Author: Renungan Iman Katolik

Iri Hati (2)

(sambungan)

Perhatikan, Tuhan tidak berkata: “AnakKu Kain, itu adalah hal yang wajar, santai saja… nanti lama-lama juga reda.” Tidak. Sebaliknya Tuhan berkata: “Kain, hati-hatilah. Dosa sudah mengintip di depan pintu.” Kita tahu apa yang terjadi kemudian. Berawal dari iri hati, ia dikuasai si jahat dan kemudian membunuh adiknya (ay 8). Kemudian ada kisah anak-anak Yakub, yakni Yusuf dan saudara-saudaranya di kitab Kejadian 37. Mereka begitu iri pada Yusuf, sehingga mereka berpikir bahwa dengan menyingkirkan Yusuf, hidup mereka akan menjadi lebih baik. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Mereka bahkan harus pergi ke negeri lain agar tidak mati kelaparan. Bukan hanya dua contoh ini saja, ada banyak lagi kisah mengenai kekacauan dan perbuatan jahat yang  berawal dari iri hati yang dicatat alkitab. Saya yakin dalam kehidupan anda masing-masing anda pun mudah menemukan contohnya dari kejadian di sekitar anda.

Jika demikian, iri hati jelas adalah masalah yang serius yang harus kita singkirkan sepenuhnya, secepatnya, tanpa kompromi. Tanpa menimbang iri hati itu ringan atau berat, wajar atau tidak. BEgitu rasa itu muncul, saat itu juga kita harus memadamkannya. Mari kita lihat lebih jauh, ternyata iri hati termasuk salah satu dari keinginan daging yang berlawanan dengan keinginan roh, yang dapat menyebabkan kita kehilangan bagian dalam Kerajaan Allah (Galatia 5:19-21). Lihatlah bahwa iri hati berada dalam kategori yang sama dengan dosa-dosa yang kita anggap “lebih serius” seperti percabulan, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir dan sebagainya. Alangkah sayangnya jika kita sudah bersusah payah menghindari dosa-dosa itu, namun kita berkompromi pada iri hati yang menyelinap secara diam-diam.

Sadarilah betapa pentingnya kita untuk berjaga-jaga sepenuhnya karena waktunya sudah dekat. Paulus mengatakan: “Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.” (Roma 13:12-13).

Sudah waktunya bagi kita untuk berhenti mengijinkan iblis membawa masuk hal-hal yang membinasakan, pada hidup, pekerjaan dan pelayanan kita, termasuk hal-hal yang seolah ringan seperti iri hati. Kita harus terus berusaha agar tidak serupa dengan dunia ini. “Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?” (1 Korintus 3:3). Apa yang harus kita lakukan? Bergantunglah pada Kristus. “Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” (Roma 13:14).

Mari kita waspadai sikap iri hati yang hendak masuk ke dalam diri kita agar jangan sampai kekacauan dan perbuatan jahat merebut kita dari keselamatan yang sudah dianugerahkan kepada kita.

Jangan pernah berkompromi dengan iri hati walau sekecil apapun

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Iri Hati (1)

Ayat bacaan: Yakobus 3:16
======================
“Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.”

Apakah iri hati itu? Iri hati adalah sebuah perasaan tidak senang atau tidak puas yang timbul saat melihat kelebihan atau keuntungan orang lain. Secara umum kalau mendengar kata iri hati orang cenderung mengasosiasikan pada kepemilikan harta benda seperti iri melihat rumah lebih mewah, mobil, aksesoris dan sebagainya. Tapi iri hati sebenarnya bisa muncul dari banyak hal selain materi. Misalnya iri terhadap kesuksesan, kebahagiaan, karir, pekerjaan, kesempatan dan lain-lain. Iri hati tampaknya sepele, karena seringkali rasa ini muncul tanpa sadar dan pernah dialami hampir semua orang. Karenanya orang pun sering menganggap iri hati itu manusiawi, tidak berbahaya bahkan sesuatu yang alami. Tapi berhati-hatilah, karena ayat bacaan hari ini mengingatkan akibat yang bisa timbul dari rasa iri yang dibiarkan bercokol mengotori hati kita.

Saya akan beri ilustrasi sederhana. Ada seorang teman yang tinggal di Australia bercerita bahwa kamarnya pernah kemasukan ular. Ular itu diam dan menggulung di pojokan bawah kasur dan hampir tidak kelihatan. Ia segera memanggil penangkap ular untuk mengambil dan memindahkan ular itu untuk kembali ke habitatnya. Ular yang masuk itu ternyata ular jenis berbisa, yang bisa menimbulkan konsekuensi serius apabila sempat terkena gigitannya. Tidak ada satupun orang yang mau ular berbisa ada di dalam rumah atau kamarnya, yang artinya masuk ke dalam kehidupannya. Tapi bagaimana kalau ular berbisa itu menyusup tanpa kelihatan? Itu jelas berbahaya. Dosa pun seperti itu. Mungkin kita mudah menghindari dosa yang jelas-jelas kasat mata (meski tidak jarang pula orang menikmati dosa bahkan yang terlihat jelas sekalipun), tapi bagaimana dengan dosa yang tidak terlihat nyata tapi saat kita lengah dosa itu bisa menyerang dan mendatangkan akibat mematikan? Itu pun tidak kalah bahaya.

Iri hati sama seperti ular berbisa yang menyelinap diam-diam dan bersembunyi di dalam rumah, mengancam nyawa pemiliknya. Iri hati yang kelihatan sepele dan manusiawi itu? Ya, betul. Mari kita lihat ayat berikut. “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” (Yakobus 3:16). Iri hati dan mementingkan diri sendiri akan membuka pintu bagi iblis untuk masuk ke dalam kehidupan kita. Dimana iri hati dan mementingkan diri sendiri itu ada, maka potensi kekacauan dan segala macam (bukan hanya beberapa atau sedikit tapi disebutkan segala macam) perbuatan jahat pun sangat besar. Perbuatan jahat apa saja yang akan dibawa iblis melalui pintu yang satu ini? Banyak sekali, mulai dari “sekedar” cemburu, depresi bahkan pembunuhan.

Pembunuhan? Tepat sekali. Pembunuhan pertama yang dicatat dalam Alkitab justru berawal dari iri hati. Itu bisa kita lihat dalam Kejadian pasal 4. Ketika Kain merasa iri pada saudaranya Habel, bahwa korban persembahannya “kalah”, hatinya pun panas, dan Wajahnya muram. Apa kata Tuhan melihat Kain? Mari kita lihat ayat 6 dan 7: “Firman TUHAN kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” 

(bersambung)

5 pencarian oleh pembaca:

  1. renungan katolik tentang irih hati

Sopan Santun

Ayat bacaan: 1 Korintus 13:4-5
=======================
“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.”

Etika dan sopan santun seharusnya menjadi bagian hidup kita. Apalagi budaya ketimuran itu sebenarnya sangat menjunjung tinggi etika dan sopan. Konon pada suatu masa budaya ketimuran yang dipakai oleh bangsa kita membuat kita dikenal dengan keramah-tamahannya. Murah senyum, baik budi pekerti, sopan santun dan menunjukkan sikap yang baik kepada siapapun. Sayangnya perkembangan jaman tampaknya diikuti pula oleh erosi etika dan sopan santun dalam kehidupan bermasyarakat di berbagai lapisan. Anak muda tidak lagi sopan kepada yang lebih tua. Kalau papasan di jalan sudah semakin jarang yang mau senyum apalagi menyapa. Tetangga semakin jarang yang dekat, syukur-syukur tidak sampai ribut karena masing-masing tidak menenggang perasaan  yang tinggal di sekitarnya. Lihatlah berbagai ormas merasa berhak melakukan kekerasan dan tindakan-tindakan yang sangat jauh dari sopan santun bahkan beradab. Apakah yang mengaku anak-anak Tuhan sudah bebas dari penyakit ini? Harus diakui, anak-anak Tuhan pun ada yang tidak tahu menjaga perilakunya, dan akhirnya menjadi contoh buruk di masyarakat, bahkan menjadi batu sandungan. Betapa ironis. Bagaimana bisa mengenalkan Yesus, jika orang sudah terlebih dahulu anti pati akibat contoh-contoh buruk dari perilaku mereka yang seharusnya menjadi terang? Apa yang hilang dari manusia sehingga sopan santun dan etika bisa mengalami degradasi seperti ini?

Permasalahan yang paling mendasar adalah semakin dinginnya kasih dalam diri manusia. Kasih sebagai inti dari kekristenan seharusnya menjadi dasar hidup semua anak-anak Tuhan. Hubungannya kasih dengan kesombongan dan sopan santun? Mari kita lihat ayat bacaan hari ini. “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.” (1 Korintus 13:4-5). Di dalam kasih itu ada sabar dan murah hati. Kasih tidak mengenal kecemburuan, memegahkan diri atau sombong, tidak mengenal ketidaksopanan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Kita lihat disini bahwa sesuatu yang dilandasi kasih seharusnya membuat kita tampil sebagai orang-orang yang tidak sombong dan tahu sopan santun.

Mari kita lihat lagi ayat berikut: “Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka.” (1 Tesalonika 4:11-12). Kita diminta untuk hidup dengan tenang, tidak mencampuri persoalan orang lain, apalagi mengganggu ketentraman orang, mencari nafkah dengan jujur tanpa mengganggu orang lain, dan dengan demikian kita akan hidup dengan sopan, sehingga orang-orang yang belum mengenal Kristus pun akan melihat perbedaannya dan menghormati kita. Kesombongan adalah sebuah kekejian di hadapan Allah (Amsal 16:5) dan merupakan awal dari kehancuran (16:18). Bentuk-bentuk kesombongan akan membuat orang memegahkan diri secara berlebihan sehingga kehidupan orang sombong akan jauh dari etika, perilaku terpuji dan sopan santun. Tidak itu saja, kesombongan pun akan menjadi pintu masuk dari dosa-dosa lain.

Tanpa kasih, sehebat apapun pengetahuan kita akan Firman dan sehebat apapun kita dalam pelayanan, semua akan sia-sia saja. Paulus sudah menyebutkannya dalam 1 Korintus 13:1 “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.”. Karena itu, marilah kita kembali memenuhi diri kita dengan kasih, sebuah kasih sejati dari Allah agar kita tidak harus berubah menjadi orang-orang yang jauh dari sopan santun. Mari kita menjadi contoh yang benar, baik dalam perkataan, tingkah laku maupun perbuatan. Dunia tengah dilanda krisis tata krama, etika dan sopan santun. Janganlah kita ikut-ikutan terseret kepada hal tersebut, tetapi jadilah orang yang berbeda dengan dunia, menjunjung tinggi kesopanan dan ber-etika sehingga kemuliaan Tuhan bisa dinyatakan lewat sikap kita ditengah masyarakat.

Kesopanan dan rendah hati adalah bagian dari kasih yang merupakan inti dari kekristenan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

5 pencarian oleh pembaca:

  1. ilustrasi renungan tentang ia tidak melakukan yang tidak sopan
  2. contoh ilustrasi khotbah melakukan yg tidak sopan
  3. ilustrasi renungan tentang ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri
  4. renungan tentang ia tidak melakukan yang tidak sopan

Gemerincing Tak Bermakna (2)

(sambungan)

Banyak orang yang mengira bahwa semakin banyak kita memberi sumbangan, maka itu berarti kita semakin mengasihi. Padahal sebenarnya pemberian bisa didasari oleh beribu macam alasan. Lihat apa kata Yesus. “Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.” (Matius 6:2).

Pemberian bisa didasarkan karena mengharapkan sebuah imbalan atau balas jasa, mengharapkan pujian, agar keinginan kita dipermudah dan sebagainya. Atau jangan-jangan malah mengira kita bisa menyuap Tuhan dengan melakukan pemberian yang besar. Ini seringkali dilakukan banyak orang. Tapi perhatikanlah, pemberian sebesar apapun, bahkan menyerahkan diri kita sendiri sekalipun jika tidak didasari kasih tidak akan membawa manfaat apa-apa. Tuhan tidak melihat besar kecilnya pemberian. Apa yang Dia lihat adalah motif di balik sebuah pemberian itu. Itulah sesungguhnya yang akan membedakan apakah Tuhan berkenan atau tidak lewat pemberian kita itu. Dan dasar yang berkenan bagi Tuhan adalah kasih. Pemberian yang didasari kasih yang tulus, sekecil apapun itu, meski hanya sebuah senyum sekalipun, itu akan dihargai Tuhan.

Selanjutnya, seperti apa sebetulnya kasih itu? Paulus menjabarkan apa saya yang menjadi bagian dari kasih yang sungguh-sungguh ini. “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” (1 Korintus 13:4-7). Itulah gambaran dari buah-buah yang dihasilkan oleh kasih yang sesungguhnya. Inilah sebentuk kasih yang bisa membawa perubahan nyata. Kasih seperti inilah yang mampu membuat perbedaan. Ketika kita memiliki kasih yang seperti ini, kita akan melihat langsung betapa kasih itu tidak akan pernah gagal. We’ll see how love never fails to make a difference. We’ll see how love never fails to make every aspects of our life much better.

Iman, pengharapan dan kasih merupakan tiga hal yang sangat penting untuk kita miliki. Paulus menyebutkannya demikian. Tapi jangan lupa bahwa ia menekankan: “yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (ay 13). Pengetahuan dan nubuatan pada suatu saat akan lenyap, pengharapan dan iman akan selesai ketika kita sudah sampai di hadapan tahta Allah dengan selamat dan sudah melihat segala bukti dengan sempurna kelak, namun kasih akan terus bersama kita dalam kehidupan kekal. Karenanya kasihpun disebutkan Paulus sebagai yang terbesar. “Kasih tidak berkesudahan.” (ay 8).

Sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui kasih seperti apa sebenarnya yang dikehendaki Tuhan untuk kita aplikasikan dalam hidup. Dia sudah memberikan itu semua lewat Roh Kudus (Roma 5:5). Sekarang keputusan ada di tangan kita. Apakah kita mau mengaplikasikannya dalam setiap sisi kehidupan kita, mencurahkan kasih Allah kepada orang lain juga, atau kita hanya mau menyimpannya untuk diri sendiri saja? Sesungguhnya kedua hukum yang terutama, mengasihi Allah dan manusia itu haruslah berjalan secara bersamaan. Bayangkan jika kita hanya terus melayani di gereja tapi tidak peduli terhadap tetangga kita yang sedang ditimpa masalah. Kita sibuk di gereja tapi menutup mata dari jiwa-jiwa yang ada di luar dinding-dindingnya. Kita terus membuka dompet lebar-lebar untuk persembahan tetapi orang yang kesusahan di dekat kita tidak kita pedulikan. Atau, kita mengira bahwa cukup mengucurkan uang tetapi tidak mau ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan, apalagi menjalankan Amanat Agung. Itu bukanlah bentuk kasih yang penuh.Lakukan keduanya sejalan, dan dasarkan dalam kasih, bukan kepentingan-kepentingan lainnya.

Pengharapan terhadap dunia yang fana ini akan sia-sia, tapi kasih yang bersumber dari Allah, yang dikaruniakan lewat Roh Kudus itu mampu membebaskan. Meski kita bisa berbicara dalam berbagai bahasa, hebat dalam menyampaikan berita dari Tuhan, memiliki pengetahuan hingga rahasia-rahasia firman Tuhan, memiliki iman yang sanggup mencampakkan gunung ke laut, sangat royal menyumbang bahkan rela dibakar sekalipun demi kepercayaan yang kita anut, jika kita tidak mempunyai kasih maka semuanya akan sama sekali tidak berguna, sia-sia saja bagai gong yang gemerincing tanpa arti.

Tuhan Yesus mengingatkan “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:21-23). Dan Tuhan menghendaki kita untuk hidup dengan kasih, tinggal di dalam kasih dan menyatakan kasih kepada Tuhan dan sesama. Jika bentuk kasih yang sebenar-benarnya ini yang kita miliki, disanalah orang akan bisa melihat kemuliaan Tuhan secara nyata. Itulah yang akan membedakan kita dari dunia ini. Hari ini mari kita baca baik-baik dan renungkan kemudian perkatakan 1 Korintus 13 ini. Dan mulailah mengaplikasikannya dalam kehidupan kita. Kasih seperti itu sudah dicurahkan Tuhan bagi kita, tinggal kita yang mengeluarkan, mengolah dan memakainya untuk bisa menjadi berkat bagi siapapun tanpa terkecuali. Only then you will witnesss that love really never fails.

A life without love is no life at all

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Gemerincing Tak Bermakna (1)

Ayat bacaan: 1 Korintus 13:1
========================
“Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.”

Suatu kali sebelum konser musik dimulai, anak dari pemain drum mendekati ayahnya yang sedang men-setting instrumennya. Si anak sepertinya sering melihat ayahnya berlatih di rumah, dia langsung mengambil stick dan memukul drum. Ayahnya dan orang-orang yang ada disana pun tertawa melihat gaya lucu si anak. Ia masih balita, ia belum tahu bagaimana bermain drum dan menghasilkan beat dari setiap ketukan pada bagian-bagian drum tersebut. Drum tersebut ditangan ahli seperti sang ayah tentu bisa menghasilkan bunyi yang melengkapi kesempurnaan sebuah komposisi atau lagu, sedangkan saat dipukul asal-asalan tanpa pola tentu yang muncul hanyalah bunyi yang tanpa makna, yang mungkin saja akan mengganggu telinga kita.

Saya ingin membahas lebih jauh topik dalam renungan terdahulu yaitu tentang kasih. Jika kemarin saya sudah menggambarkan betapa besarnya kasih Allah pada kita dan bagaimana kasih bisa berperan besar dalam kehidupan ini, hari ini kita akan melihat lebih lanjut kasih seperti apa yang sebenarnya mampu membuat perbedaan itu. Paulus menjabarkan itu semua secara lengkap dan jelas dalam 1 Korintus 13. Mari kita lihat seperti apa kasih yang sebenarnya.

“Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.” (1 Korintus 13:1).

Paulus mengatakan, meski dia bisa berkata-kata dengan berbagai bahasa yang ada di dunia ini bahkan bahasa malaikat sekalipun, tapi jika ia tidak memiliki kasih terhadap orang lain, maka ia tidak lebih dari bunyi gong dan canang tanpa makna, yang hanya berbunyi tapi tidak punya arti apa-apa. Lalu kita lihat ayat berikutnya.

“Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.” (ay 2).

Kita tahu bahwa Paulus adalah seseorang dengan begitu banyak karunia. Dia memiliki karunia bernubuat, dia punya pengetahuan yang sangat dalam mengenai rahasia surgawi dan kita tahu bahwa Paulus adalah sosok yang memiliki iman yang kuat. Dalam ayat 2 di atas ia menyebutkan iman seperti yang digambarkan Yesus, dimana iman yang sebesar biji sesawi saja akan mampu memindahkan gunung untuk tercampak kelaut seperti yang bisa kita baca dalam Matius 21:21 dan Markus 11:23. Tidakkah semua itu luar biasa? Lalu, mungkinkah orang yang memiliki karunia selengkap itu dikatakan tidak berguna? Tapi Paulus menekankan, bahwa sehebat apapun orang itu, sebesar apapun kemampuan rohani seseorang, mereka tetap saja tidak ada gunanya jika tidak mempunyai kasih.

Selanjutnya Paulus berkata: “Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.” (ay 3). Suka menyumbang, beramal? Banyak menyumbang untuk gereja? Atau bahkan merelakan diri untuk dibakar karena agama yang anda anut? Rela mati dibom demi kepercayaan? Paulus mengatakan bahwa semua itu tidaklah ada manfaatnya sama sekali jika tidak ada kasih.

(bersambung)

Love Never Fails (2)

(sambungan)

Jika Allah mengasihi kita sebegitu besar dan kita sudah merasakan sendiri betapa indahnya kasih Allah yang tanpa batas itu, bukankah kita seharusnya  mengasihi Tuhan kembali, dan harus pula bisa mengaplikasikan kasih seperti itu kepada sesama? Tidakkah keterlaluan apabila kita justru lebih tertarik mengisi hidup dengan banyak kebencian, iri hati, dengki dan sejenisnya, hanya mau menerima kasih tapi tidak mau memberi? Padahal Firman Tuhan dengan tegas berkata: “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:8).

Itu wajar mengingat Allah sendiri mengasihi kita semua dengan kasih setiaNya yang melimpah. Lalu jika ada yang berkata bahwa ia tidak memiliki kasih seperti itu dalam hidupnya? Alkitab sudah menyebutkan bahwa kita semua telah memiliki bentuk kasih yang seperti itu dalam hidup kita! Dalam Roma 5:5 kita bisa membaca dengan jelas bahwa kasih Tuhan telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Lihatlah bahwa yang dipakai adalah “telah dicurahkan”, bukan akan, bakal atau mudah-mudahan dicurahkan. Artinya, semua itu sebenarnya sudah kita miliki sepenuhnya lewat Roh Kudus. Tinggal kita yang memutuskan apakah kita mau berjalan dalam hidup ini dengan digerakkan oleh kasih atau kita masih terus berpusat pada kepentingan diri sendiri dan sulit untuk mengasihi dan bersyukur buat orang lain.

Kasih merupakan elemen terpenting yang seharusnya menjadi pola dasar dimana kekristenan dibangun, dan dengan sendirinya menjadi cerminan nyata dari kehidupan orang percaya. Ketika yang lain akan berakhir, tidak demikian halnya dengan kasih. “Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap…Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (1 Korintus 13:8,13). Kasih akan terus menuntun kita ke dalam koridor yang benar menuju keselamatan, dan masih akan berlaku di kehidupan kekal nanti. Seperti itulah pentingnya kasih yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita semua.

Apakah ada di antara anda yang saat ini tengah frustasi karena keluarga anda tidak kunjung mengalami pemulihan? Apakah anda mulai putus asa melihat anggota keluarga yang terus terjerumus dalam dosa? Komunikasi yang sepertinya sulit terbangun diantara anda, atau anda stres akibat berbagai permasalahan yang seakan tidak selesai? Orang-orang keras kepala yang seolah sengaja ingin membuat anda kesal tanpa henti atau bahkan kecapaian sendiri dengan membenci atau iri hati terhadap orang lain, mengapa tidak menggantikannya dengan kasih? Ingatlah bahwa firman Tuhan sudah berkata bahwa kasih tidak pernah gagal. Kasih mampu mengatasi berbagai permasalahan dan menjaga agar sukacita senantiasa hadir dalam kehidupan kita. Kasih mampu membawa berbagai berkat dari Tuhan, damai sukacita bahkan pemulihan dalam hidup kita.Sentuhlah orang lain dengan kasih yang berasal dari Tuhan, dan saksikanlah bagaimana kasih mampu mengubahkan segalanya menjadi lebih baik.

Keep living in/with love, because love never fails

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Love Never Fails (1)

Ayat bacaan: 1 Korintus 13:8
===================
“Love never fails” (Amplified Bible)

Ada beberapa orang yang saya kenal selalu menahan diri untuk tidak menunjukkan kasih secara ekspresif kepada anak-anaknya. Mengapa mereka begitu? Alasannya kurang lebih sama: mereka tidak ingin anaknya menjadi manja, ingin anak mandiri dan kuat. Mereka beranggapan cinta atau kasih merupakan penghalang seseorang untuk menjadi tegar dalam menghadapi dunia yang sulit. Cinta/kasih itu mereka anggap melemahkan. Saya sudah begitu sering mendengar bagaimana kasih bisa mengatasi begitu masalah-masalah yang berat. Anak-anak bermasalah pulih ketika mereka merasakan kasih. Berbagai bentuk hubungan yang sudah rusak selama waktu yang panjang bisa tersambung kembali karena kasih. Ada yang kembali menemukan semangat lewat kasih yang mereka dapat, bahkan ada pula yang sembuh dari penyakitnya karena didorong oleh kasih. Tidakkah anda pernah mendengar hal-hal seperti itu?

Perhatikan keluarga yang penuh kasih dengan yang sudah berjalan sendiri-sendiri, dingin atau bahkan panas karena seisinya ribut melulu satu sama lain. Bagi anda yang punya hewan peliharaan seperti saya, anda tentu setuju kalau kasih antara kita dan mereka ternyata mampu menjembatani hubungan antara kita dan mereka meski bahasanya berbeda. Kasih punya tenaga yang luar biasa besar dan sangat sanggup melakukan hal-hal yang besar bahkan di luar logika kita. Tidaklah salah kalau ada ayat yang berbunyi: “Love never fails”.

Kita bisa menemukan ayat tersebut dalam 1 Korintus 13:8. Benar, dalam Alkitab kita ayatnya berbunyi: “Kasih tidak berkesudahan.” Tetapi jika kita melihat versi Amplified Bible, disana ayat ini berbunyi “Love never fails”. Kasih, cinta atau love tidak akan pernah gagal untuk membuat perubahan-perubahan dalam kehidupan kita menuju ke arah yang lebih baik. Seorang pendeta pernah berkata bahwa kalau Alkitab diibaratkan sebagai sebuah jeruk, apabila diperas habis maka sari yang akan kita peroleh adalah kasih. Dan itu benar adanya. Semua bermuara kepada kasih. Kasih pula yang menjadi dua hukum yang terutama yang diberikan Yesus sendiri. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Matius 22:37-40).

Soal kasih, Tuhan telah menganugerahkan kasih kepada setiap manusia sejak semula. Mulai dari ciptaan yang pertama, orang-orang pada masa sebelumnya, yang hidup saat ini sampai kepada generasi-generasi selanjutnya. Kasih merupakan sebuah pemberian yang luar biasa besarnya dan indahnya, karena bisa kita bayangkan apa jadinya hidup ini tanpa kasih. Tidak saja memberikan kasih kepada manusia, tapi Tuhan sendiri justru terlebih dahulu telah melimpahkan kasihNya yang teramat sangat besar justru di kala manusia masih hidup berselubung dosa. “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5:8). Sebagai bukti kasihNya kepada kita, Yesus pun hadir di dunia ini, rela mengorbankan segalanya demi diri kita semua. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16).

Itu sebentuk kasih yang sungguh besar yang bahkan sulit untuk ditiru oleh manusia. Dan lihatlah bahwa apa yang sanggup menggerakkan Allah untuk rela melakukan hal seperti itu tidak lain dan tidak bukan adalah kasih. Mungkin kita mau mengorbankan nyawa demi anak atau istri/suami, orang tua atau saudara, tapi maukah kita memberikan nyawa bagi orang yang tidak kita kenal sama sekali? Atau kepada orang yang jahat? Rasanya tidak satupun dari kita yang mau, tapi Tuhan mau. Itu adalah bukti dari kasihNya yang begitu besar, yang sudah Dia lakukan bagi kita semua. Jika hari ini kita hidup dalam sebuah kehidupan yang dekat secara pribadi dengan Tuhan, jika hari ini kita memiliki Roh Kudus yang senantiasa menuntun kita agar tidak salah melangkah, jika hari ini kita sudah diberikan kunci kerajaan Surga, artinya diberikan keselamatan lengkap dengan petunjuk melangkah agar semua itu terjadi dalam kepastian, itu semua adalah berkat Yesus yang rela turun ke dunia mengambil rupa seorang hamba, dan itu adalah penggenapan dari kehendak Allah yang didasari kasih kepada semua manusia.

(bersambung)

Invalid Access Key – FullContentRSS.com

The Access Key you entered is INVALID, EXPIRED or has been RESETED! Contact FullContentRSS.com to get the access key. Full Content RSS is the best full-text-rss-feed converter. It is an online tool to convert partial rss feed to full story rss feed.

Doa Bapa Kami

YESUS mengajarkan doa Bapa Kami kepada kita semua. Sebuah doa singkat, sederhana, indah dan sempurna.

Dalam doa ini, kita diundang untuk mengimani Allah sebagai Bapa kita semua. KasihNya sungguh besar sehingga Ia rela mengutus Putra TunggalNya ke dunia untuk menebus dosa kita semua.

Sapalah Bapa dengan hormat dan penuh kasih.

Utamakan selalu kehendakNya dan sandarkan hidup kita seutuhnya kepada penyelenggaraanNya.

Jauhi segala laranganNya dan mohon rahmatNya agar kita mampu mengampuni yang bersalah kepada kita. Dengan demikian kita dapat hidup rukun, damai dan saling mengasihi.

Mari panjatkan doa ini dengan sepenuh hati, hayati maknanya dan implementasikan di dalam kehidupan kita sehari-hari agar kita layak disebut sebagai anak-anakNya.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Tags : ,

Kata Mutiara – Selasa 16 Februari 2016

[unable to retrieve full-text content]16 Feb 2016 Sesawi KMBERDOA, berharap dan jangan khawatir. Kekhawatiran tidak ada gunanya. Allah penuh belas kasih, dan akan mendengarkan doamu. Padre Pio Kredit foto: Ilustrasi

Tags :