

Beberapa waktu lalu saya membelikan istri saya seikat bunga mawar segar. Say it with flowers, begitu kata orang, dan saya pikir bunga mawar yang indah bisa menjadi perantara yang tepat untuk mengungkapkan cinta. Ia terlihat senang menerimanya dan segera memasukkannya ke vas bunga. Tetapi ternyata hanya sampai disitu saja, karena kemudian ia tidak lagi memperhatikan bunga itu sampai layu. Dari situ saya pun sadar bahwa bahasa kasih orang ternyata berbeda. Saya pikir bunga merupakan bahasa yang universal untuk menyatakan cinta, tetapi ternyata tidak. Istri saya memiliki bahasa kasih bukan dalam bentuk pemberian, tetapi ia lebih mementingkan perhatian, kepedulian dan keberadaan saya di dekatnya. Mau mendengarkannya, ada bersamanya ketika ia butuhkan, itulah yang akan membuatnya merasa dicintai. She’s far more interested in my time and attention more than anything else. Itulah bahasa kasihnya. Jika saya meluangkan waktu untuknya tanpa gangguan, jika saya berada didekatnya, ngobrol, jalan-jalan atau nonton bersama, itulah saat ia merasa benar-benar dikasihi.

Bahasa kasih orang berbeda-beda. Ada yang merasa dikasihi lewat pemberian/hadiah, ada yang butuh pujian/pengakuan, ada yang bahasa kasihnya berbentuk pelukan atau belaian, ada pula yang seperti istri saya lewat perhatian dan kepedulian. Bayangkan jika dua orang berbeda bahasa dipaksa berbicara satu dengan yang lain, komunikasi pastilah akan sulit berjalan. Seperti itu pula bahasa kasih. Agar kita bisa menyampaikan atau mengekspresikan rasa cinta kita secara maksimal, kita harus mengetahui bahasa kasih mana yang dipakai oleh pasangan kita.

Pernahkah anda berpikir bahasa kasih Tuhan seperti apa? Pernahkah anda berpikir apa yang Tuhan mau kita lakukan untuk menunjukkan kasih kita kepadaNya? Kita bisa melihatnya dalam 1 Yohanes 4:7-21. Perikop ini bertajuk Allah adalah kasih.” Disini Yohanes menguraikan panjang lebar mengenai bagaimana hubungan yang seharusnya antara Tuhan dan manusia atas nama kasih. Yohanes membuka bagian ini dengan sebuah ajakan penting: “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (ay 7-8).  Kasih bukan hanya karakter Allah, tetapi Allah adalah kasih itu sendiri. Yohanes lalu mengingatkan, “Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.” (ay 11). Pada dua ayat berakhir kita baca: Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” (Ay 20) lalu “Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.” (ay 21). Firman ini jelas. Kita tidak bisa mengatakan mengasihi Allah sambil menyimpan kebencian dari sesama kita. That shows that we’re a liar, kata Firman Tuhan. Mengaku mengasihi Tuhan tetapi membenci orang lain tidaklah bisa berjalan bersamaan. Ternyata Tuhan akan merasa dikasihi lewat seberapa besar kita mengasihi saudara-saudara kita. He will feel our true love to Him by our willingness to love the others.Itulah bahasa kasih Tuhan.

Ada banyak orang yang mengaku mengasihi Tuhan. Mereka menyampaikannya lewat begitu banyak cara, gaya dan pola. Ada yang menunjukkannya lewat doa yang panjang-panjang, lewat kerajinan beribadah dan lain-lain. Tetapi perhatikanlah bahwa semua itu tidak akan ada gunanya apabila kita tidak mengasihi saudara-saudara kita dan masih menyimpan kebencian, bahkan terlalu mudah untuk menghakimi. Merasa tata caranya paling benar lalu menghina atau menghujat sesama saudara dalam Kristus yang berbeda gereja, itu menunjukkan bahwa kita belumlah mengasihi Tuhan, meski mungkin kita begitu rajin beribadah dan berdoa setiap saat. If you do that, the Bible said, “you’re a liar” (1 Yohanes 4:20). Pointless, useless. Meskipun rajin beribadah dan memuji Tuhan itu sangat baik, tapi tanpa mengasihi sesama maka kita tidak akan pernah berhak mengaku bahwa kita mengasihi Tuhan. Dua perintah Yesus yang terutama pun mengaitkan antara mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. (Bacalah Matius 12:28-34). Kata kuncinya adalah kasih. Itu merupakan esensi yang paling mendasar. Mengapa? Sebab Allah adalah kasih itu sendiri. God, is love. Itu jauh lebih berharga di mata Tuhan ketimbang segala tata cara peribadatan, segala yang hanya mementingkan penampilan luar dan sebagainya. Hati yang mengasihi orang lain, itulah yang bisa membuat Tuhan bisa merasa kita kasihi dengan sungguh-sungguh. That’s His language of love. Belajarlah mulai sekarang untuk memperbesar aliran kasih untuk menjangkau saudara-saudara kita. Hindari bentuk-bentuk ejekan, hinaan, sindirian atau kebencian terhadap saudara sendiri, karena Tuhan Yesus pun tidak pernah mengajarkan hal seperti itu. Dia justru ingin semua anggota tubuhNya bersatu, tidak tercerai berai. We’re a liar if we say we love Him but still hating each other at the same time. Do you love God? If so, love your brothers.

Tuhan mengetahui kita mengasihiNya dengan sungguh-sungguh ketika kita mengasihi saudara kita dengan sungguh-sungguh pula

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

1 Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: