Bagaimana Mengenali Wajah Allah? (1)

Kristus Raja yang kita rayakan hari ini ialah Raja yang tidak berasal dari dunia ini. Apa maksudnya? Gambaran kita tentang raja adalah seorang penguasa yang mempunyai kuasa dan kemampuan yang luar biasa. Raja itu kita harapkan dapat membereskan semua masalah, menjamin kesejahteraan kita dan semua warganya. Kita boleh minta dan dia akan segera mengabulkannya dan memberi apa yang kita inginkan. Kita sering berharap bahwa Allah yang mahakuasa, Kristus Raja yang sudah menang atas kematian dan dosa, melimpahi kita dengan semua berkat surgawi dan duniawi dalam hidup kita.

Dalam Injil sering diceritakan bahwa Ia berkuasa menyembuhkan segala penyakit, menghidupkan orang mati. Dia datang untuk membebaskan kita dari segala kesulitan dan bahaya. Dengan harapan itu, kita mencoba hidup baik. Tetapi Allah seperti itu adalah Allah yang dikenal oleh semua agama lain. Dengan sujud kita mohon keselamatan.

Dengan sesaji kita berharap dijauhkan dari gangguan. Allah seperti itu, merupakan Allah yang dikenal oleh gaya hidup dunia ini. Apakah Tuhan Yesus Kristus, juga sekedar Allah seperti itu? Kalau begitu, Dia hanya Allah dalam kemasan yang lain dari yang diajarkan agama-agama lain, yang disembah dalam tata upacara yang lain; tetapi isinya sama saja.

Tentu tidak. Yesus dihadapan Pilatus menyatakan Dia raja, bukan dari dunia ini. Bukan raja yang mengandalkan kekuatan dan kekuasaan duniawi, tetapi menjadi Raja yang memberi kesaksian tentang kebenaran. Dan kebenaran dalam pandangan Yohanes ialah: Allah mengasihi manusia dan mengutus PuteraNya ke dunia untuk menyelamatkan mereka. Yesus adalah Raja yang menyatakan Allah adalah kasih. Yohanes pada awal Injilnya, menulis: Sabda yang ada bersama Allah dan menjadikan segala sesuatu, telah menjadi manusia.

Dalam kisah penciptaan, manusia adalah ‘raja’ segala ciptaan. Dalam diri manusia terdapat peta kehadiran Tuhan Pencipta yang dapat dikenali oleh alam semesta. Oleh karena itu, manusia juga diserahi kuasa menjalankan pengaturan bumi dan isinya (Kej 1:29). Pada hari ketujuh (Kej 2:1-4a) sang Pencipta beristirahat dan memberkati hari itu.

Pekerjaan yang telah diawaliNya itu kini dilanjutkan oleh manusia karena manusia menyatakan kehadiranNya. Hari ketujuh tak berakhir, inilah zaman alam semesta yang diberkati Tuhan Pencipta. Gambaran di atas menjadi gambaran ideal manusia sebagai raja yang mewakili Tuhan di hadapan alam semesta.

Kebesaran manusia sang “gambar dan rupa” Tuhan dan alam semesta itu diterapkan Yohanes kepada Yesus. Yesus itu memang raja dalam arti puncak ciptaan sendiri, kemanusiaan yang sejati seperti dulu dikehendaki sang Pencipta. Menurut Injil Yohanes, “kebenaran” yang dipersaksikan Yesus itu ialah kehadiran ilahi di kawasan yang dipenuhi kekuatan gelap.

Ia menerangi kawasan yang gelap. Inilah yang dibawakan Yesus kepada umat manusia. Inilah yang membuatnya pantas jadi Raja Semesta Alam. Orang yang mengikutinya akan menemukan jalan kembali ke martabat manusia yang asali, yakni sebagai “gambar dan rupa” Allah sendiri.Sebagai gambar dan rupa Allah, manusia ikut memberi kesaksian tentang kebenaran: Allah mengasihi manusia. Manusia diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan. bersambung

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: