Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

26Juli

“Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar”
(Sir 44:1.10-15; Mat 13:16-17)

” Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena
mendengar. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan
orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak
melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak
mendengarnya” (Mat 13:16-17), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta
St.Yoakim dan Anna, orangtua SP Maria, hari ini saya sampaikan
catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orangtua yang berhasil mendidik anak-anaknya dan kemudian
anak-anak tumbuh berkembang menjadi orang dewasa yang berguna bagi
hidup bersama dalam hidup menggereja maupun bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara, maka pada masa tuanya/lansianya akan berbahagia, karena
melihat dan mendengar anak-anak sukses atau berhasil. Maka dengan ini
kami berharap kepada para orangtua dapat meneladan Yoakim dan Anna,
orangtua SP Maria, yang kita kenangkan hari ini: hendaknya anda
sebagai orangtua sungguh mendidik dan membina anak-anaknya dengan baik
dan benar, karena orangtua merupakan pendidik utama dan pertama bagi
anak-anaknya. Mendidik berasal dari akar kata bahasa Latin ‘educare’,
yang berarti menuntun ke luar. Salah satu dampak negatif dari internet
yang begitu menguasai atau menyita waktu anak-anak adalah mereka akan
tumbuh berkembang menjadi manusia egois  dan ‘pengumpul’, bukan sosial
dan pemberi. Memberi bagi kita umat beriman bukan sekedar kewajiban
moral belaka, melainkan merupakan suatu keharusan karena kita telah
menerima segala sesuatu yang telah kita nikmati dan kuasai serta
miliki saat ini dari Allah melalui sekian banyak orang yang telah
berbuat baik kepada kita atau memperhatikan kita dengan dan melalui
aneka cara dan bentuk. Kita tahu bahwa SP Maria telah menjadi teladan
hidup umat beriman, maka selayaknya kita juga mengusahakan agar
anak-anak kita tumbuh berkembang menjadi pribadi yang dapat menjadi
teladan atau inspirasi bagi orang lain untuk semakin beriman, semakin
membaktikan diri sepenuhnya kepada Allah. Secara khusus kami
mengingatkan dan mengajak keluarga-keluarga atau orangtua katolik
untuk mendidik dan membina anak-anaknya sedemikian rupa sehingga di
antara anak-anaknya ada yang terpanggil menjadi imam, bruder atau
suster. Bagi semua  orangtua kami harapkan mendidik dan membina
anak-anak agar menjadi manusia bagi orang lain (to be man/woman
with/for others). Jika anak-anak anda tumbuh berkembang menjadi
pribadi yang demikian itu, percayalah bahwa anda akan semakin memiliki
banyak saudara atau sahabat, semakin tua atau tambah usia berarti
semakin berbahagia, dan pada waktunya nanti berbahagia selamanya
bersama Allah di sorga.

·   “Yang berikut ini adalah orang kesayangan, yang kebajikannya tidak
sampai terlupa; semuanya tetap tinggal pada keturunannya sebagai
warisan baik yang berasal dari mereka. Keturunannya tetap setia kepada
perjanjian-perjanjian, dan anak-anak merekapun demikian pula
keadaannya. Keturunan mereka akan tetap tinggal untuk selama-lamanya,
dan kemuliaannya tidak akan dihapus” (Sir 44:10-13). Kita semua
kiranya mendambakan nama kita dengan segala kebajikan yang telah kita
lakukan tak akan dilupakan orang, dan senantiasa dikenang oleh
keturunannya atau generasi berikutnya terus menerus, seperti
santo-santa atau para pahlawan, dimana namanya diabadikan untuk
menamai gedung atau jalan. Maka baiklah jika anak-anak senantiasa
dididik dan dibina dalam aneka kebajikan dan tentu saja perlu teladan
orangtua. Anda sebagai orangtua kami harapkan menjadi pasangan hidup
yang social, yang senantiasa memperhatikan orang lain, terutama mereka
yang miskin dan berkekurangan. Sekali lagi kami berharap kepada
orangtua untuk mewariskan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup,
bukan mewariskan harta benda atau uang. Nilai-nilai atau keutamaan
hidup tak akan mudah hilang atau musnah, melainkan semakin lama justru
semakin diingat dan dikenangkan oleh banyak orang. Alokasikan dan dan
tenaga yang memadai bagi pendidikan anak-anak anda, dan hendaknya
mendidik anak-anak agar tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik,
bukan pintar, orang yang senantiasa suka berbuat baik kepada orang
lain tanpa syarat. Didiklah anak-anak dalam semangat cintakasih dan
kebebasan Injili. Ketika anda memilih sekolah bagi anak-anaknya
hendaknya berusaha memilih sekolah yang sungguh memperhatikan
pembinaan moral atau budi pekerti bagi para peserta didiknya.

“TUHAN telah memilih Sion, mengingininya menjadi tempat kedudukan-Nya:
“Inilah tempat perhentian-Ku selama-lamanya, di sini Aku hendak diam,
sebab Aku mengingininya. Di sanalah Aku akan menumbuhkan sebuah tanduk
bagi Daud, Aku akan menyediakan sebuah pelita bagi orang yang Kuurapi.
Musuh-musuhnya akan Kukenakan pakaian penuh malu, tetapi di atas
kepalanya akan bersemarak mahkotanya.” (Mzm 132:13-14.17-18)

Ign 26 Juli 2013

27Juli

“Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai”
(Kel 24:3-8; Mat 13:24-30)

“Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka,
kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih
yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah
musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi.
Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang
itu. Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata:
Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari
manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya.
Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya
kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab
mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu.
Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu
aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu
dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah
gandum itu ke dalam lumbungku.” (Mat 13:24-30), demikian kutipan Warta
Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:

·   Dalam kehidupan bersama kita memiliki kecenderungan untuk
menyingkirkan atau menjauhi orang-orang yang tidak baik, bodoh, miskin
dan kurang terpandang dalam percaturan hidup bersama. Hal senada juga
kelihatan dalam pembangunan rumah: kelompok orang kaya dalam suatu
perumahan yang mewah, sementara orang-orang miskin berada di Perumnas,
yang serba terbatas fasilitasnya. Sabda hari ini mengajak dan
mengingatkan kita semua untuk tidak tergesa-gesa menyingkirkan mereka
yang tidak baik, bodoh dan miskin, melainkan hendaknya mereka dibina,
antara lain diajak bergaul dan belajar bersama dengan mereka yang
baik, pandai dan kaya. Ingat dan sadari bahwa sayur gado-gado terdiri
dari aneka jenis sayuran dan dengan demikian nikmat disantap. Memang
orang tidak baik, bodoh dan miskin sering takut bergabung dan bergaul
dengan mereka yang baik, pandai dan kaya, maka dengan ini kami
mengajak dan mengingatkan mereka yang baik, pandai dan kaya untuk
dengan rendah hati mendekati mereka yang tidak baik, bodoh dan miskin,
sehingga terjadi kebersamaan yang ditandai saling bekerjasama dalam
hidup dan bekerja. Kepada para pengusaha kami ingatkan bahwa
kebanyakan pegawai anda kiranya termasuk orang-orang miskin dan
pekerja keras, dan usaha anda sangat tergantung dari kinerja mereka,
maka kami harapkan anda sebagai pengusaha memberi kesempatan dan
kemungkinan bagi para pegawai untuk tumbuh berkembang, mengembangkan
bakat, keterampilan mereka. Demikian juga kepada para penyelenggara
dan pelaksana pendidikan di sekolah-sekolah, kami harapkan memberi
kesempatan mereka yang bodoh, dengan rendah hati didampingi agar
terbebaskan dari kebodohannya. Di dunia ini pada dasarnya tidak ada
orang bodoh, yang tidak ada adalah kemungkinan dan kesempatan, jika
semua orang memiliki kesempatan dan kemungkinan yang sama, maka
semuanya akan baik, cerdas, bermoral dan berbudi pekerti luhur adanya.

·   “Segala firman TUHAN akan kami lakukan dan akan kami dengarkan.”
(Kel 24:7), demikian kata-kata bangsa terpilih dalam perjalanan menuju
tanah terjanji. Kami percaya kita semua sedang melangkah ke suatu
tujuan atau cita-cita dengan harapan tujuan dan cita-cita akan menjadi
nyata atau terwujud. Jika anda mendambakan demikian, maka hendaknya
senantiasa berusaha hidup dan bertindak sesuai dengan firman Tuhan,
sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Masa ini kita berada di
tengah-tengah masa saudara-saudari kita, umat Islam berpuasa dan
bermatiraga, yang juga ditandai dengan kegiatan kerohanian, maka
semoga situasi ini bagi kita semua menjadi dukungan dan dorongan untuk
‘mendengarkan dan melakukan firman Tuhan’. Baiklah jika kegiatan
pendalaman iman di lingkungan-lingkungan digiatkan, dan para penggerak
kami harapkan bergairah menggerakkan kegiatan pendalaman iman. Kami
juga mengajak dan mengingatkan anda sekalian: gunakan aneka kesempatan
dalam hidup dan kerja untuk mengadakan dialog: dialog hidup, dialog
kerja, dialog iman, sehingga hidup dan kerja bersama enak dan nikmat
adanya. Rasanya yang mudah kita  lakukan adalah dialog hidup atau
dialog kerja, dimana kita saling belajar satu sama lain dalam hal
kehidupan dan bekerja. Secara khusus kami harapkan di tempat-tempat
kerja sering terjadi pertemuan rutin, mingguan atau bulanan, antara
para  pekerja untuk saling berbagi pengalaman hidup dan kerja. Ingat
dan sadari bahwa aneka keputusan atau kebijakan pada umumnya digodog
dan didiskusikan sebelum dalam suatu kebersamaan omong-omong atau
‘lobby-lobby’, saling berbagi  satu sama lain.

“Yang Mahakuasa, TUHAN Allah, berfirman dan memanggil bumi, dari
terbitnya matahari sampai kepada terbenamnya. Dari Sion, puncak
keindahan, Allah tampil bersinar.”Bawalah kemari orang-orang yang
Kukasihi, yang mengikat perjanjian dengan Aku berdasarkan korban
sembelihan!”Langit memberitakan keadilan-Nya, sebab Allah sendirilah
Hakim” (Mzm 50:1-2.5-6)

Ign 27 Juli 2013

MgB XVII

Mg Biasa XVII: Kej 18:20-33; Kol 2:12-14; Luk 11:1-13
“Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes
kepada murid-muridnya.”

Salah satu kewajiban kita sebagai umat beragama adalah berdoa, hidup
beriman atau beragama tanpa doa hambar adanya. Memang berdoa dengan
benar dan baik tidak mudah, apalagi pada masa kini kebanyakan orang
berdoa hanya hafalan kata-kata tanpa tahu isinya atau membaca teks doa
yang telah tersedia tanpa dicecap dalam-dalam. St.Ignatius dari Loyola
mengajarkan bahwa “Bukan berlimpahnya pengetahuan, melainkan merasakan
dana mencecap dalam-dalam kebenarannya itulah yang memperkenyang jiwa”
(LR no 2).  Ketika jiwa kenyang akan kebenaran-kebenaran yang
diwahyukan oleh Allah, maka mau tak mau orang akan hidup dan bertindak
sesuai dengan perintah dan kehendak Allah alias orang yang
bersangkutan hidup mesra bersama dengan Allah dalam situasi dan
kondisi apapun, dimana pun dan kapan pun. Tujuan atau sasaran berdoa
hemat saya agar kita yang berdoa hidup mesra dengan Allah, dan karena
Allah maha segalanya, maka kita akan dikuasai atau dirajainya. Marilah
kita renungkan ajaran Yesus perihal doa, sebagaimana diwartakan dalam
Warta Gembira hari ini.

“Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu;
datanglah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang
secukupnya dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun
mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah
membawa kami ke dalam pencobaan.” (Luk 11:2-4)

Pada umumnya ketika berdoa kita senantiasa mengajukan
permohonan-permohonan kepada Tuhan Allah, dan apa yang dimohon apa
yang kita inginkan sesuai dengan selera pribadi, maka ketika
permohonan tidak dikabulkan kita frustrasi dan putus asa, tak mau
berdoa lagi. Isi doa permohonan yang benar adalah agar kita senantiasa
menguduskan Nama Allah serta dirajai oleh Allah. Menguduskan Nama
Allah berarti senantiasa bersembah sujud kepada Allah, maka kiranya
berarti sama dengan ‘dirajai oleh Allah’. Kita semua adalah ciptaan
Allah dan segala sesuatu yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai
saat ini juga merupakan anugerah Allah, dan dengan demikian tanpa
Allah kita tak mungkin hidup sebagaimana adanya pada saat ini. Semoga
kita senantiasa dirajai atau dikuasai oleh Allah.

Dan ketika orang sungguh dirajai oleh Allah diharapkan cara hidup dan
cara bertindaknya dijiwai oleh kesederhanaan dan kasih pengampunan,
maka dalam berdoa hendaknya kita juga mohon kepada Allah agar hidup
sederhana serta saling mengampuni. Sederhana berarti tidak berlebihan
dan tidak banyak seluk-beluknya atau tidak berbelit-belit. Kami
berharap kita senantiasa berkata apa adanya alias jujur, ‘to the
point’. Hidup sederhana juga berarti tidak menumpuk kekayaan, harta
benda atau uang berlebihan, sehingga orang lain berkekurangan. Kami
sering mendengar ‘dana abadi’ berupa uang atau harta benda, hemat saya
tidak ada uang atau harta benda yang abadi. Hal tersebut hemat saya
dilakukan oleh orang yang sungguh khawatir akan masa depan dan
bersikap mental materialistis atau duniawi.

Hidup saling mengampuni pada masa kini sungguh mendesak dan up to date
untuk dihayati dan disebarluaskan, mengingat dan mempertimbangkan
permusuhan dan tawuran, saling menghancurkan masih marak di sana-sini.
Sekali lagi marilah kita menyatukan diri dengan rekan-rekan umat
Islam, yang hari-hari ini masih dalam suasana mawas diri, yang
nantinya diakhiri atau dimahkotai dengan saling memaafkan dan
mengampuni di Hari Raya Idul Fitri, Hari Kemenangan. Kita semua, umat
beriman atau beragama, dipanggil untuk hidup dan bertindak saling
bermurah hati dan saling mengampuni. Bermurah hati berarti hatinya
dijual murah alias siapapun senantiasa diperhatikan, dan perhatiannya
menjadi nyata dalam kasih pengampunan, sebagaimana terjadi dalam diri
orang yang membebaskan hutang kepada mereka yang berhutang kepadanya.

“Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya,
akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan?”(Luk 11:11).
Kutipan ini kiranya mengingatkan kita semua akan Allah yang sangat
bermurah hati kepada kita, manusia yang lemah dan rapuh serta berdosa
ini. Kemurahan hatiNya telah menjadi nyata dengan kedatangan
Penyelamat Dunia. Kita semua dipanggil saling bermurah hati dengan
saling menyelamatkan dan membahagiakan satu sama lain. Marilah kita
berikan yang terbaik bagi saudara-saudari kita, memberi dari
kekurangan kita, bukan dari kelebihan kita.

“Dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu
turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah,
yang telah membangkitkan Dia dari orang mati. Kamu juga, meskipun
dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara
lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia
mengampuni segala pelanggaran kita,dengan menghapuskan surat hutang,
yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan
itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib” (Kol 2:12-14)

Kutipan di atas ini kiranya secara khusus mengingatkan kita semua yang
telah dibaptis. Dibaptis bearti disucikan atau dimandikan sehingga
menjadi bersih atau suci, meninggalkan semua perbuatan dosa atau jahat
dan kemudian hidup dalam ‘kuasa Allah’. Dibaptis berarti disisihkan
atau dipersembahkan sepenuhnya kepada Allah. Maka dengan ini kami
mengajak anda sekalian yang telah dibaptis untuk mawas diri: sejauh
mana kita setia pada janji baptis, yang kita ikhrarkan ketika sedang
dibaptis?

Hidup bersih atau suci kiranya bagaikan ‘disalibkan’, dimana kaki dan
tangan dipaku sehingga tak dapat bergerak seenaknya sendiri, demikian
juga kepala bermahkota duri sehingga tak dapat berpikir seenaknya.
Maka orang yang telah dibaptis diharapkan berpikir sebagaimana
dipikirkan oleh Allah sehingga kaki dan tangannya bergerak atau
berfungsi sesuai dengan kehendak Allah. Marilah rahmat baptis kita
hayati sesuai dengan panggilan kita masing-masing, maka dengan ini
saya sampaikan ajakan sederhana untuk mawas diri:

·      Sebagai suami-isteri kami harapkan setia pada janji perkawinan,
sehingga relasi antar suami dan isteri saling menyucikan atau
membersihkan, senantiasa menempatkan pasangan di depan mata tanpa
cacat atau kerut sedikitpun. Hendaknya masing-masing menghayati
pasangan hidupnya sebagai anugerah atau kado dari Allah.

·      Sebagai rohaniwan atau rohaniwati, imam, bruder dan suster,
kami harapkan senantiasa hidup dijiwai oleh Roh Kudus, sehingga cara
hidup dan cara bertindaknya dijiwai oleh keutamaan-keutamaan ” kasih,
sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,
kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23)

·      Sebagai pekerja kami harapkan menghayati kerja bagaikan sedang
beribadat, sehingga rekan kerja bagaikan rekan ibadat, suasana kerja
bagaikan suasana ibadat, perawatan kerja bagaikan perawatan tempat
ibadat dst…

·      Sebagai pelajar atau mahasiswa kami harapkan tekun dan setia
dalam belajar, sehingga memiliki sikap mental belajar terus-menerus
sampai mati.

 ”Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu.” (Kej 18:32),
demikian firman Allah atas permohonan Abraham. Marilah kita temukan
orang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur di lingkungan hidup dan
kerja kita, dan kemudian kita ajak untuk membangun hidup bersama yang
damai dan sejahtera, terbebaskan dari malapetaka.

“Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku, di hadapan para
allah aku akan bermazmur bagi-Mu. Aku hendak sujud ke arah bait-Mu
yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena
setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala
sesuatu.Pada hari aku berseru, Engkau pun menjawab aku, Engkau
menambahkan kekuatan dalam jiwaku.” (Mzm 138:1-3)

Ign 28 Juli 2013

24Juli

“Siapa bertelinga hendaklah ia mendengar!”
(Kel 16:1-5.9-15; Mat 13:1-9)

“Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau.
Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia,
sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak
semuanya berdiri di pantai. Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam
perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: “Adalah seorang penabur keluar
untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di
pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.
Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya,
lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.Tetapi sesudah
matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak
berakar.Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah
semak itu dan menghimpitnya sampai mati.Dan sebagian jatuh di tanah
yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam
puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa bertelinga,
hendaklah ia mendengar!” (Mat 13:1-9), demikian kutipan Warta Gembira
hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:

·   Keutamaan mendengarkan pada masa kini mengalami erosi atau
kemerosotan yang sungguh memprihatinkan. Hal ini antara lain
disebabkan oleh maraknya tawaran dan rayuan hiburan berupa film-film
maupun pemakaian alat peraga pengajaran dengan film, yang mendorong
banyak orang lebih menekankan sisi visual, yang dapat dilihat, dan
kurang memperhatikan pendengaran, apa yang harus didengarkan. Apa yang
didengarkan dengan baik lebih merasuk dalam hati alias mengesan
daripada apa yang dilihat, maka dengan ini kami mengajak dan
mengingatkan anda sekalian untuk memperdalam dan memperkembangkan
keutamaan mendengarkan; memang akan menjadi sesuatu yang luar biasa
jika orang memiliki keutamaan mendengarkan dan melihat dengan baik.
Keutamaan mendengarkan hendaknya dibiasakan pada anak-anak dan peserta
didik di sekolah-sekolah. Pengalaman dan pengamatan menunjukkan bahwa
orang yang memiliki keutamaan mendengarkan serta mengembangkannya
sungguh berhasil dalam belajar, sukses luar biasa. Ketika para peserta
 didik selama di dalam kelas pada jam sekolah sungguh mendengarkan apa
yang diajarkan atau disampaikan oleh para guru/pendidik, hemat saya
pasti akan sukses dalam belajar. Memang agar kita dapat mendengarkan
dengan baik perlu memiliki keutamaan kerendahan hati, kesiap-sediaan
untuk ‘diberi, dituntun, dibimbing, dst..’. Semoga kita semua menjadi
‘tanah yang subur’, dimana benih keutamaan apapun yang ditaburkan akan
tumbuh berkembang dengan baik, seperti kesuburan rahim perempuan yang
menerima sperma laki-laki dalam waktu sembilan bulan tumbuh berkembang
menjadi manusia (sesuatu yang sangat kecil dalam waktu singkat dapat
tumbuh berkembang besar).

·     “Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu;
maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang
perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut
hukum-Ku atau tidak. Dan pada hari yang keenam, apabila mereka memasak
yang dibawa mereka pulang, maka yang dibawa itu akan terdapat dua kali
lipat banyaknya dari apa yang dipungut mereka sehari-hari.” (Kel
16:4-5), demikian firman Allah kepada Musa, yang memimpin bangsanya
menuju tanah terjanji.  Kutipan ini kiranya mengingatkan dan mengajak
kita semua bahwa kebutuhan makanan dan minuman kita sehari-hari
sungguh merupakan anugerah Allah. Memang apa yang kita makan dan minum
merupakan hasil bumi yang telah diolah, maka marilah kita usahakan dan
jaga agar bumi kita ini tetap mampu menghasilkan makanan dan minuman
yang dibutuhkan oleh manusia. Dari informasi yang tersiar
terus-menerus pada masa  kini kita menghadapi air bersih yang
memprihatinkan, dan kiranya tidak hanya air bersih saja, tetapi juga
air untuk mengairi sawah dan tanaman. Penggundulan bukit-bukit dan
pembabatan hutan yang tak terkendali merupakan salah satu sebab
munculnya krisis air. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian: di
lingkungan hidup atau rumah kita masing-masing hendaknya diusahakan
tanaman yang memadai untuk peresapan air hujan, atau dimana mungkin
dibuat resapan air hujan. Jangan biarlah lahan kosong tanpa tanaman,
dan semoga pembetonan halaman rumah juga dikurangi, syukur
dihilangkan. Aneka pabrik atau industri dengan alasan ekonomi juga
andil dalam perusakan lingkungan hidup.  Ada ketegangan yang tak
terselesaikan: kemajuan ekonomi atau kelestarian lingkungan hidup?

“Mereka mencobai Allah dalam hati mereka dengan meminta makanan
menuruti nafsu mereka. Mereka berkata terhadap Allah: “Sanggupkah
Allah menyajikan hidangan di padang gurun? Maka Ia memerintahkan
awan-awan dari atas, membuka pintu-pintu langit, menurunkan kepada
mereka hujan manna untuk dimakan, dan memberikan kepada mereka gandum
dari langit”

(Mzm 78:18-19.23-24)

Ign 24 Juli 2013

25Juli

“Barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu hendaklah ia
menjadi hambamu”

(2Kor 4:7-15; Mat 20:20-28)

” Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada
Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya.
Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah,
supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang
seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”
Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu
minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka
kepada-Nya: “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku
memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di
sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan
kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.” Mendengar
itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu.
Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa
pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan
besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas
mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi
besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa
ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;
sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk
melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak
orang.” (Mat 20:20-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta
St.Yakobus hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

·   Cukup banyak pejabat tinggi atau orang kaya dan pandai di
Indonesia ini gila hormat, dan ketika tidak dihormati sering
marah-marah. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk
senantiasa hidup dan bertindak dengan rendah hati, tidak menyombongkan
diri, dan tentu saja juga sederhana. Gubernur DKI Jokowi maupun
Gubernur terpilih Jateng Ganjar telah memilih sederhana dan rendah
hati dalam melakasanakan tugas kepemimpinannya, maka kami mengajak dan
mengingatkan semua pemimpin atau kepala daerah/pemerintahan untuk
rendah hati dan sederhana, mengingat dan memperhatikan orang-orang
atau warga miskin dan berkekurangan masih banyak. “Melayani sebagai
hamba” berarti senantiasa mengusahakan kebahagiaan dan kesejahteraan
mereka yang harus dilayani. Memang tanda keberhasilan seorang pemimpin
adalah kesejahteraan dan kebahagiaan yang dilayani atau rakyat. Selama
masih ada rakyat atau warga yang miskin dan berkekurangan berarti para
pemimpin atau atasan tidak rendah hati dan sederhana, melainkan
sombong dan hanya mengusahakan kepentingan pribadi, untuk memperkaya
diri sendiri maupun keluarga dan kerabat-kerabatnya. Secara khusus
kami juga mengingatkan dan mengajak para tokoh atau pemuka agama untuk
hidup dengan rendah hati dan sederhana, menjadi teladan atau inspirasi
bagi umat untuk hidup rendah hati dan sederhana juga. Kepada semua
saja yang beriman kepada Yesus Kristus kami ajak meneladanNya: Ia
datang untuk melayani bukan dilayani.

·   “Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata,
bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari
diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami
habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak
ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.Kami
senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya
kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” (2Kor
4:7-10). Apa yang dikatakan oleh Paulus kepada umat di Korintus di
atas ini sungguh merupakan pengalaman iman yang mendalam dan handal.
Kesaksian iman ini kiranya juga pernah menjadi inspirasi bagi para
Yesuit dalam Konggregasi Jendral ke 32, dimana menyatakan bahwa
“Yesuit adalah pendosa yang dipanggil Allah untuk bergabung dengan
PuteraNya, Yesus”, yang rela menderita dan berkorban demi keselamatan
umat manusia di permukaan bumi ini. Kami mengajak dan mengingatkan
segenap umat beriman untuk senantiasa hidup dan bertindak dijiwai oleh
iman, artinya hidup dan bertindak tidak seenaknya sendiri, hanya
mengikuti keinginan atau selera pribadi, melainkan senantiasa
melaksanakan kehendak dan perintah Allah. Biarlah ‘Allah sungguh hidup
dan berkarya’ dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Kita bagaikan
tanah liat kena sentuhan sedikit saja hancur, apalagi dibanting.
Secara khusus kami berharap kepada rekan-rekan biarawan dan biarawati
untuk dapat menjadi teladan dalam hidup dan bertindak sesuai dengan
spiritualitas pendiri, atau menghayati apa yang dikatakan oleh Paulus
di atas. Biarlah aneka penderitaan, perjuangan dan pengorbanan sebagai
konsekwensi penghayatan kaul membiara, merupakan kesempatan emas
sebagai orang yang terpanggil untuk bersaksi.

” Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti
orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan
tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah
orang di antara bangsa-bangsa: “TUHAN telah melakukan perkara besar
kepada orang-orang ini!” TUHAN telah melakukan perkara besar kepada
kita, maka kita bersukacita.” (Mzm 126:1-3)

Ign 25 Juli 2013

MgB XVI

Mg Biasa XVI: Kej 18:1-10a; Kol 1:24-28; Luk 10:38-42
“Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku
melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.”

Ada seorang suster, sebut saja namanya “Sr.Marta”, dikenal sebagai
suster yang senang bekerja keras serta membantu aneka kegiatan di
paroki. Pada suatu saat paroki dimana suster tersebut bekerja sedang
merayakan pesta ulang tahun paroki, dan untuk itu ia sungguh bekerja
keras membantu agar pesta ulang tahun paroki sukses, sehingga ia
kurang memperhatikan istirahat pribadi maupun makan dan minum. Ketika
ada sesuatu yang tak beres meledaklah kemarahan suster tersebut, dan
ternyata ledakan kemarahan tersebut merupakan ungkapan bahwa ia
sungguh marah karena sudah bekerja keras tak ada seorangpun yang
memberi pujian. Dengan kata lain segala usaha kerja keras dan bantuan
suster tersebut tak ada artinya sama sekali baik bagi dirinya sendiri
maupun orang lain dalam arti demi semakin beriman atau membaktikan
diri sepenuhnya kepada Allah. Begitulah yang sering terjadi dalam
kehidupan bersama: ada orang bekerja keras dan kelihatan begitu
social, tetapi itu hanya sandiwara belaka, karena yang dicari adalah
pujian dari sesamanya. Kerja keras tanpa senyuman dan keceriaan memang
dapat menjadi malapetaka. Marilah kita berrefleksi dengan cermin sabda
hari ini: pengalaman Marta atau pengalaman Maria?

“Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini
duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang
Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan,
tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani
seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.”Tetapi Tuhan menjawabnya:
“Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak
perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian
yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya” (Luk 10:39-42)

Marta dan Maria sering menjadi symbol ‘bekerja dan berdoa’, ‘ora et
labora’, dan orang ada yang cenderung lebih mengutamakan bekerja
daripada berdoa atau sebaliknya lebih mengutamakan berdoa daripada
bekerja. Yang benar hemat saya adalah berdoa tidak dapat dipisahkan
dari bekerja atau sebaliknya bekerja tak dapat dipisahkan dari berdoa,
dan hanya dapat dibedakan. Dengan kata lain yang ideal, sebagaimana
diajarkan oleh St.Ignatius Loyola adalah ‘menemukan Allah dalam segala
sesuatu’ atau ‘menghayati segala sesuatu dalam Allah’ (contemplativus
in actione).

Marilah “memandang bagaimana Allah tinggal dalam ciptaan-ciptaanNya,
dalam unsur-unsur, memberi ‘adanya’; dalam tumbuh-tumbuhan, memberi
daya tumbuh; dalam binatang-binatang, daya rasa; dalam manusia,
memberi pikiran; jadi Allah juga tinggal dalam aku, memberi aku ada,
hidup,  berdaya rasa dan berpikiran. Bahkan dijadikan olehNya aku
bait-Nya, karena aku lebih diciptakan serupa dan menurut citra yang
Mahatinggi” (St.Ignatius Loyola: Latihan Rohani no 235). Pertama-tama
dan terutama marilah kita sadari dan hayati bahwa Allah tinggal dalam
diri kita yang lemah dan rapuh ini, sehingga kita ‘ada, hidup, berdaya
rasa dan berpikiran’. Hidup atau mati adalah milik Allah, maka jika
kita masih hidup, berdaya rasa dan berpikiran tidak lain sungguh
merupakan karya Allah dalam dan melalui diri kita yang lemah dan rapuh
ini. Segala sesuatu adalah anugerah Allah (“everything is given”),
maka selayaknya kita senantiasa dimana pun dan kapan pun hidup dengan
penuh syukur dan terima kasih, rendah hati, tidak sombong.

Allah juga hidup dan berkarya dalam binatang dan tumbuh-tumbuhan atau
tanaman, maka marilah kita imani kehadiranNya dalam binatang dan
tanaman. Tentu saja iman ini harus menjadi nyata dalam perawatan
binatang maupun tanaman sesuai dengan kehendak Allah. Dengan kata lain
marilah kita usahakan lingkungan hidup kita sungguh menarik, memikat
dan mempesona, karena banyak aneka tanaman dan binatang hidup dengan
baik. Jika lingkungan hidup baik kiranya juga enak untuk bekerja dan
berdoa, sehingga tidak ada yang mengeluh atau menggerutu.  Semoga
semakin tekun bekerja anda juga semakin tekun berdoa, dan sebaliknya
semakin tekun berdoa juga semakin tekun bekerja. Janganlah memisahkan
kerja dan doa, melainkan integrasikan doa anda ke dalam kerja, doa
hendaknya menjiwai kerja dan kerja semakin memperdalam doa.

“Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan
menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus,
untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.Aku telah menjadi pelayan jemaat itu
sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan
firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu, yaitu rahasia yang
tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang
sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya.” (Kol 1:24-26)

Kutipan ini sungguh merupakan sharing pengalaman iman Paulus yang
sangat mendalam, maka kiranya bagi kita yang beriman kepada Yesus
Kristus diajak atau dipanggil untuk meneladannya. Ingatlah, sadari dan
hayati bahwa beriman kepada Yesus Kristus hemat saya kita harus
meneladan kerendahan hatiNya sampai Ia rela menderita dan wafat di
kayu salib demi keselamatan umat manusia seluruh dunia, yang ada di
permukaan bumi ini. Penderitaan sebagai buah atau konsekwensi
kesetiaan hidup beriman adalah jalan atau wahana menuju ke kebahagiaan
atau keselamatan sejati, demi hidup baru sesuai dengan kehendak Allah.

Hemat saya rekan-rekan wanita atau perempuan yang pernah melahirkan
anaknya memiliki pengalaman mendalam perihal siap sedia menderita bagi
yang lain, yaitu ketika sedang melahirkan anaknya. Dalam dalam
kenyataan konkret pada umumnya rekan-rekan wanita atau perempuan lebih
kuat dalam penderitaan daripada laki-laki. Maka kami berharap
pengalaman anda dalam hal menderita bagi yang lain dibagikan atau
diwariskan kepada anak-anak anda, sehingga anak-anak kelak tumbuh
berkembang siap menderita demi kebahagiaan atau kesejahteraan orang
lain.

Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita dipaanggil untuk
meneruskan atau mewartakan firman-firman atau ajaran-ajaranNya, dan
hemat saya semua firman atau ajaranNya dapat dipadatkan dalam ajaran
untuk saling mengasihi sebagaimana Allah telah mengasihi kita.
Bukankah kasih Allah kepada kita ditandai dengan pengorbanan, dengan
mengutus Yesus Kristus, yang kemudian juga harus menderita dan wafat
demi keselamatan kita semua. Hidup saling mengasihi memang harus siap
sedia untuk saling berkorban, siap menderita demi yang  terkasih. Kami
percaya para orangtua atau bapak ibu memiliki pengalaman mendalam
dalam hal berkorban dan menderita bagi anak-anak yang dianugerahkan
Allah kepada anda berdua. Cintakasih tanpa pengorbanan hemat saya
bukan cintakasih sejati, melainkan hanya pura-pura atau permainan
sandiwara belaka.

 ”Tuanku, jika aku telah mendapat kasih tuanku, janganlah kiranya
lampaui hambamu ini. Biarlah diambil air sedikit, basuhlah kakimu dan
duduklah beristirahat di bawah pohon ini; biarlah kuambil sepotong
roti, supaya tuan-tuan segar kembali; kemudian bolehlah tuan-tuan
meneruskan perjalanannya; sebab tuan-tuan telah datang ke tempat
hambamu ini” (Kej 18:3-5). Kutipan ini adalah kata-kata utusan Allah
kepada Abraham, dan kiranya juga dapat menjadi pegangan bagi kita
semua, antara lain sebagai orang beriman hendaknya kita saling
membasuh kaki satu sama lain alias saling membersihkan. Marilah kita
saling memperhatikan dan membersihkan disertai dengan kerendahan hati
dan pengorbanan.

“Dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang
mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, yang tidak menyebarkan
fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan
yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya; yang memandang hina
orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN”
(Mzm 15:2-4b)

Ign 21 Juli 2013

22Juli

“Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: Aku telah
melihat Tuhan!”

(2Kor 5:14-17; Yoh 20:1.11-18)

“Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih
gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu
telah diambil dari kubur. Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis.
Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya
dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah
kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring.
Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis?”
Jawab Maria kepada mereka: “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak
tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke
belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu,
bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: “Ibu, mengapa engkau
menangis? Siapakah yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu adalah
penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: “Tuan, jikalau tuan yang
mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia,
supaya aku dapat mengambil-Nya.” Kata Yesus kepadanya: “Maria!” Maria
berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: “Rabuni!”,
artinya Guru. Kata Yesus kepadanya: “Janganlah engkau memegang Aku,
sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada
saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku
akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.”
Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: “Aku telah
melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu
kepadanya.” (Yoh 20:1.11-18), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta
St.Maria Magdalena hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:

·   Orang yang sungguh menghayati diri sebagai ‘yang
terkasih/dikasihi’ pada umumnya tidak memiliki ketakutan atau
kekhawatiran apapun, sebagaimana terjadi dalam diri Maria Magdalena
yang kita kenangkan hari ini. Pagi-pagi benar, sementara kebanyakan
orang masih tertidur pulas/nyenyak, Maria Magdalena sendirian pergi ke
kuburan. Kiranya banyak orang takut pagi-pagi benar atau malam hari
sendirian pergi ke kuburan, apalagi baru saja orang yang dimakamkan.
Maria pergi ke kuburan sebenarnya bermaksud untuk meminyaki kembali
Yesus yang telah wafat di kayu salib dan dimakamkan, mengingat waktu
pemakaman tergesa-gesa, sehingga kurang lengkap. Namun yang terjadi
sungguh diluar dugaan: ia bertemu dengan Yesus yang telah bangkit dari
mati, dan kemudian ia pun dengan ceria menyampaikan hal itu kepada
para rasul:”Aku telah melihat Tuhan”. Maka dengan ini kami
mengaharapkan segenap kaum beriman untuk tidak takut dan was-was
memperbaiki apa yang kurang/tidak baik tanpa menunggu perintah. Jika
kita sungguh menghayati diri sebagai ‘yang terkasih’ kiranya kita
memiliki kepekaan terhadap orang lain, terutama mereka yang sungguh
membutuhkan bantuan, maka dengan ini kami mengajak anda sekalian untuk
menghayati diri sebagai ‘yang terkasih’, yang berarti siapapun
senantiasa mengasihi kita yang lemah dan rapuh ini. Kepada
saudara-saudari kita kiranya kita dipanggil meneladan Maria dengan
berkata :”Aku telah melihat Tuhan”, yang hadir dalam diri
saudara-saudari kita yang membutuhkan bantuan. Marilah kita tingkatkan
dan perdalam kepekaan kita kepada orang lain, dengan kata lain marilah
saling peka satu sama lain sebagai saudara.

·   “Kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti,
bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua
sudah mati. Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka
yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia,
yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. Sebab itu kami
tidak lagi menilai seorang juga pun menurut ukuran manusia” (2Kor
5:14-16). Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk ‘tidak lagi
menilai seorang juga pun menurut ukuran manusia”, melainkan menurut
ukuran Allah. Menilai menurut ukuran Allah berarti lebih melihat
keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan yang ada dalam diri
saudara-saudari kita, yang menjiwai cara hidup dan cara bertindak
mereka. Dengan kata lain kita harus lebih menghormati mereka yang
lebih suci daripada kita, bukan yang lebih kaya atau pandai dan
berpangkat daripada kita. Allah lebih melihat apa yang ada di dalam
lubuk hati, bukan yang kelihatan secara fisik, bukan kecantikan atau
ketampanan. Maka kita jangan terjebak pada wanita-wanita cantik atau
laki-laki tampan yang sebenarnya mengajak kita untuk berpikiran jahat.
Memang kita berharap semoga mereka yang dianugerahi kecantikan atau
ketampanan juga memiliki  hati yang suci dan bersih. Marilah kita
didik dan bina anak-anak untuk memiliki hati yang suci dan bersih, dan
tentu saja para orangtua atau bapak-ibu juga dapat menjadi teladan
dalam hal kesucian dan kebersihan hati, karena Allah sungguh hidup dan
berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini.

“Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus
kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan
tandus, tiada berair.Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat
kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu. Sebab kasih
setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan
Engkau.Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan
tanganku demi nama-Mu.” (Mzm 63:2-5)

Ign 22 Juli 2013

20Juli

“Sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkanNya”
(Kel 12:37-42; Mat 12:14-21)

“Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh
Dia. Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana.
Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Ia
dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya genaplah
firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Lihatlah, itu Hamba-Ku yang
Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan
menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada
bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan
orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah
terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya
tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan
pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap.” (Mat 12:14-21), demikian
kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:

·   Setia pada panggilan dan tugas pengutusan sering harus menghadapi
ancaman atau persekongkolan yang berusaha menghambat atau
menyingkirkan. Hambatan atau persekongkolan tersebut mungkin sungguh
berat, sehingga kita tak akan mampu mengatasinya, maka baiklah untuk
sementara kita menjauhinya atau menyingkir dari mereka. Kita
menyingkir ke tempat lain atau menyepi sendiri untuk berdoa mohon
kekuatan atau rahmat Allah guna menghadapi ancaman atau persekongkolan
tersebut. Ada kemungkinan kita juga mengalami frustrasi atau loyo
karena aneka kegagalan, namun jika dalam hati kecil kita masih ada
harapan hendaknya jangan menjadi putus asa. Harapan kecil yang ada
dalam hati anda pada waktunya akan membesar dan menjadi kuat, sehingga
anda terlepas dari frustrasi atau keloyoan. Dengan kata lain marilah
kita imani Penyelenggaraan Ilahi, pendampingan dan karya Allah dalam
hidup kita sehari-hari yang tak pernah putus atau tak pernah berhenti.
PenyelenggaraanNya menjadi nyata dalam diri orang-orang yang
berkehendak baik, maka ketika anda merasa frustrasi atau loyo,
terancam atau dihambat oleh persekongkolan, hendaknya datang kepada
mereka yang berkehendak baik untuk menolong kita. Percayalah bahwa
orang yang berkehendak baik ada dimana-mana dan kapan saja. Sabda hari
ini juga mengajak dan mengingatkan kita semua untuk membantu mereka
yang frustrasi atau loyo atau menghadapi ancaman dan persekongkolan.
Jangan matikan mereka itu, melainkan damping dan ajak untuk tetap
memiliki harapan bahwa apa yang diusahakan atau dicita-citakan pasti
akan berhasil pada waktunya. Dengan kata lain kita semua dipanggil
untuk hidup dan bertindak dengan sabar.  ”Sabar adalah sikap dan
perilaku yang menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan gejolak diri
dan tetap bertahan seperti keadaan semula dalam menghadapi berbagai
rangsangan atau masalah” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman
Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24).

·   “Sesudah lewat empat ratus tiga puluh tahun, tepat pada hari itu
juga, keluarlah segala pasukan TUHAN dari tanah Mesir. Malam itulah
malam berjaga-jaga bagi TUHAN, untuk membawa mereka keluar dari tanah
Mesir. Dan itulah juga malam berjaga-jaga bagi semua orang Israel,
turun-temurun, untuk kemuliaan TUHAN.” (Kel 12:41-42). Kutipan ini
kiranya menunjukkan bahwa Allah senantiasa setia pada umatNya, yang
dengan penuh kesabaran disertai dengan aneka penderitaan dan
pengorbanan tetap mempercayakan diri pada Penyelenggaraan Ilahi.
Kutipan ini juga mengingatkan kita semua penting ‘matiraga’ dalam
rangka hidup beriman. Hemat saya ‘matiraga’ pada masa kini kurang
memperoleh perhatian, antara lain karena pelaksanaan system pendidikan
yang terjadi di negeri kita tercinta  ini. Dimana-mana ada usaha agar
para peserta didik selalu naik kelas, dan untuk itu dilakukan
‘mark-up’ nilai-nilai. Cara demikian itulah yang merusak moral bangsa
Indonesia. Hal ini diperparah oleh sikap mental ‘instant’ yang marak
di negeri kita ini. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak
kita semua untuk membiasakan diri ‘matiraga’. Contoh konkret adalah
dalam hal makan dan minum: hendaknya makan dan minum apa-apa yang
sehat meskipun tidak enak. Ketika orang terbiasa berani matiraga dalam
hal makan dan minum, hemat saya yang bersangkutan juga akan dengan
mudah menjadi sabar dalam menghadapi aneka tantangan dan masalah. Kami
berharap anak-anak di dalam keluarga sedini mungkin dilatih atau
dibiasakan dalam hal matiraga dengan teladan konkret dari orangtua.
Kami berharap kepada kita semua untuk hidup dan bertindak mengikuti
‘proses’ yang baik, sesuai dengan Penyelenggaraan Ilahi.

“Kepada Dia yang memukul mati anak-anak sulung Mesir; bahwasanya untuk
selama-lamanya kasih setia-Nya.Dan membawa Israel keluar dari
tengah-tengah mereka; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
Dengan tangan yang kuat dan dengan lengan yang teracung! Bahwasanya
untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” (Mzm 136:10-12)

Ign 20 Juli 2013

Boros dan Mewah, Paus Nonaktifkan Mgr. Franz-Peter Tebarz-van Elst

MASIH ada waktu bagi Uskup Limburg Mgr. Franz-Peter Tebarz-van Elst untuk menjelaskan kepada Paus Fransiskus di Vatikan mengenai gaya hidupnya yang dituding mewah dan suka menghaburkan duit Gereja. Akan duduk bersama Paus untuk mendengarkan “pengakuan” Uskup Bling –demikian nama olok-olokan media Jerman untuk Mgr. van Elst—adalah Uskup Agung Cologne (Koln) Kardinal Joachim Meisner. Sebelum “pengadilan […]

“Captain Phillips”, Diplomasi Sekoci Tundukan Perompak Somalia

KALAU saja para awak kapal sipil boleh membawa senjata dan membalas setiap ancaman dan apalagi serangan bersenjata, sudah barang tentu gerombolan perompak Somalia tidak akan sebegitu besar nyalinya menyandera tanker dan awaknya demi segepok uang. Namun, aturan pelayaran internasional merekomendasikan, kapal-kapal sipil sebaiknya tidak dipersenjatai. Tapi, itulah yang membuat kapal kargo Maersk Alabama pimpinan Kapten […]