Bahagianya Ibu, kalau Anak-anaknya Sukses tapi Juga Tahu Diri

ibu dan anak byutvKETIKA Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya, ‘Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.’  Tetapi Ia berkata, ‘Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.’” (Luk 11, 27-28) Beberapa waktu yang lalu ada sebuah berita bahwa seorang ibu yang berusia […]

ibu dan anak byutv

KETIKA Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya, ‘Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.’  Tetapi Ia berkata, ‘Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.’” (Luk 11, 27-28)

Beberapa waktu yang lalu ada sebuah berita bahwa seorang ibu yang berusia 90 tahun digugat anaknya yang keempat dan menantunya sebanyak Rp 1 milyar. Gugatan tersebut berkaitan dengan permasalahan tanah.

Ibu tersebut hanya bisa berdiam, menahan kekesalan dan tatapan matanya kosong. Kenyataan yang tidak menunjukkan adanya sebuah kebahagiaan seorang ibu.

Seorang ibu, pada umumnya, merasakan kebahagiaan ketika keinginannya untuk mendapatkan keturunan terkabul. Banyak ibu berbahagia, ketika melihat putera atau puterinya tumbuh dan berkembang dengan sehat dan normal; ketika anak-anaknya mendapatkan pendidikan cukup sejak sekolah dasar sampai pendidikan tinggi; ketika anak-anaknya tidak mendapatkan kesulitan; ketika anak-anaknya bisa berprestasi dengan bagus; ketika anak-anaknya mempunyai sikap dan perilaku baik bagi sesamanya; ketika anak-anaknya mendapatkan pekerjaan tetap dan hidupnya mapan.

Banyak ibu sungguh berbahagia, ketika anak-anaknya tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang membanggakan, jauh dari hal-hal yang buruk dan jahat. Para ibu tidak akan menyesal bahwa mereka telah mengandung anaknya selama 9 bulan. Mereka pun tidak lagi mengingat rasa sakit saat melahirkan anaknya. Yang ada hanyalah rasa bahagia.

Bagi Yesus, kebahagiaan seorang ibu tidak hanya dipengaruhi oleh anak-anaknya yang membanggakan. Seseorang disebut bahagia karena bersedia mendengarkan Sabda Tuhan dan memeliharanya di dalam hidupnya. Mendengarkan juga berarti meresapkan dan membatinkan, sehingga Sabda Tuhan menyatu, mendarah dan mendaging serta menjadi kekuatan untuk melaksanakan tugas, pekerjaan dan pelayanan bagi sesama.

Sabda Tuhan menjadi kekayaan rohani yang tidak akan hilang dari dalam diri. Mereka inilah yang disebut berbahagia. Teman-teman selamat pagi dan selamat berakhir pekan. Berkah Dalem.

Kredit foto: Ilustrasi  (Courtesy of Byutv)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply