Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

15 Jan – 1Sam 8:4-7.10-22a; Mrk 2:1-12

"Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu?”

(1Sam 8:4-7.10-22a; Mrk 2:1-12)

 

Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah. Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!" Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: "Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?"Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" — berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –: "Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" Dan orang itu pun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: "Yang begini belum pernah kita lihat."(Mrk 2:1-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Dengan kehadiran dan karya pelayanan Yesus, yang mempengaruhi dan menarik banyak orang untuk mengikutiNya, maka para ahli Taurat merasa tersingkirkan, kurang dihormati oleh umat. Maka ketika Yesus meyembuhkan orang lumpuh dengan bersabda :”Hai, anakku dosamu sudah diampuni”, mereka berpikiran jahat karena mereka juga tidak percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Penyelamat Dunia. Pengampunan yang menyembuhkan itulah yang terjadi, dan kita pun sering juga cemburu atau irihati ketika ada salah seorang saudara kita mendapat kasih pengampunan dari saudara-saudarinya atau yang berwajib. Dosa dan kasih pengampunan memang erat kaitannya dengan sakit dan penyembuhan. Entah sakit apapun hemat saya terjadi karena dosa, entah dosa yang bersangkutan atau dosa orang lain. Kita semua mendambahkan hidup sehat dan segar bugar, maka marilah kita hidup saling mengasihi dan mengampuni. Hidup saling mengasihi dan mengampuni pada masa kini kiranya mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari, mengingat dan mempertimbangkan masih maraknya irihati, cemburu dan saling berpikiran jahat masih marak di sana-sini. Biarkanlah dengan hidup dan bertindak saling mengampuni, mereka yang melihat apa yang kita lakukan akan berkata:”Yang begini belum pernah kita lihat”.

·   "Dengarkanlah permintaan mereka dan angkatlah seorang raja bagi mereka.” (1Sam 8:22a), demikian firman Tuhan kepada Samuel. Samuel adalah seorang hakim dan menjadi tua; apa yang disebut hakim adalah utusan Allah yang bertugas untuk mendampingi dan menuntun bangsanya atau saudara-saudarinya ke jalan benar dan baik, demi keselamatan dan kesejahteraan mereka. Hakim juga boleh dikatakan sebagai pemimpin bangsa. Ketika Samuel menjadi tua, maka bangsa atau saudara-saudarinya menghendaki sebagai penggantinya hendaknya diangkat seorang raja. Yang disebut raja pada umumnya cenderung menguasai dan gila hormat, maka Samuel merasa permintaan bangsanya tersebut tidak benar, namun Tuhan berfirman kepadanya agar Samuel mengangkat seorang raja bagi mereka. Bagaimanapun seorang pemimpin diharapkan mendengarkan dambaan dan kerinduan yang dipimpin, bangsanya, itulah kiranya yang dikehendaki oleh Tuhan. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan siapapun yang berfungsi sebagai pemimpin atau merasa menjadi pemimpin hendaknya mendengarkan dambaan dan kerinduan yang dipimpin. Dengan kata lain menghayati kepemimpinan partisipatif dengan mendengarkan mereka yang dipimpin. Kepemimpinan di dalam Gereja Katolik diharapkan demikian adanya, kepemimpinan partisipatif. Demikian juga kami berharap kepada mereka yang menjadi kepala keluarga atau pemimpin hidup bersama di tingkat apapun, kami dambakan menghayati kepemimpinan partisipatif. Jauhkan sikap mental diktator atau ingin menang sendiri. Tuhan hadir dan berkarya dimana-mana, terutama dalam diri manusia yang beriman, maka mendengarkan dambaan dan kerinduan umat beriman berarti mendengarkan kehendak Tuhan.

 

“Berbahagialah bangsa yang tahu bersorak-sorai, ya TUHAN, mereka hidup dalam cahaya wajah-Mu; karena nama-Mu mereka bersorak-sorak sepanjang hari, dan karena keadilan-Mu mereka bermegah”

(Mzm 89:16-17)

 

Jakarta, 15 Januari 2010

14 jan – 1Sam 4:1-11; Mrk 1:40-45

“Orang terus juga datang kepadaNya dari segala penjuru”

(1Sam 4:1-11; Mrk 1:40-45)

 

“Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras: "Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka." Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru” (Mrk 1:40-45), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Karena belas kasihanNya terhadap mereka yang menderita sakit serta dengan cepat mampu menyembuhkan mereka yang sakit, maka banyak tergerak datang kepadaNya untuk mohon penyembuhan. Pengalaman ini kiranya baik menjadi refleksi atau bahan mawas diri bagi mereka yang bekerja dalam pelayanan kesehatan, entah secara pribadi maupun organisatoris. Secara pribadi misalnya dokter yang praktek pelayanan di rumah, para dukun, sedangkan secara organisatoris adalah rumah sakit, poliklinik dst.. Pertanyaan yang baik kami angkat adalah “Apakah banyak orang datang minta pelayanan untuk disembuhkan?”. Pelayanan anda akan menarik dan menggerakkan banyak orang untuk datang berobat atau mohon penyembuhan melalui pelayanan anda, jika mereka menerima pelayanan baik serta cepat sembuh dari penyakitnya. Untuk itu memang perlu diperhatikan sikap mental mereka yang terlibat dalam proses penyembuhan, misalnya para dokter, perawat maupun tenaga medis lainnya serta lingkungan hidup tempat pelayanan, entah rumah atau rumah sakit. Para dokter hendaknya dengan cermat mendiagnose penyakit pasien, sehingga proses penyembuhan, entah dengan memberi obat dll. dapat terlaksana dengan cepat dan tepat. Para pembantu dokter, entah perawat atau tenaga medis lainnya hendaknya dengan lembah lembut dan ramah dalam melayani pasien, sedangkan lingkungan rumah sakit atau tempat pasien dirawat hendaknya bersih, nyaman dan enak, sehingga pasien dan keluarganya merasa puas dan gembira. Ketepatan, keramahan dan lingkungan hidup yang baik rasanya akan memberi dukungan penyembuhan lebih cepat bagi pasien, dan dengan demikian banyak orang akan datang minta diobati atau disembuhkan dari penyakit mereka.

·   Segera sesudah tabut perjanjian TUHAN sampai ke perkemahan, bersoraklah seluruh orang Israel dengan nyaring, sehingga bumi bergetar” (1 Sam  4:5). Bersama dengan Tuhan orang Israel dapat mengalahkan orang-orang Filistin. Baiklah pengalaman ini kita refleksikan, tentu bukan dalam perang dengan saudara-saudari kita atau orang lain, melainkan perang melawan kejahatan dan aneka macam godaan setan maupun aneka macam jenis penyakit yang marak di sana-sini, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi maupun sakit tubuh. Segala macam bentuk kejahatan maupun penyakit bersumber dari setan atau roh jahat, maka mereka yang berbuat jahat maupun menderita sakit hemat saya kurang atau tidak bersama dan bersatu dengan Tuhan di dalam hidup sehari-hari. Jika dalam hidup sehari-hari kita bersama dan bersatu dengan Tuhan, maka kita akan senantiasa dalam keadaan sehat dan segar bugar serta mampu mengalahkan aneka kejahatan dan penyakit. Bersama dan bersatu dengan Tuhan berarti senantiasa berbuat baik atau berbudi pekerti luhur, dan secara konkret berarti taat dan melaksanakan melaksanakan atau menghayati janji yang pernah diikrarkan serta aneka tatanan dan aturan yang terkait dengan janji tersebut. Sebagai orang yang telah dibaptis hendaknya setia pada janji baptis, sebagai suami-isteri hendaknya setia pada janji perkawinan, sebagai biarawan-biarawati hendaknya setia pada trikaul, dst.. Orang baik, berbudi pekerti luhur dan setia pada janji yang pernah diikrarkan pasti akan menggetarkan lingkungan, artinya mengingatkan sesama akan Tuhan yang telah menciptakan dan mendampingi mereka dalam perjalanan hidup maupun pelaksanaan aneka tugas pengutusan atau penghayatan panggilan. Kami ingatkan juga bagi kita semua hendaknya tidak melupakan hidup doa dalam kegiatan, kesibukan dan pelayanan kita sehar-hari.

 

“Engkau membuat kami menjadi cela bagi tetangga-tetangga kami, menjadi olok-olok dan cemooh bagi orang-orang sekeliling kami. Engkau membuat kami menjadi sindiran di antara bangsa-bangsa, menyebabkan suku-suku bangsa menggeleng-geleng kepala…Terjagalah! Mengapa Engkau tidur, ya Tuhan? Bangunlah! Janganlah membuang kami terus-menerus! Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu dan melupakan penindasan dan impitan terhadap kami” (Mzm 44:14-15.24-25)

Jakarta, 14 Januari 2010  

Sadar Sebaik-baiknya

Ayat bacaan: 1 Korintus 15:34
==========================
“Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi!”

sadar sebaik-baiknya, sepenuhnyaJam weker berbunyi di pagi hari membangunkan kita, dan sebuah hari baru pun hadir. Biasanya kita tidak akan langsung bangun dan sadar. Kita masih akan malas-malasan, tergeletak setengah sadar untuk sementara waktu sebelum akhirnya kita terbangun sepenuhnya dan berdiri untuk memulai pagi hari kita dengan saat teduh, mandi, sarapan dan bersiap-siap untuk memulai aktifitas. Tentu anda berharap anda sudah sepenuhnya sadar ketika anda menjalani hari bukan? Karena apa yang anda kerjakan tidak akan maksimal jika anda lakukan masih dalam keadaan setengah sadar seperti baru bangun. Hari ini saya terbangun dengan mendapatkan pesan ini dalam hati saya. Seperti halnya kita harus benar-benar bangun dulu sebelum memulai aktifitas setiap pagi, demikian pula sebenarnya kehidupan kita. Alangkah rawannya jika kita menjalani hidup dalam keadaan setengah sadar, karena ada banyak godaan dan jebakan yang akan selalu mengintip kita setiap saat. Sedikit saja tidak awas, kita bisa tersandung dan jatuh, terjebak masuk ke dalam perangkap dosa.

Keinginan daging bisa setiap saat menjatuhkan kita. Iblis selalu berjalan berkeliling mencari mangsa. “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Petrus 5:8). Ini berpotensi menjatuhkan kita jika kita lengah. Apabila roh kita lemah, maka daginglah yang akan berkuasa, dan lemahnya daging akan membuat kita rentan untuk diserang oleh rupa-rupa jebakan. Oleh karena itu Tuhan Yesus mengingatkan kita untuk senantiasa berjaga-jaga dan berdoa. “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41, Markus 14:38). Berjaga-jaga tidak akan bisa dilakukan oleh orang yang setengah sadar. Itulah sebabnya Paulus mengingatkan kita agar bisa sadar sepenuhnya, dengan sebaik-baiknya. “Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi!” (1 Korintus 15:34). Ini sesungguhnya sebuah pesan yang penting agar kita jangan terus terlena, terbuai dalam berbagai kesesatan. Jangan setengah sadar atau sadar ala kadarnya, tapi sadarlah dengan benar-benar, dengan sebaik-baiknya mulai sekarang.

Firman Tuhan berkata demikian: “Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang!” (Roma 13:12). Kita harus benar-benar menjaga hidup dengan terhormat seperti yang biasa dilakukan orang pada siang hari dan bukan hidup terbuai dalam mimpi atau keadaan tidak sadar. “Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.” (ay 13). Tapi sebaliknya “kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” (ay 14). Kita harus menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa pada hakekatnya lewat Kristus kita telah dijadikan ciptaan baru (2 Korintus 5:17) dan telah diberikan status baru sebagai anak Allah. “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” (Yohanes 1:12). Kita harus menyadarkan kembali diri kita bahwa itulah kenyataannya, bahwa kita telah dianugerahi kebenaran dan diberi kedudukan yang benar bersama Tuhan. Itu harus kita jaga dengan baik, dan itu hanya bisa kita lakukan jika kita sadar dengan sebaik-baiknya dan berhenti berbuat dosa, yang akan semakin menjauhkan kita dari Tuhan dan segala kebenaranNya.

Sebagai manusia baru kita seharusnya tidak lagi berbuat seperti orang-orang yang tidak mengenalNya. Kita harus sadar, “yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” (Efesus 4:22-24). Kita harus mampu “menanggalkan semua beban dosa yang begitu merintangi kita dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” (Ibrani 12:1). Dosa siap memperhambakan kita. Iblis siap menjebak kita masuk ke dalam jeratnya kapan saja. Tapi jika kita tetap berada dalam ketaatan, hidup benar dan kudus sesuai firman Tuhan, dalam keadaan yang benar-benar sadar, kita akan mampu terhindar dari itu semua. Bukan karena kekuatan kita, tapi Roh Allah lah yang akan memampukan kita. Dia siap untuk itu. Tetapi itu semua tidak akan bisa terjadi jika kita belum mampu mengenal secara benar-benar siapa jati diri kita sebenarnya di dalam Kristus.

Ketika jam weker anda berdering pagi ini, jangan hanya berusaha untuk bangun dan memulai hari yang baru untuk melakukan rutinitas, tetapi bangunlah pula dengan kesadaran penuh yang sebaik-baiknya bahwa kita telah dijadikan dalam kebenaran Tuhan dan diberi kedudukan tinggi sebagai anak-anak Allah. Sadari ini sepenuhnya. Miliki tekad hari ini untuk berjalan dalam kesadaran penuh sesuai kedudukan kita yang benar di hadapan Allah. Hiduplah lebih dekat lagi kepadaNya dalam setiap langkah yang kita tempuh dalam yang benar-benar sadar. Anda merasa khawatir akan hari ini? Petrus mengingatkan “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7). Sesungguhnya segala rancangan yang terbaik sudah Tuhan berikan. Dia siap mengangkat kita keluar dari segala permasalahan, tapi itu tidak akan terjadi jika kita belum menyadari dengan benar hakekat sebenarnya mengenai siapa diri kita. Hendaklah kita semua sadar dengan sebaik-baiknya siapa kita di hadapan Tuhan agar kita bisa menerima segala berkatNya secara utuh.

Jangan sekedar sadar, tapi sadarlah dengan sebaik-baiknya siapa jati diri kita di hadapan allah

Incoming search terms:

Mengandalkan Tuhan

Ayat bacaan: Yeremia 17:7
=====================
“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!”

mengandalkan Tuhan, menang bersama TuhanAdakah orang yang mati-matian berusaha untuk kalah? Tentu tidak ada. Semua orang berusaha mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk berhasil atau untuk menang. Jika tidak, untuk apa berusaha? Saya ingat waktu saya kecil dulu saya pernah begitu banyak mengeluh. Rupanya ayah saya kesal mendengar semua omelan dan keluhan saya, dan ia pun berkata: “hidup ini tidak pernah mudah! Kalau mau berhasil ya harus berusaha!” Itu saya ingat sampai sekarang dan membentuk saya menjadi seorang yang tidak pernah bisa diam berpangku tangan menghadapi apapun. Saya boleh punya banyak kekurangan, tapi kemalasan tidak pernah saya ijinkan untuk menguasai saya sejak saat itu. Masalahnya, seringkali meskipun kita sudah mati-matian berusaha, kita sudah mengerahkan segenap daya upaya, kekuatan dan kepintaran kita, namun hasilnya tetap saja sia-sia. Gagal lagi, kalah lagi. Usaha itu penting. Ketekunan itu penting. Latihan itu penting. Tapi semua itu hanyalah akan sia-sia apabila kita tidak meletakkan itu semua kepada Tuhan. Sudah berulangkali hal itu saya buktikan sepanjang hidup saya, dan ketika saya memilih untuk bertobat, lahir baru dan menerima Yesus, sayapun merubah paradigma saya, bahwa bukan kekuatan saya yang menentukan, tapi penyertaan Tuhan. Dan puji Tuhan, semua itu benar adanya hingga hari ini.

Kemarin kita sudah melihat bagaimana kunci kemenangan Daud. Kita sudah melihat semuanya itu mengarah pada pribadi Daud yang bersikap selayaknya seorang anak kecil yang menggantungkan seluruh harapannya hanya kepada Tuhan. Ia boleh menjadi raja terbesar Israel, ia boleh menjadi orang yang sangat berpengaruh, ternama, berkharisma dan berkuasa di dunia, namun di hadapan Tuhan ia tampil dengan jujur, apa adanya. Jika ia mau menari, ia menari buat Tuhan tanpa mempedulikan statusnya. “Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan.” (2 Samuel 6:14). Bahkan meski mendapat cibiran sekalipun ia tetap menari dan meloncat-loncat seperti anak kecil yang sedang senang di hadapan Tuhan. (ay 16). Daud tahu bahwa mengandalkan manusia itu adalah sia-sia belaka. Ia berkata “Berikanlah kepada kami pertolongan terhadap lawan, sebab sia-sia penyelamatan dari manusia. Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa, sebab Ia sendiri akan menginjak-injak para lawan kita.” (Mazmur 60:13-14). Itu bentuk gaya hidup Daud yang ternyata berkenan bagi Tuhan. Dan ketika ia berperang, ia selalu memperoleh kemenangan. Bukan karena kehebatannya, tapi karena “TUHAN memberi kemenangan kepada Daud ke manapun ia pergi berperang.” (2 Samuel 8:6b,14b).

Itu kunci kemenangan Daud. Kunci yang sama berlaku pada tokoh-tokoh alkitab lainnya. Daniel dikatakan memiliki kepintaran, kearifan dan segala kelebihan lainnya bukan karena kehebatannya sendiri, namun jelas dikatakan karena “ia mempunyai roh yang luar biasa” di dalam dirinya. (Daniel 6:3). Ketaatannya bahkan menyelamatkannya dari maut di kandang singa. Yusuf? Setali tiga uang. Meski terus menghadapi pergumulan dan penderitaan, namun di balik itu semua ia mendapatkan berbagai keberhasilan. Bukan karena kebetulan beruntung, bukan karena kehebatannya, tapi dikatakan karena Tuhan menyertai Yusuf. Ini dikatakan berkali-kali seperti misalnya dalam Kejadian 39:2 yang berbunyi “Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu.” Itu baru sebagian kecil dari banyaknya tokoh yang telah membuktikan bagaimana dahsyatnya jika kita hidup bersama dengan Tuhan. Kita boleh masuk ke dalam pergumulan dan peperangan, namun Tuhan menjanjikan kita bukan untuk kalah melainkan untuk mencapai kemenangan demi kemenangan. Dan kuncinya adalah dengan mengandalkan Tuhan secara penuh. Bukan sebagai alternatif terakhir tapi sebaliknya sebagai yang terutama. Tidak heran jika tokoh-tokoh alkitab pada akhirnya mencapai kemenangan yang gemilang. Itu semua bukan karena kuat dan hebat mereka, namun semua itu adalah karena iman mereka yang percaya dan terus mengandalkan Tuhan dalam situasi dan kondisi apapun.

Kita bisa melihat lebih jelas mengenai hal ini lewat kitab Yeremia. Apa yang terjadi kepada orang yang memilih untuk mengandalkan kekuatannya sendiri atau manusia? “Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!” (Yeremia 17:5). Ini merupakan peringatan yang sangat keras. Seperti apa jadinya orang yang terus memilih untuk bergantung kepada kekuatan dirinya sendiri dan manusia lain? “Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.” (ay 6). Sebaliknya, lihatlah apa yang akan terjadi kepada orang yang mengandalkan Tuhan. “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” (ay 7). Kepada orang seperti ini dikatakan bahwa “Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” (ay 8). Sungguh sebuah pemandangan yang kontras terlihat kepada orang yang mengandalkan Tuhan dan dengan yang mengandalkan kekuatannya sendiri atau bergantung kepada manusia. Dalam kitab Yesaya pun kita mendapatkan pesan yang sama. “Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN. Akan tetapi Dia yang bijaksana akan mendatangkan malapetaka, dan tidak menarik firman-Nya; Ia akan bangkit melawan kaum penjahat, dan melawan bala bantuan orang-orang lalim. Sebab orang Mesir adalah manusia, bukan allah, dan kuda-kuda mereka adalah makhluk yang lemah, bukan roh yang berkuasa. Apabila TUHAN mengacungkan tangan-Nya, tergelincirlah yang membantu dan jatuhlah yang dibantu, dan mereka sekaliannya habis binasa bersama-sama.” (Yesaya 31:1-3). Lewat pesan-pesan ini Tuhan sudah mengingatkan dari awal bahwa bukan kehebatan atau kekuatan kita yang penting, tapi kebersamaan kita kepada Tuhan, penyerahan diri kita dan keputusan kita untuk mengandalkan Tuhan-lah yang akan memberikan perbedaan. Itu kunci yang akan dapat membawa kita ke dalam berbagai kemenangan, tidak peduli sebesar apapun peperangan yang tengah atau akan kita hadapi.

Sebuah hidup yang mengalami penyertaan Allah hanyalah hidup yang berpusat kepada Allah. Banyak manusia lupa akan hal ini dan terus berusaha mempergunakan otak, pikiran, tenaga maupun harta mereka saja dalam menghadapi masalah. Mereka lupa bahwa sehebat apapun yang mereka miliki, semua itu terbatas dan pada suatu ketika tidak akan mampu lagi memberikan jawaban. Di sisi lain, Tuhan punya kuasa yang tidak terbatas. Jika demikan, mengapa tidak beralih mengandalkan Tuhan? Ingatlah semua berpusat pada Tuhan. “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Roma 11:36). Bersama Tuhan terletak kemenangan sejati! Oleh karena itu, jika anda memiliki kelebihan-kelebihan, janganlah menjadi sombong karenanya. Sebaliknya jika anda merasa memiliki banyak kekurangan, jangan menjadi rendah diri dan terburu-buru menyerah. Ingatlah bahwa letak kekuatan sebenarnya bukan di tangan anda, namun semua itu ada di tangan Tuhan. Jika ini anda lakukan, jangan heran seandainya mukjizat terus menerus hadir dalam hidup anda. Ingin memiliki hidup yang penuh kemenangan? Andalkanlah Tuhan. Berjalanlah bersamanya melewati apapun dan raihlah kemenangan gemilang dari setiap peperangan anda.

Dalam Tuhan terletak kemenangan sejati!

13 Jan – 1Sam 3:1-10.19-20; Mrk 1:29-39

"Semua orang mencari Engkau."

(1Sam 3:1-10.19-20; Mrk 1:29-39)

 

“Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia. Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; waktu menemukan Dia mereka berkata: "Semua orang mencari Engkau." Jawab-Nya: "Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang." Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan” (Mrk 1:29-39), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Karena kuasa penyembuhanNya, maka Yesus dicari banyak orang yang mohon penyembuhan. Ia sungguh dikenal dan menjadi terkenal karena penyembuhan yang dilakukanNya, dan dengan demikian ada bahaya banyak orang dapat salah faham perihal Dia. Yang utama dan pertama-tama menjadi tugas pengutusanNya adalah mewartakan Kabar Gembira atau Pertobatan ke seluruh dunia; sedangkan penyembuhan orang sakit hanya merupakan salah satu kegiatanNya. Maka Ia ‘menyepi’ untuk berdoa seorang diri guna mencari kejernihan dan kemurnian tugas pengutusanNya. Ketika Yesus tahu bahwa orang banyak tersebut nampaknya akan menahan Dia di tempat tertentu, maka Ia berkata kepada para rasul:”Marilah kita pergi ke tempat lain, kota-kota berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang”.  Apa yang dilakukan oleh Yesus ini kiranya dapat menjadi bahan permenungan atau refleksi kita. Setiap hari kita mungkin bekerja giat secara rutin, dan tanpa sadar diri kita berkembang bagaikan mesin, hanya mengikuti arus umum, yang belum tentu benar dan baik. Maka  baiklah setiap hari kita menyisihkan waktu khusus untuk mengadakan ‘pemeriksaan batin’, mawas diri apakah kita berjalan di jalan yang benar, bekerja sesuai dengan visi atau spiritualitas? Hendaknya kita jangan sampai terkurung atau terpenjara oleh rutinitas, melainkan usahakan aneka pembaharuan yang dituntut sesuai dengan perkembangan zaman.

·   Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satu pun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur” (1Sam 3:19).. Samuel, anak Hana, sungguh membuka diri terhadap Sabda Tuhan, sehingga ia makin besar dan Tuhan menyertai dia. Pengalaman Samuel ini kiranya dapat menjadi bahan pembelajaran bagi kita semua: siap sedia mendengarkan sabda Tuhan dimanapun dan kapanpun. Tuhan bersabda tidak hanya melalui para penulis Kitab Suci, tetapi juga bersabda melalui ciptaan-ciptaanNya yang terus bertumbuh dan berkembang, dan.tentu saja dalam diri manusia, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Allah.  Berkat penyertaan dan rahmat Tuhan cukup banyak manusia telah menghasilkan aneka produk tehnologi yang sangat berpengaruh dalam kehidupan bersama masa kini, misalnya internet/email dan hand phone/HP, dst..  Dua jenis buah karya manusia ini kiranya telah mengubah cara hidup dan cara bertindak banyak orang di dunia masa kini, dan kiranya akan terus berubah dan berkembang. Marilah kita buka diri kita terhadap aneka perkembangan dan pertumbuhan yang terjadi, antara lain kita fungsikan sarana teknologi canggih tersebut, internet/email maupun hand phone/HP, untuk pewartaan Kabar Baik, menyebarluaskan apa yang baik dan menyelamatkan jiwa manusia. Kami percaya jika Tuhan menyertai kita, maka kita pasti akan memfungsikan sarana komunikasi modern tersebut untuk menyebarluaskan apa yang baik dan menyelamatkan jiwa manusia  Melalui sarana komunikasi modern tersebut kita juga dapat belajar banyak hal, dalam arti aneka macam tulisan yang ditulis dalam ilham Roh, sehingga berguna untuk mengajar, mendidik dan membimbing kita. Semoga kita semua semakin besar dan Tuhan senantiasa menyertai kita kapanpun dan dimanapun.

 

“Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN, yang tidak berpaling kepada orang-orang yang angkuh, atau kepada orang-orang yang telah menyimpang kepada kebohongan! Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian, tetapi Engkau telah membuka telingaku; korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau tuntut. Lalu aku berkata: "Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku.”

(Mzm 40:5-9)

 

Jakarta, 13 Januari 2010

Kunci Kemenangan Daud

Ayat bacaan: 2 Samuel 8:14b
======================
“TUHAN memberi kemenangan kepada Daud ke manapun ia pergi berperang.”

kunci kemenangan Daud, hidup seperti anak kecilHidup ini sungguh penuh perjuangan. Hampir di seluruh lini kehidupan kita harus berjuang untuk mencapai keberhasilan. Orang rela belajar berpuluh-puluh tahun untuk kemudian bisa mencapai sukses. Jika anda ingin bisa memetik hasil, anda harus menanam terlebih dahulu dan memupuk, mengurusinya selama bertahun-tahun terlebih dahulu. Seringkali di tengah perjuangan itu kita akan menghadapi hambatan-hambatan. Ada berbagai pergumulan yang harus kita hadapi dalam prosesnya dan itu bisa jadi tidak mudah. Kita berperang melawan hawa nafsu, melawan keinginan-keinginan daging yang terus berusaha menguasai dan menyesatkan kita. Kita juga menghadapi peperangan melawan roh-roh jahat di udara. Saya sering menyebutkan bahwa hidup ini adalah sebuah medan peperangan. Life is a battlefield. Semua berperang, namun tidak semua bisa keluar menjadi pemenang. Ada banyak orang yang tidak bisa terlepas dari pergumulannya, dari kebiasaan buruknya atau dari berbagai kesesatan yang tidak berkenan bagi Tuhan. Ada banyak orang yang jatuh bangun, terus berusaha untuk bangkit namun lagi-lagi gagal. Karena itu kita perlu belajar dari orang yang memiliki banyak pengalaman akan keberhasilan. Salah satu tokoh yang hidupnya penuh dengan kemenangan adalah Daud. Hari ini mari kita belajar dari Raja Israel besar ini.

Dalam 2 Samuel 8 kita melihat serangkaian kemenangan yang diperoleh Daud dengan gemilang. Daud memukul kalah orang Filistin (ay 1), mengalahkan orang Moab (ay 2), menundukkan raja Hadadezer raja Zoba di hulu sungai Efrat (ay 3), daripadanya menangkap 1700 tentara berkuda dan 20.000 pasukan berjalan kaki (ay 4), menumpas orang Aram yang hendak menolong Hadadezer sejumlah puluhan ribu orang (ay 5-6), dan dalam perjalanan pulang ia kembali mengalahkan 18.000 orang Edom di Lembah Asin. (ay 13). Lihatlah serangkaian kemenangan yang diperoleh Daud. Tidak sekalipun disebutkan disana bahwa ia kalah. Apakah itu karena kehebatan Daud? Apakah ia kita kenal sebagai ahli strategi perang? Apakah karena persenjataan Daud memiliki teknologi muktahir yang jauh di atas musuh-musuhnya? Bukan itu yang disebutkan alkitab sebagai alasannya. Alkitab berkata bahwa kemenangan-kemenangan Daud itu bukan karena kuat dan hebatnya Daud, tetapi karena pemberian Tuhan. “TUHAN memberi kemenangan kepada Daud ke manapun ia pergi berperang.” (2 Samuel 8:6b, 14b). Dua kali kalimat ini diulangi, menunjukkan penekanan bahwa keberhasilan Daud adalah berkat penyertaan Tuhan dalam setiap peperangan yang ia hadapi.

Bagaimana Daud bisa mendapat penyertaan Tuhan seperti itu yang membuatnya berhasil dalam setiap peperangan? Kita bisa melihat penyebabnya dalam Mazmur 60. Mazmur 60 menuliskan apa yang dilakukan Daud sebelum ia berperang melawan orang Aram dan Edom seperti yang tertulis pada 2 Samuel 8 di atas. Mazmur 60:1-12 mencatat bagaimana bentuk doa Daud memohon belas kasih Tuhan untuk memberinya kemenangan. Demikian bunyi doa Daud: “Supaya terluput orang-orang yang Kaucintai, berikanlah keselamatan dengan tangan kanan-Mu dan jawablah kami!…Berikanlah kepada kami pertolongan terhadap lawan, sebab sia-sia penyelamatan dari manusia. Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa, sebab Ia sendiri akan menginjak-injak para lawan kita. (ay 7, 13-14). Daud tahu benar bahwa usaha manusia semata hanyalah akan sia-sia. Daud tahu bahwa kunci kemenangan hanya ada apabila Tuhan menyertainya, apabila Tuhan yang ikut berperang dan Dia lah yang akan mengalahkan musuh kita, sehingga kita bisa memperoleh kemenangan demi kemenangan yang gemilang. Daud adalah raja Israel, dia adalah pemimpin pasukan, dia orang hebat. Tapi di hadapan Tuhan, Daud merendahkan dirinya. Dia melepas segala atribut kekuasaan dunia yang ia miliki dan selalu tampil polos seperti halnya anak kecil di hadapan Tuhan. Dia tidak mengandalkan kekuatannya dalam peperangan, tapi justru melepaskannya dan berserah secara penuh kepada Tuhan. Itulah kunci yang membuat Daud berhasil dalam segala peperangan. Tidakkah ini terbalik dengan kita, yang seringkali hanya mengandalkan kekuatan kita saja dalam menghadapi segala sesuatu? Tuhan akan jadi alternatif terakhir, ketika semua usaha kita sudah mentok. Kita terbiasa cenderung mengandalkan kuat dan hebatnya manusia, padahal Daud sudah mengatakan semua itu hanya akan mengarah kepada hasil yang sia-sia. Seharusnya Tuhan-lah yang ditempatkan di depan. Itu yang dilakukan Daud, dan kita bisa menyaksikan hasilnya. Daud memperoleh rangkaian kemenangan, sebab “TUHAN memberi kemenangan kepada Daud ke manapun ia pergi berperang.”

Sekali lagi, Daud adalah raja besar Israel, bahkan dikatakan juga sebagai raja terbesar Israel. Tapi dia tidak memegahkan dirinya di hadapan Tuhan. Hampir di sepanjang kitab Mazmur kita melihat bagaimana keintiman Daud kepada Tuhan, bagaimana ia tunduk dan menyerahkan segala hidupnya kepada Tuhan. Ia sosok yang penuh kharisma dan luar biasa, namun di hadapan Tuhan ia menempatkan dirinya tidak lebih dari anak kecil. Lihatlah bagaimana tingkah laku Daud ketika ia membawa tabut Allah ke Yerusalem. “Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan.” (2 Samuel 6:14). Yang menari-nari ini bukanlah orang biasa, bukan orang yang tidak terkenal, tapi ini adalah Daud, raja Israel! Ketika ia berurusan dengan Tuhan, ia tidak peduli apakah orang akan menertawakannya, atau bahkan memandang rendah dirinya seperti pandangan Mikhal anak Saul ketika melihat Daud menari dan meloncat-loncat di hadapan Tuhan (ay 16). Ia mempersembahkan dirinya secara polos kepada Tuhan, seperti seorang anak kecil di hadapan orang tuanya. Seperti itulah gambaran perilaku Daud di hadapan Tuhan, dan oleh sebab itulah Tuhan berkenan kepadaNya dan menganugerahkan kemenangan demi kemenangan dalam peperangan.

Raja besar tapi berperilaku seperti anak kecil ketika berada di hadapan Tuhan. Norak? Memalukan? Mungkin demikian dari pemikiran duniawi, tapi sesungguhnya Tuhan menginginkan kita untuk meneladani perilaku anak kecil ketika berhadapan denganNya. Yesus sendiri mengatakan demikian. “Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya. (Markus 10:14-15). Bersikaplah seperti anak kecil, sebab yang seperti itulah yang empunya kerajaan Allah! Seperti apa perilaku anak kecil yang berkenan itu? Lihatlah bagaimana reaksi anak kecil yang menyenangkan hati kita. Keluguan dan kepolosan mereka, bagaimana mereka tidak menutupi keriangan ketika menyambut kita pulang. Rasa lelah bekerja seharian pun bisa hilang ketika anak-anak kita berlari dengan ceria, penuh tawa memeluk kita di pintu. Anak kecil tidak sibuk menjaga imagenya, mereka tampil apa adanya dan selalu bergantung kepada orang tuanya. Mereka akan selalu merasa aman apabila ada di dalam dekapan orang tuanya. Semua itu merupakan ciri-ciri anak kecil yang harus bisa kita teladani ketika kita berhadapan dengan Allah, Bapa kita yang penuh kasih.

Peperangan demi peperangan akan terus kita hadapi. Ada yang mudah tapi banyak pula yang sulit. Setiap saat kegagalan bisa mengintip, setiap saat kita bisa dikalahkan. Tapi Tuhan sudah menjanjikan kemenangan, dan kita bisa melihat kunci untuk memperolehnya melalui apa yang dilakukan oleh Daud. Daud tidak mengandalkan kekuatannya, kehebatannya, ketenarannya, kharismanya, namun ia sepenuhnya mengandalkan Tuhan. Ia merendahkan dirinya secara total karena ia tahu semua itu tidak akan ada gunanya jika tidak memiliki penyertaan Tuhan dalam hidup. Tuhan ingin kita menyambutNya seperti sikap seorang anak kecil. Tuhan ingin kita bergantung sepenuhnya kepadaNya seperti anak kecil yang mengandalkan orang tuanya. Tuhan ingin kita bersikap polos, jujur apa adanya ketika berhadapan denganNya. Ini semua yang akan membawa kita kepada berbagai kemenangan, bukan kekuatan atau kepintaran dan kehebatan diri kita sendiri atau manusia lainnya. Belajarlah dari Daud agar kita bisa memperoleh hasil gemilang dari setiap peperangan yang kita hadapi.

Justru ketika kita berserah, Tuhan memberikan kita kemenangan

12 Jan – 1Sam 1:9-20; Mrk 1:21-28

“Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa”

(1Sam 1:9-20; Mrk 1:21-28)

 

“Mereka tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Pada waktu itu di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak: "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah." Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: "Diam, keluarlah dari padanya!" Roh jahat itu menggoncang-goncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring ia keluar dari padanya. Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya: "Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahat pun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya."Lalu tersebarlah dengan cepat kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea” (Mrk 1:21-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Nasihat atau ajaran para guru, pendeta atau pastor sering atau pada umumnya lebih berkuasa/berpengaruh pada anak-anak daripada dari orangtuanya, itulah kenyataan yang terjadi di beberapa kota besar di Indonesia, karena anak-anak sering merasa kurang menerima kasih sayang atau perhatian orangtua.Namun pengajaran Yesus lebih berkuasa dari para pengajar, guru, pendeta atau pastor, apalagi bagi mereka yang percaya kepadaNya. Sabda atau ajaran Yesus mampu mengusir dan mengalahkan roh-roh jahat. Maka sebenarnya jika kita hidup dan bertindak sesuai dengan ajaran atau sabda Yesus, kita pun juga mampu mengalahkan aneka kejahatan dan godaan setan. Dengan ini kami mengajak dan mengigatkan kita semua: marilah kita baca, renungkan dan hayati sabda-sabda Tuhan sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci. Ingat bagi kita orang Katolik, setelah dibacakan Injil kita menanggapi “SabdaMu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami”, semoga kata-kata itu tidak hanya merdu di mulut atau nyanyian tetapi juga merdu dalam tindakan atau perilaku ini. Kita hidup sesuai dengan sabda Tuhan, berjalan mengarungi panggilan dan tugas pengutusan sesuai dengan ajaran-ajaranNya. Dengan cara demikian kita pasti akan mampu mengalahkan aneka kejahatan, dan ada kemungkinan cara hidup dan cara bertindak kita akan menjadi bahan perbincangan, omong-omong, bercakap-cakap banyak orang, dan banyak orang pun  juga tergerak untuk semakin beirman, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dalam dan melalui hidup sehari-hari. Secara khusus saya juga mendambakan para orangtua: hendaknya nasihat, kata-kata, ajaran orangtua sungguh berkuasa alias menjiwai cara hidup dan cara bertindak anak-anaknya, tentu dalam apa yang baik atau budi pekerti luhur.

·   "TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya.” (1Sam 1:11), demikian doa Hana dari dan dalam kedalaman lubuk hatinya. Doa Hana pun terkabul, setahun setelah doa tersebut Hana melahirkan anak. Mungkin kita akan berkata bahwa doa Hana adalah doa yang penuh kuasa. Memang benar, doa yang sungguh lahir dari hati pasti akan berkuasa atau berpengaruh, bukan doa seperti kata-kata manis dan hampa. Ketika kita berdoa dengan sepenuh hati, jiwa, akal budi dan tubuh, maka apa yang kita doakan atau katakan dalam rupa doa tersebut secara otomatis menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita, apalagi yang kita mohon kepada Tuhan adalah yang baik atau berbudi pekerti luhur, sebagaimana dimohon oleh  Hana bahwa jika dianugerahi anak, maka anak itupun kemudian akan dipersembahkan kembali kepada Tuhan. Dengan ini kami mengingatkan dan mengajak kita semua: hendaknya dalam berdoa tidak hanya baik, manis dan merdu di mulut, melainkan di hati. Doa yang baik dan benar adalah hati yang seutuhnya terarah atau dipersembahkan kepada Tuhan, sehingga hati kita bersatu dengan Hati Tuhan, dan karena Tuhan mahasegalanya, maka hati kita pasti akan dikuasai atau dirajai olehNya, dan dengan demikian mau tidak mau kita pasti akan hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak atau perintahNya. Meneladan Hana kami mendambakan para orangtua, khususnya para ibu, untuk dengan jiwa besar dan hati rela berkorban mempersembahkan salah satu anaknya untuk menjadi imam, bruder atau suster, dan untuk itu sedini mungkin anak-anak perlu dibina dan dididik dengan baik ke arah ‘man or woman with/for others’.

 

“Busur pada pahlawan telah patah, tetapi orang-orang yang terhuyung-huyung, pinggangnya berikatkan kekuatan. Siapa yang kenyang dahulu, sekarang menyewakan dirinya karena makanan, tetapi orang yang lapar dahulu, sekarang boleh beristirahat. Bahkan orang yang mandul melahirkan tujuh anak, tetapi orang yang banyak anaknya, menjadi layu.TUHAN mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana. TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan meninggikan juga.” (1Sam 2:4-7)

 

Jakarta, 12 Januari 2010               

Kunang-Kunang

Ayat bacaan: Yohanes 1:4-5
=======================
“Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.”

kunang-kunang, terang duniaTinggal di kota modern saat ini kita tidak lagi menemukan kunang-kunang. Hewan ini menjadi langka untuk ditemukan ketika rawa, persawahan dan hutan semakin banyak dijadikan perumahan. Padahal jaman dulu di saat hiburan tidak sebanyak sekarang, kunang-kunang cukup menarik untuk dilihat. Bayangkan kerlap kerlip cahaya di tengah-tengah kegelapan di luar rumah. Ayah saya pernah bercerita bahwa di masa kecilnya ketika belum ada listrik di rumah, ia kerap menangkap kunang-kunang dalam toples sebagai alat penerangan. Dengan ditemani cahaya kunang-kunang ia belajar di malam hari. Kunang-kunang memang jenis serangga yang menarik karena bisa mengeluarkan cahaya yang kuat. Di masa kecil saya masih sempat menyaksikan bagaimana terang dan lembutnya cahaya yang dikeluarkan kunang-kunang ini. Kemanapun dia bergerak, terangnya yang lembut itu tetap terlihat bahkan di tempat yang tergelap sekalipun.

Dari kunang-kunang yang bercahaya di kegelapan malam kita bisa membuktikan bahwa tidak ada apapun yang bisa dilakukan oleh gelap untuk mengalahkan terang. Kegelapan hanya bisa menyerah ketika secercah cahaya menggantikannya. Singkatnya, kegelapan hanya bisa berkuasa jika tidak ada terang. Dalam hidup ada saat-saat dimana kita merasakan bahwa keadaan di sekitar kita menjadi gelap. Terkadang begitu gelapnya sehingga kita merasa kita tidak lagi mampu melihat jawaban apapun untuk bisa keluar dari kegelapan itu. Dalam situasi gelap berkepanjangan lama kelamaan kita mulai menyerah kalah sehingga kegelapan akan semakin menguasai kita. Di saat seperti itulah kita harus ingat bahwa sesungguhnya kita bisa menundukkan gelap dengan terang! Ingatlah bahwa kita semua memiliki Terang dunia di dalam diri kita! Ketika kita menyadari hal ini, tidak ada satupun kekuatan kegelapan yang mampu memadamkannya.

Jika anda membaca kitab Kejadian sejak halaman pertama, anda akan mendapatkan bahwa Tuhan terlebih dahulu menciptakan terang sebelum menciptakan tumbuhan, hewan di darat, burung-burung di udara, ikan-ikan di laut dan manusia. Pernahkah anda berpikir mengapa Allah memutuskan demikian? “Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.” (Kejadian 1:3). Terang diciptakan Allah terlebih dahulu sebelum Dia menciptakan mahluk hidup. Demikian pentingnya terang itu bagi kehidupan kita sehingga hal tersebut terlebih dahulu disediakan Tuhan sebelum membentuk kita dari debu tanah sesuai rupa dan gambarNya dan menghembuskan nafas kehidupan ke dalam kita. Kegelapan sungguh mempunyai implikasi yang luas. Bukan cuma menyangkut kegelapan secara rohani atau kegelapan keadaan kita tertimpa masalah dan beban, tapi kegelapan ini juga bisa memberikan dampak negatif dalam kehidupan nyata. Coba kurung diri anda dalam kegelapan selama beberapa hari, lalu perhatikan apa yang terjadi dengan perasaan dan mental anda. Faktanya kurungan dalam kegelapan total seringkali dipakai untuk meruntuhkan mental tawanan. Karena itulah penciptaan terang di awal penciptaan dunia seperti yang dituliskan di awal kitab Kejadian bagi saya merupakan bentuk kasihNya yang tak terhingga bagi kita. Tuhan sejak awal telah menganugerahkan terang kepada kita.

Segala tentang Allah adalah terang. Kedatangan Kritus adalah sebagai Terang yang akan memberikan cahaya pengharapan dan keselamatan kepada manusia yang hidup dalam kegelapan. “Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Yohanes 8:12). Dan kita yang hidup saat ini juga dituntut untuk bisa berperan sebagai terang mewakili Kristus yang tidak lagi hadir dalam fisik manusia di bumi ini.Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi….Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:14,16).

Paralel dengan itu, mari kita baca awal kitab Yohanes dalam perikop pertama yang berbicara mengenai Firman yang telah menjadi manusia. “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” (Yohanes 1:1-3). Lalu perhatikan bagian penting ini: “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. (ay 4-5). Dari rangkaian ayat ini kita bisa melihat bahwa kita sesungguhnya telah memiliki Terang yang tidak akan pernah mampu dikalahkan oleh kegelapan. Ada kehidupan di dalam Kristus, Dia-lah menjadi sumber hidup sesungguhnya yang mampu memberi terang kepada manusia, sebuah terang yang tidak akan pernah dapat dipadamkan kegelapan.

Kegelapan hanya akan berkuasa jika tidak ada terang. Karena itu penting bagi kita untuk tetap hidup dalam Kristus, dalam Terang dunia, sehingga tidak ada apapun yang bisa dilakukan kegelapan untuk mengalahkan kita. Dalam keadaan terlemah sekalipun, dalam keadaan dimana anda merasa bahwa hanya ada setitik kecil cahaya yang tinggal dalam diri anda, cahaya itu akan tetap lebih kuat daripada kegelapan yang tergelap sekalipun. Kita harus ingat bahwa terang sesungguhnya telah ada pada kita. Firman Tuhan berkata demikian: “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang,” (Efesus 5:8). Tuhan pun mengingatkan agar kita jangan lagi hidup dalam kegelapan ini, tapi hiduplah dalam terang. “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.” (1 Yohanes 1:7). Bila keadaan di sekitar anda saat ini terus meredup, seakan-akan terus menyerap dan memperangkap anda sehingga rasa putus asa mulai muncul, ingatlah tentang kunang-kunang yang tidak akan pernah bisa ditelan kekelaman malam. Imani dengan baik fakta bahwa Yesus, Sang Terang dunia, sudah berada dalam diri anda. Always keep that as a faith! Selalu ada terang dalam diri kita selama kita percaya kepada Kristus, Sang Terang Dunia. Jika itu tetap kita sadari, kita tidak akan pernah lagi bisa disudutkan oleh kegelapan dalam bentuk apapun. Kita bisa menghalau itu semua, mengalahkannya dan muncul sebagai pemenang dengan terang yang kita miliki. Begitu banyak kegelapan yang mengambil alih hidup orang di dunia ini, oleh karena itu biarlah cahaya terang Kristus senantiasa menyinari diri kita dan memancar kepada orang lain lewat diri kita.

Tidak ada apapun yang bisa diperbuat gelap untuk mengalahkan terang

11 Jan – 1Sam 1: 1-8; Mrk 1:14-20

“Mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia”

(1Sam 1: 1-8; Mrk 1:14-20)

 

Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, dilihat-Nya Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia.” (Mrk 1:14-29), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hari ini kita mulai memasuki Masa Biasa dalam Kalendarium Liturgi. Dalam Warta Gembira hari ini melalui kisah panggilan para rasul diajak untuk mengenangkan panggilan kita masing-masing. Begitu melihat dan bertemu dengan Yesus “mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia”. Pengalaman para rasul ini kiranya dapat kita kenakan pada diri kita, antara lain: (1) bagi suami-isteri, dahulu begitu ketemu laki-laki atau perempuan yang menarik, mempesona dan memikat, maka langsung meninggalkan orangtua untuk membangun hidup berkeluarga, (2) bagi para anggota lembaga hidup bakti, dahulu ketika tergerak untuk menjadi biarawan atau birawati, segera meninggalkan orangtua dan masuk biara, dst.. Setelah meninggalkan orangtua kita hendak ‘mengikuti Dia’, Yang Terkasih, entah Yesus atau pasangan hidup, dan dengan demikian dipanggil untuk hidup dan bertindak dengan cara Dia, cara baru, dan untuk itu harus berani meninggalkan ‘cara orangtua’, hidup mandiri bersama pasangan atau rekan-rekan sekomunitas biara. Meninggalkan orangtua berarti terjadi perubahan atau pembaharuan budaya: cara melihat, cara merasa, cara berpikir, cara bersikap dan cara bertindak sesuai dengan tuntutan hidup terpanggil, entah sebagai suami-isteri, imam, bruder atau suster. Dengan kata lain kita dipanggil untuk menghayati kharisma atau spiritualitas hidup terpanggil kita masing-masing, bukan hidup seenaknya sendiri, mengikuti selera pribadi maupun orangtua. Dalam cara hidup dan cara bertindak kita diharapkan kita juga dapat berperan sebagai ‘penjala manusia’, artinya lebih mengutamakan keselamatan jiwa manusia.

·   "Hana, mengapa engkau menangis dan mengapa engkau tidak mau makan? Mengapa hatimu sedih? Bukankah aku lebih berharga bagimu dari pada sepuluh anak laki-laki?"(1Sam 1:8), demikian kata Elkana kepada Hana, isterinya yang pertama, yang sedih dan menangis ketika diejek Perina, isteri kedua dari Elkana. Memang pada umumnya seorang isteri akan merasa sedih dan hina ketika tidak dapat mengandung dan melahirkan anak, apalagi karena itu lalu diejek dan dicemooh. Kata-kata Elkana kepada Hana “Bukankah aku lebih berharga bagimu dari pada sepuluh anak laki-laki’ kiranya menjadi penghiburan bagi Hana dan juga dapat menjadi bahan permenungan atau refleksi bagi suami atau isteri, entah dianugerahi anak atau tidak. Yang utama dan pertama-tama harus diperdalam, diperkuat dan dihayati adalah kasih antar suami-isteri, yang telah berjanji untuk saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati. Anak adalah anugerah Allah, maka sang isteri dapat mengandung dan melahirkan seorang anak juga merupakan anugerah Allah. Kitab Hukum Kanonik (KHK) mengajarkan bahwa “dengan perjanjian perkawian pria dan wanita membentuk antara mereka kebersamaan seluruh hidup; dari sifat kodratinya perjanjian itu terarah pada kesejahteraan suami isteri serta kelahiran dan pendidikan anak” (KHK kan 1055). Memang ada dua sifat kodrati kebersamaan hidup suami-isteri: kesejahteraan dan anugerah anak. Hemat saya yang utama dan pertama adalah kesejahteraan; dianugerahi anak, apalagi dalam jumlah banyak, tanpa kesejaheraan hidup pasti akan lebih sengsara dan menderita. Hidup sejahtera dapat terjadi dalam hidup saling mengasihi satu sama lain. Sekali lagi kami tegaskan dan ingatkan di sini, baik bagi suami atau isteri, hendaknya suami lebih mengasihi isterinya daripada anak-anaknya, isteri lebih mengasihi suami daripada anak-anaknya dan kemudian suami-isteri bersama-sama mengasihi anak-anaknya.

 

“Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku? Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN, akan membayar nazarku kepada TUHAN di depan seluruh umat-Nya. Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya. Ya TUHAN, aku hamba-Mu! Aku hamba-Mu, anak dari hamba-Mu perempuan! Engkau telah membuka ikatan-ikatanku! Aku akan mempersembahkan korban syukur kepada-Mu, dan akan menyerukan nama TUHAN

(Mzm 116:12-17)

       

Jakarta, 11 Januari 2010

Belajar dari Burung (2)

Ayat bacaan: Ayub 39:29-30
======================
“Oleh pengertianmukah burung elang terbang, mengembangkan sayapnya menuju ke selatan? Atas perintahmukah rajawali terbang membubung, dan membuat sarangnya di tempat yang tinggi?”

belajar dari burungKemarin saya mengambil ilustrasi sekumpulan angsa yang sedang berpindah ke daerah baru, dimana mereka terbang dengan membentuk formasi seperti huruf “V”. Ini sebuah kebesaran Tuhan yang ternyata telah mendesain segala sesuatunya sebagai rancangan yang terbaik bagi ciptaanNya di muka bumi ini. Apa yang dilakukan kelompok angsa terbang itu sungguh menarik untuk kita perhatikan. Dalam formasi V, burung yang terdepan bertugas sebagai pemimpin yang harus membelah hambatan udara sehingga angsa-angsa lainnya yang terbang di belakangnya akan lebih mudah untuk melewatinya. Apabila angsa yang di depan lelah, maka salah satu angsa akan menggantikannya dan demikian seterusnya. Angsa-angsa ini menunjukkan sebuah kerjasama yang efisien yang akan sangat berguna dalam menempuh perjalanan panjang. Mereka juga tidak suka terbang sendiri-sendiri karena ada resiko tersesat dan bahaya di perjalanan yang mungkin menimpa mereka.

Firman Tuhan mengatakan bahwa kita harus bisa belajar dari binatang termasuk burun-burung yang di udara. (Ayub 12:7). Meski kita lebih berhikmat dan lebih berharga ketimbang burung, namun tetap saja ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari pola kehidupan berbagai jenis burung. Hari ini saya mengambil salah satu bagian dari teguran Tuhan kepada Ayub atas keluhan-keluhannya yang tidak berkenan bagi Tuhan. Tuhan bertanya kepada Ayub demikian: “Oleh pengertianmukah burung elang terbang, mengembangkan sayapnya menuju ke selatan? Atas perintahmukah rajawali terbang membubung, dan membuat sarangnya di tempat yang tinggi?” (Ayub 39:29-30). Kira-kira Tuhan mengatakan seperti ini: “hai Ayub, apakah engkau (atau manusia) yang mengajarkan elang untuk terbang atau rajawali agar membangun sarang di tempat tinggi? Bukankah itu berasal daripadaKu?” Jelas, berbagai sifat-sifat atau perilaku istimewa hewan itu, termasuk burung elang, rajawali atau angsa dalam ilustrasi di atas adalah salah satu bukti kekuasaan Tuhan di alam semesta. Oleh sebab itulah kita bisa belajar dari berbagai pola kehidupan yang ditunjukkan oleh burung-burung. Mari kita lihat beberapa di antaranya.

1. Kerajinan dan kerja keras
Sepintas kita mengira bahwa burung itu sangat santai, namun kenyataannya sama sekali tidak demikian. Alkitab memang mencatat bahwa burung-burung pun ada dalam pemeliharaan Tuhan, seperti yang digambarkan Yesus lewat burung pipit (Matius 10:29-31) atau ayat bacaan kita hari ini dari kitab Ayub. Namun itu bukan berarti bahwa burung akan ongkang-ongkang kaki tanpa perlu bekerja. Lihat bagaimana burung-burung ini harus mengumpulkan biji-bijian sebagai makanan ke sarangnya. Burung tetap harus keluar dari sarang yang nyaman dan menempuh berbagai tantangan bahkan situasi sulit agar bisa makan dan mencukupi keluarganya. Bagaimana dengan kepak sayap rajawali? Untuk bisa melayang bebas dengan gemulai di atas sana burung ini harus terlebih dahulu mengepakkan sayapnya sekuat tenaga melawan angin bahkan badai hingga bisa mencapai sebuah ketinggian tertentu. Seringkali burung harus bermigrasi agar mampu memperoleh lingkungan yang baik untuk tinggal dan untuk makan jika tempatnya sekarang tidak lagi layak. Itu pun membutuhkan kerja keras.

Tuhan sendiri selalu mengajarkan kita untuk bekerja keras. Bahkan pesan ini termasuk pesan yang cukup keras karena firman Tuhan berkata: “jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” (2 Tesalonika 3:10). Salah satu janji berkat Tuhan kepada orang-orang yang mendengarkan suara Tuhan dan melakukan dengan setia segala perintahNya berbunyi: “Diberkatilah engkau di kota dan diberkatilah engkau di ladang.” (Ulangan 28:3). Ladang berbicara tentang pekerjaan kita. Tuhan siap memberkati anak-anakNya yang rajin bekerja, sebaliknya Tuhan sangat tidak menyukai pemalas. Karena itu tidak akan ada berkat bagi orang yang malas. “Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah.” (Pengkotbah 10:18). Di mata Tuhan seorang pemalas sama saja buruknya dengan orang yang suka merusak. (Amsal 18:9). Dan ada banyak lagi ayat yang menyebutkan teguran atau kerugian yang akan diderita oleh si pemalas.

2. Ketekunan
Pernahkah anda memperhatikan burung membangun sarangnya? Ia mengumpulkan ranting-ranting dan berbagai bahan lainnya satu persatu, agar ia bisa tinggal layak bersama keluarganya, juga menyediakan tempat bagi pasangannya untuk bertelur. Ranting-ranting itu tidak selalu tersedia dekat, jadi burung seringkali harus terbang jauh untu mengumpulkan satu demi satu. Bagaimana jika hancur terkena angin kencang, dirusak hewan lain atau manusia? Burung akan kembali membangun ulang sarangnya agar pasangannya bisa bertelur. Semua itu selain menggambarkan kerja keras juga terutama menggambarkan ketekunan. Ini pun bisa kita pelajari dari burung.

Selain menjadi orang rajin, Tuhan menghendaki kita menjadi orang-orang yang tekun. Mengapa demikian? Karena rajin tanpa disertai ketekunan belumlah cukup untuk menerima semua berkat yang dijanjikan Tuhan. Seringkali kita harus mampu bersabar terlebih dahulu menghadapi berbagai hal dan terus tekun dalam mengikuti firman-firmanNya sebelum bisa dipercaya untuk sesuatu yang besar. Penulis Ibrani menulis “Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.” (Ibrani 10:36). Seperti yang pernah saya bahas dalam renungan terdahulu, kata “ketekunan” dalam ayat ini diartikan sebagai “steadfast patience and endurance” artinya kira-kira “secara konstan dan setia dalam kesabaran dan ketahanan” dalam versi Amplified Bible. Paulus menjabarkan mengapa kita memerlukan ketekunan. “..ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Roma 5:4-5) Semua hanyalah akan sia-sia jika kita tidak memiliki ketekunan.

3. Bekerja sama
Ini salah satu sifat burung lainnya yang sangat penting kita teladani. Dari ilustrasi angsa terbang di atas kita melihat bahwa mereka cenderung terbang berkelompok. Tidak hanya angsa, tapi kebanyakan burung-burung lainnya pun akan demikian jika mereka harus berpindah ke tempat lain yang jauh jaraknya, mungkin sampai ke belahan dunia lain. Dalam melakukan perjalanan jauh ini mereka terbang beriringan ramai-ramai karena beberapa tujuan. Salah satunya seperti gambaran di atas, untuk efisiensi tenaga, membelah hambatan udara secara bergantian. Selain itu juga agar mereka bisa saling melindungi dalam perjalanan, kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah agar tidak tersesat. Ini bentuk “teamwork” yang luar biasa dari kumpulan burung yang bermigrasi dari satu tempat ke tempat yang lain.

Demikian pula kita diciptakan sebagai mahluk sosial yang harus saling membantu dan saling membangun agar tujuan kita bisa tercapai. Ini adalah sebuah hal yang sangat penting untuk dicermati, karena kenyataannya ada banyak orang yang selalu hidup dengan saling curiga dan penuh dengan buruk sangka. Egoisme sering menguasai kedagingan sehingga sulit rasanya untuk bekerjasama dengan orang lain. Jika itu saja sulit, apalagi rela meluangkan waktu, tenaga dan biaya untuk membantu sesama. Padahal firman Tuhan dengan tegas berkata: “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:2) Tidak main-main, bertolong-tolongan atau bekerja sama ini merupakan sebuah pesan penting karena dengan saling tolong menolong artinya kita memenuhi hukum Kristus akan kasih. Bagi kita yang kuat wajib menolong yang lemah dan tidak hanya terpusat pada kepentingan diri sendiri. Justu kepentingan orang lain harus kita utamakan. “Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya.” (Roma 15:1-2) Saling tolong menolong ini pun menjadi sebuah keharusan untuk dijadikan bagian hidup oleh orang-orang yang telah dipanggil oleh Tuhan. “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. (Efesus 4:2).

Tiga hal di atas baru sebagian dari hal-hal yang bisa kita teladani dari pola hidup burung. Kita diciptakan dengan hikmat yang lebih tinggi dari burung (Ayub 35:11), ditetapkan untuk berkuasa atasnya (Kejadian 1:28), diciptakan menurut rupa Allah sendiri (Kejadian 1:26) bahkan juga dikatakan mulia (Yesaya 43:4). Jika demikian, alangkah ironis ketika burung bisa menunjukkan etos yang sangat baik seperti di atas, sementara kita sebagai manusia yang unggul segala-galanya malah bersikap sebaliknya. Malas, cepat menyerah/gampang putus asa dan penuh rasa curiga. Alangkah ironisnya ketika burung menunjukkan sebuah kebersatuan yang harmonis dan dinamis, saling membangun dan saling menguntungkan, kita malah terus saling menghancurkan satu sama lain dan sulit sekali untuk bertumbuh bersama-sama. Mengapa saya mengambil ilustrasi angsa dalam dua renungan? Karena ketiga hal yang bisa kita pelajari dari seekor burung di atas bisa tercermin dari hal tersebut. Ketika angsa-angsa itu terbang membentuk formasi, disana ada kerajinan dan kerja keras, ketekunan serta kerja sama. Jika anda melihat burung hari ini, pandanglah ia dari sudut pandang yang baru. Burung memang diciptakan indah, namun ternyata ada banyak hal yang bisa kita pelajari darinya. Sungguh Tuhan kita luar biasa!

Dari burung kita bisa belajar mengenai kerajinan, kerja keras dan ketekunan