Bagaimana Membebaskan Diri dari Kebiasaan Buruk?

Kebiasaan Buruk


 Bagaimana Membebaskan Diri dari Kebiasaan Buruk? Maria Anastasia Self Management, Faith and Spirituality


“Kriiiiiiiiiiiiingggg!” Bunyi weker berdering dengan kerasnya. Tanda jam 4 pagi sudah tiba. Tangan ini pun segera mencari bantal dan menutupkannya ke telinga. Sayangnya, bunyi tersebut malah jadi semakin nyaring dan mengganggu. Lalu, tangan pun refleks bergerak, mencoba meraih weker tersebut dan menekan tombol off. Lalu, saya lanjut tidur lagi sampai sinar matahari mengintip dari jendela. Dan itu berarti.. saya kesiangan bangun!


Rencana untuk bangun lebih pagi jadi gagal total. Rencana untuk meluangkan waktu berdoa di pagi hari, jadi terlewat. Apalagi rencana untuk mengikuti Misa harian di Gereja, yang biasanya dimulai pukul 06.00 pagi. Rencana hanya tinggal rencana. Kemudian saya menghibur diri sendiri sambil berkata, “Nggak apa-apa, masih ada hari esok,” dan esok, dan esok, dan esoknya lagi, yang terkadang hanya jadi rencana, karena setiap kali terjadi kejadian yang sama, dan menjadi kebiasaan yang berulang-ulang.

Pernah mengalami kejadian seperti itu?

Tiap orang tentu punya kebiasaan yang berbeda-beda. Misalnya saja, ada yang suka merokok sampai-sampai kalau nggak merokok dalam sehari, jadi nggak bisa mikir. Ada yang cari makanan kecil melulu alias ngemil berlebihan. Atau ada juga yang demen belanja barang-barang diskonan, padahal nggak perlu-perlu amat. Ada juga yang kebiasaan berpikiran negatif, kebiasaan melihat pornografi, serta masih banyak lagi. Kebiasaan memang perlu dilihat lagi. Ada kebiasaan yang positif, berarti ya diteruskan saja. Namun, ada juga kebiasaan negatif. Kalau kebiasaanmu negatif, ini perlu ditanggulangi, dan setiap orang punya tantangannya sendiri untuk melatih diri agar keluar dari kebiasaan yang kurang baik itu.


Ketika kita berusaha mengubah suatu kebiasaan, nggak jarang kita punya kecenderungan balik lagi ke kebiasaan lama. Pertanyaan selanjutnya, apakah benar kita bisa mengubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik? Lalu, bagaimana caranya supaya bisa benar-benar merdeka dari kebiasaan buruk?

1. Percaya kalau ini bisa terjadi.

Segala sesuatu akan sulit dilakukan kalau kita nggak percaya. Begitu pula dengan mengubah kebiasaan. Dalam hal ini, lawan terbesar kita adalah diri sendiri dan ingatlah bahwa “nggak ada yang nggak mungkin”. Harapan itu selalu ada. Yang paling penting adalah jangan pernah menyerah. Kalau satu waktu kita jadi merasa diri ini sangat lemah, karena berulang kali mengalami kegagalan dan jatuh lagi di kebiasaan buruk yang sama. It is okay!  Tapi, tetaplah berusaha dan tetaplah percaya.

2. Pilih satu saja kebiasaan buruk yang ingin dihilangkan.

Kalau kamu punya beberapa kebiasaan buruk, coba pilih satu dulu kebiasaan yang ingin dihilangkan. Tujuannya supaya kamu bisa fokus pada satu hal. Untuk mengubah satu kebiasaan pun biasanya tidak mudah, karena namanya juga kebiasaan, yang berarti sudah terbiasa melakukannya, sampai-sampai nggak pakai effort untuk melakukannya – tanpa sadar terjadi begitu saja. Maka, untuk memutuskan siklus kebiasaan tersebut, perlu fokus agar perhatian tidak terpecah-pecah. Sama halnya dengan analogi apabila kita mau mandi atau mau makan dulu. Tentunya tidak bisa dilakukan sekaligus. Ada juga dijalankan satu-satu, mau makan dulu atau mandi dulu. Dengan lebih fokus, maka perhatian kita akan terpusat untuk membangun kesadaran – mengganti kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru. Misalnya: Kebiasaan telat bangun pagi coba diatasi dengan tidur lebih pagi daripada biasanya.

3. Lakukan kebiasaan baik yang melawan kebiasaan buruk tersebut selama 30 hari.

Setelah memilih satu kebiasaan yang mau kita ubah. Nah, masuklah kita ke langkah nyatanya. Buat aja langkah kecil-kecil. Misalnya yang biasanya ngemil sehari 10 kali, cobalah mulai dikurangi 3 hari pertama menjadi 7 kali. Lalu ditambah lagi dosisnya di 3 hari berikut menjadi 5 kali sehari, dst. Giatlah melakukannya selama 30 hari berturut-turut agar kebiasaan baru bisa terbangun dengan baik. Ingat: Membangun kebiasaan baru memang tidak gampang, jadi perlu niat yang kuat, disiplin, serta tetap percaya dan tetap setia berjuang.

4. Mohon pertolongan dan rahmat Tuhan.

Manusia cenderung rapuh dan lemah. Makanya, kita tidak bisa mengandalkan hanya diri kita sendiri. Apalagi untuk melawan berbagai macam godaan yang muncul. Kebiasaan lama bisa menjadi godaan yang sangat menarik untuk kita lakukan lagi. Untuk itu, kita perlu membawa semua kerapuhan dan kelemahan kita pada Tuhan sendiri. Dialah yang menciptakan kita, Dia juga yang menjadi sumber kekuatan sejati kita. Pertolongan dan rahmat sejati hanya berasal dari Allah sendiri. Seperti halnya dikatakan di Ibrani 4:16, “Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.”

5. Memohon pertolongan Bunda Maria.

Bunda Maria adalah sosok manusia sederhana namun luar biasa. Dengan kesederhanaan dan ketulusannya, dia dipilih Allah untuk mengandung Sang Juruselamat. Dan di Yohanes 19:26 dikatakan Yesus menyerahkan Ibunya kepada murid yang dikasihi-Nya dan demikian juga sebaliknya. Di situlah Bunda Maria juga menjadi Bunda kita. Sebagai seorang Bunda, tentunya dia sangat memperhatikan anak-anaknya, dan dengan privilege sebagai Bunda Allah, maka kedekatannya pada Tuhan tentu sangat khusus. Kita percaya bahwa ketika meminta pertolongan Bunda, hatinya penuh belas kasih untuk segera menolong kita. Dengan Bunda yang turut mendoakan dan membantu kita, pertolongan tentu akan segera datang. Anak manakah yang tidak tergerak hatinya untuk memenuhi pertolongan bundanya? Dan sudah banyak kesaksian dari Santo-Santa yang merasa terbantu dengan devosi pada Bunda Maria. Jadi, apalagi yang ditunggu? Datanglah pada Bunda dan mintalah pertolongan darinya.


Jadi, apa kebiasaan buruk yang ingin kamu ubah dari dirimu? Cobalah lakukan cara-cara di atas dari sekarang dan biarkan rahmat Tuhan bekerja atas diri kita semua.


Sumber: Inspire.com

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply