Babak Baru Generasi Papua (1)

Anak Papua di pedalaman Yaosakor AgatsSUDAH tiga  tahun lamanya saya meninggalkan tanah Papua, tepatnya akhir juni 2008. Di atas geladak kapal Labobar yang akan membawa ke Jawa, saya berdiri menatap sederetan pegunungan yang mulai gelap diselimuti malam. Dalam hati, saya bertanya, “Akankah saya kembali lagi ke tanah Papua ini?” Pertanyaan ini sangat beralasan, karena begitu banyak kehidupan Papua ini begitu […]

Anak Papua di pedalaman Yaosakor Agats

SUDAH tiga  tahun lamanya saya meninggalkan tanah Papua, tepatnya akhir juni 2008. Di atas geladak kapal Labobar yang akan membawa ke Jawa, saya berdiri menatap sederetan pegunungan yang mulai gelap diselimuti malam.

Dalam hati, saya bertanya, “Akankah saya kembali lagi ke tanah Papua ini?”

Pertanyaan ini sangat beralasan, karena begitu banyak kehidupan Papua ini begitu mengesankan. Begitulah kiranya, saya yang kurang lebih selama dua tahun mengabdikan diri bergelut di dunia pendidikan Papua. Tentu ada suka dukanya. Dari mencari murid ke pedalaman Papua tepatnya Waghete dan Moenamani, sampai menghadapi serangan malaria yang mengganas sudah menjadi ritme hidup.

Begitu pula menyesuaikan diri menghadapi peserta didik dan orang tua dengan berbagai macam karakter. Sungguh merupakan tantangan tersendiri. Anak-anak sendiri terkadang membutuhkan teman bercerita, sambil refreshing menikmati indahnya pantai Papua yang sangat jernih.

Mereka adalah anak-anak yang memunyai semangat tinggi, mau maju dan berkembang untuk meraih kesempatan emas. Kenapa harus mereka?

Mereka adalah babak baru generasi yang akan membangun Papua tanahnya sendiri. Merekalah yang akan menjadikan Papua, menjadi pencetak keunggulan dalam mengelola daerahnya.

Ya Papua harus maju melalui pendidikan.

Itu adalah harapan, yang selalu mengiringi langkahku di tanah Papua. Sebuah idealisme yang masih begitu kuat menancap di otak ini. Idealisme ini semakin kuat saat berjumpa beberapa anak Papua di sebuah gereja di Pulomas, Jakarta Timur.

Ternyata mereka adalah anak lulusan SMA Adhi Luhur Kolese Le Cocq d’Armandville tempat saya mengajar dulu. Mereka kini sedang kuliah di Jakarta mengambil jurusan kedokteran di salah satu universitas swasta. Kebanggaan menjadi semakin berkobar, saat mendengar bahwa ada lulusan sekolah dulu yang akan melanjutkan pendidikan di Tiongkok.

Wow luar biasa, pikirku. Belum lagi beberapa dari mereka yang sedang matrikulasi di Karawaci untuk mempersiapkan diri berangkat ke Jerman. Dan bahkan sudah ada yang di Jerman. Saya sempat tertegun mendengar kisah yang mereka ceritakan.

Rasa senang sekaligus haru, masih menyelimuti hati ini, disaat resepsi pernikahan seorang teman di hari yang sama, mata kami saling menatap di antara tamu undangan. Kelima orang tersebut tersenyum lebar, sambil menghampiriku. Kami pun saling berpelukan.

Mereka anak didik dari SMA Adhi Luhur Kolese Le Cocq d’Armandville Nabire yang begitu antusias belajar dan berjuang mendapatkan impiannya dengan kuliah di Jakarta. Informasi yang saya peroleh dari mereka selain kuliah di Atmajaya Jakarta, UKRIDA, UNTAR, UMN anak-anak Papua ada yang melanjutkan pendidikan di UGM, STPDN, IPB, Parahyangan, Sanata Dharma dan masih banyak lagi. Juga mengejar profesi-profesi yang sudah ditekuni.

Mereka sedang mengawali satu babak kehidupan untuk meraih cita-cita. Wajah mereka pun menyiratkan semangat itu. Mata mereka seakan mengkomunikasikan kebanggaan akan proses yang sudah dilaluinya.

Perjumpaan kemarin di hari Sabtu menjadi momen penting, sekaligus menjadi refleksi perjalanan hidupku. Bahwa pendidikan begitu penting dan dibutuhkan generasi muda Papua.

Memang harus diakui, perjuangan masing panjang. Mereka yang saat ini masih mengeyam pendidikan di Papua mengharapkan kepedulian dan bantuannya untuk mengelola pendidikan supaya lebih humanis.

Dana BOS yang diharapkan membantu pengembangan fasilitas pendidikan masih membutuhkan evaluasi kembali. Lebih tepatnya proses penyalurannya pun masih membutuhkan tangan-tangan kejujuran. Hal ini yang terkadang menjadi batu sandungan terciptanya pendidikan di tanah Papua. Di tengah perjuangan anak asli Papua mendapatkan impiannya, masih saja ada yang menjadi penghambat. Cukup ironis.

Selain itu, yang menjadi perhatian kita adalah para pendidik atau guru. Baik secara kuantitas atau jumlah guru yang masih kurang, permasalahan lain adalah kualitas serta tanggungjawabnya.

Seorang anak didik pernah bercerita, “Bapa guru baru di sekolah ini saya belajar benar,”.

Kemudian saya bertanya, “Memang kalau di pedalaman tra da belajarkah?”

Ia pun menjawab dengan raut muka yang serius,”Ah tra pernah Bapa Guru, kitorang lebih sering main volly dari pada belajar, kitorang pu guru tra da mengajar, dorang berbulan-bulan ke kota.
Nanti mendekati ujian baru mereka mengajar.”

Para guru ini rupanya lebih sering menghabiskan uang gaji mereka di kota. Tidak banyak guru yang betah tinggal di pedalaman dan mengajar. Mereka telah meninggalkan, tugas dan tanggungjawab sebagai pendidik.

Ini satu permasalahan lagi yang harus diselesaikan. Mental para guru perlu dibangun kembali. Bahwa panggilan dan pengabdian sebagai guru adalah sangat mulia.

Kredit foto: Anak-anak di pedalaman Agatst, Papua (Ilustrasi/Mathias Hariyadi)

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply