Ayah Pemarah (3)

(sambungan)Mengajar atau menghukum anak bertujuan agar mereka menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik lagi bukan untuk menyiksa atau menjadikan mereka tempat pelampiasan emosi sesaat. Jelas dikatakan bahwa anak-anak haruslah dididik dalam ajaran dan na…

(sambungan)

Mengajar atau menghukum anak bertujuan agar mereka menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik lagi bukan untuk menyiksa atau menjadikan mereka tempat pelampiasan emosi sesaat. Jelas dikatakan bahwa anak-anak haruslah dididik dalam ajaran dan nasihat Tuhan, dan kekerasan baik secara fisik maupun mental bukannya membuat mereka mengenal Tuhan, tetapi justru sebaliknya akan membuat mereka tawar dan sulit untuk percaya kepada siapapun, termasuk kepada Tuhan.

Dalam Mazmur dikatakan: “Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda. Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang.” (Mazmur 127:4-5). Anak-anak, itu adalah bagaikan anak panah di tangan seorang pahlawan. Selayaknya pahlawan yang sedang memanah, ia harus pintar mengarahkan busurnya ke arah yang dituju, bukan menembak sembarangan. Apa yang bisa dipetik sebagai hasilnya bukan saja bermanfaat bagi masa depan anak-anak saja, melainkan orang tuanya pun kelak akan merasakan kebahagiaan lewat mereka.

Betapa manusia sering lupa bahwa anak bukanlah hasil dari hubungan suami istri semata, tetapi seperti apa yang dikatakan Alkitab, anak merupakan warisan atau pusaka dari Tuhan. “Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah.” (Mazmur 127:3) Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan: “Behold, children are a heritage from the Lord, the fruit of the womb a reward.” Jadi bukan saja anak laki-laki, tetapi anak perempuan pun merupakan pusaka yang indah dari Tuhan. Jika kita menyadari kehadiran mereka sebagai anugerah yang sangat indah, bukankah itu berarti bahwa kita harus mensyukurinya dengan bertanggung jawab penuh atas mereka? Dan kekerasan baik secara fisik dan mental jelas tidak termasuk di dalamnya.

Orang tua termasuk ayah butuh hikmat Tuhan agar bisa mendidik anak-anak mereka dengan bijaksana. Dari mana hikmat ini datang? Firman Tuhan berkata bahwa “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.” (Amsal 9:10). Awalilah langkah dengan rasa segan dan hormat akan Tuhan, dan dari sana melangkahlah maju dengan berpusat terus di dalamnya. Memang terkadang dibutuhkan kesabaran terlebih dalam menghadapi anak-anak yang tingkat kenakalannya melebihi normal, tapi jangan lupa bahwa bersama Tuhan kita akan bisa lebih sabar dalam menghadapi segala masalah.

Ingatlah bahwa Firman Tuhan berkata: “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” (Amsal 16:32). Tuhan menghargai kesabaran kita dengan begitu tinggi, karena selain dalam kasih itu memang terdapat kesabaran (1 Korintus 13:4), kasih juga mampu menutupi banyak sekali dosa (1 Petrus 4:8). Dengan tegas dikatakan “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:8), dan jangan lupa pula bahwa firman Tuhan sudah berkata “love never fails”  (1 Korintus 13:8, Amplified Bible). Kasih tidak pernah gagal. Kita harus mengaplikasikan kasih dalam segala hal, kita pun harus sadar pula bahwa tanpa kesabaran kita bisa terjerumus melakukan banyak hal yang akan kita sesali di kemudian hari.

Intensitas anak bermasalah yang semakin tinggi menunjukkan berkurangnya ayah yang berfungsi sebagaimana mestinya di masa kini. Marilah kita sebagai ayah-ayah Kristiani mampu bersikap sesuai anjuran firman Tuhan. Adalah penting bagi kita untuk memulainya sejak dini agar kelak kita bisa bangga dan bahagia melihat mereka semua berhasil di bidangnya masing-masing.

Jika ada di antara teman-teman yang sempat atau pernah menyakiti hati anak-anak anda, berbesar hatilah untuk mengakui dan meminta maaf kepada mereka. Selalu ada lembaran baru disediakan Tuhan untuk memulihkan kembali hubungan antar keluarga termasuk antara orang tua dan anak-anaknya. Lakukan itu sekarang juga sebelum terlambat.

Jadilah ayah teladan yang dekat dengan anak-anaknya dan mendidik mereka dengan kasih

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply