Aturan Kaku

Ayat bacaan: Matius 12:11
===================
“Tetapi Yesus berkata kepada mereka: “Jika seorang dari antara kamu mempunyai seekor domba dan domba itu terjatuh ke dalam lobang pada hari Sabat, tidakkah ia akan menangkapnya dan mengeluarkannya?”

aturan

Hidup tanpa aturan akan membuat sebuah negara atau tatanan hidup menjadi berantakan. Bayangkan jika negara berjalan tanpa ada aturan sama sekali, semua orang boleh berbuat sesukanya, apa jadinya hidup ini? Itu bahkan terlalu mengerikan untuk dibayangkan. Disisi lain, menerapkan aturan yang terlalu ribet pun akan sangat memusingkan pula. Saya saat ini bekerja disebuah tempat pendidikan dengan peraturan-peraturan yang sangat memusingkan dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan kualitas para pengajar. Ketimbang melihat skill atau kemampuan para pengajar dalam menggunakan tools untuk menghasilkan produk jadi, mereka lebih tertarik untuk berpusat kepada teori-teori yang bersifat hafalan semata. Teori itu penting. Tetapi untuk apa sebuah teori dihafalkan jika tidak mampu menghasilkan produk jadi? Sebagai staf disana, saya harus mengikuti aturan mainnya, setuju atau tidak. Lucunya mereka sendiri mengakui bahwa sistem itu aneh, tetapi mereka tidak melakukan apa-apa untuk itu. “Sudah dari sananya, mau bagaimana lagi.” kata mereka. Lihatlah berbagai peraturan yang mengharuskan orang bergelar sarjana untuk dapat diterima bekerja. Di satu sisi itu baik untuk menjaga kualitas pekerja, tetapi di sisi lain orang akan sibuk mengejar diploma atau gelar tanpa memperhatikan kualitas. Saya bertemu dengan begitu banyak orang-orang yang berpotensi luar biasa, pintar luar biasa dan punya semangat dan kejujuran tinggi, tetapi karena tidak mendapat kesempatan untuk meraih gelar sarjana, maka segala yang mereka miliki menjadi sia-sia.

Saya bukan termasuk orang yang anti aturan. Sama sekali tidak. Adanya peraturan atau formalitas tentu diperlukan agar organisasi bisa teratur dan proses bisa berjalan lancar. Tetapi di sisi lain sebuah formalitas atau peraturan yang terlalu kaku pun bisa menjebak orang-orang di dalamnya untuk menjadi ikut-ikutan kaku, dingin atau bahkan berubah dengan lebih mementingkan tata cara atau aturan sesuai formalitas dan sebagainya ketimbang melihat inti sebenarnya dari tujuan yang hendak dicapai. Adanya aturan-aturan yang terlalu kaku pun bisa membuka kesempatan bagi orang-orang yang jahat untuk mengambil keuntungan dari sebuah sistem yang kaku itu. Dalam bergereja pun situasi seperti ini bisa terjadi. Ada gereja-gereja yang lebih tertarik untuk mementingkan tata cara, tradisi atau adat istiadat ketimbang membawa jemaatnya untuk bersama-sama membangun dan meningkatkan hubungan dengan Tuhan. Ini tentu disayangkan, karena selain bisa membuat hubungan menjadi dingin, kesombongan rohani dan sikap menghakimi pun bisa menjadi ekses yang timbul.

Kita bisa melihat sebuah contoh yang ditunjukkan orang-orang Farisi ketika melihat Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat yang tercatat dalam Matius 12:9-15. Pada saat itu Yesus sedang berada di sebuah rumah ibadat lalu bertemu dengan orang yang sebelah tangannya lumpuh. Para orang Farisi itu pun kemudian memanfaatkan hal itu untuk mencari-cari kesalahan Yesus. “Boleh atau tidak orang ini disembuhkan? Ini hari Sabat lho…hari dimana kita tidak boleh melakukan pekerjaan apapun, sesuai kata hukum Taurat.” kira-kira seperti itulah yang mereka katakan. Lalu apa jawab Yesus? “Tetapi Yesus berkata kepada mereka: “Jika seorang dari antara kamu mempunyai seekor domba dan domba itu terjatuh ke dalam lobang pada hari Sabat, tidakkah ia akan menangkapnya dan mengeluarkannya?” (ay 11). Lalu Yesus melanjutkan: “Bukankah manusia jauh lebih berharga dari pada domba? Karena itu boleh berbuat baik pada hari Sabat.” (ay 12). Dan Yesus pun menyembuhkan orang itu. Ada banyak orang yang sedang menderita bermacam-macam masalah, dan mereka butuh jamahan Tuhan. Hal seperti itu tidak mengenal waktu. Sama seperti kita bisa mengalami sakit kapan saja, bahkan di jam-jam dimana orang mungkin sedang beristirahat, atau ketika di hari libur ternyata kita tiba-tiba membutuhkan dokter. Masalah bisa datang tanpa mengenal waktu. Dan Yesus tahu apa yang menjadi kebutuhan manusia dan apa yang menjadi tugasNya turun ke dunia, karenanya Dia pun mengulurkan tanganNya tanpa mempedulikan waktu. Kita bisa melihat apa kata Yesus berikut ini: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.” (Matius 9:12). Dia datang justru untuk orang-orang “sakit” seperti kita yang berdosa dengan berbagai akibat yang harus kita tanggung. Dia datang untuk menyembuhkan dan menawarkan keselamatan kepada semua orang tanpa terkecuali. Tapi lihat bagaimana respon orang Farisi yang merasa tahu betul Taurat Tuhan. Bukannya bersukacita atau bersyukur karena orang yang lumpuh sebelah tangan itu sudah sembuh, tetapi malah memakai momen itu untuk menjebak Yesus. Bukannya senang melihat ada orang yang dijamah Tuhan, tetapi malah mereka mementingkan peraturan atau tradisi-tradisi yang mengikat, lebih mementingkan itu ketimbang mengalirkan kasih Allah kepada orang lain. Apa yang ditunjukkan oleh orang-orang Farisi itu adalah sebuah bentuk kesombongan Rohani yang timbul akibat lebih memilih tradisi atau tata cara ketimbang mengasihi orang lain. Artinya, peraturan menjadi lebih tinggi ketimbang membangun hubungan dengan Tuhan dan melakukan sesuai perintahNya. Yesus menentang hal ini. “Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” (Markus 7:6-8). Apa yang dikatakan Yesus ketika kita lebih mementingkan tradisi dan tata cara, peraturan-peraturan bikinan manusia ketimbang melakukan perintah Allah? Yesus berkata: percuma. Percuma saja beribadah kalau hubungan Tuhan ternyata dinomor duakan dibawah berbagai formalitas, peraturan atau tata cara buatan manusia.

Di satu sisi formalitas atau aturan memang diperlukan agar segala sesuatu bisa berjalan tertib, teratur dan lancar. Tetapi di sisi lain ketika itu menjadi terlalu kental, maka kita pun bisa menjadi dingin dan kaku, atau kemudian terjebak menjadi orang-orang yang sombong secara rohani. Kita merasa bangga dan hebat jika sudah memenuhi aturan dari yang pertama hingga yang terakhir, lalu terperosok pada sikap yang menghakimi, dengan mudah menyalahkan orang lain yang berbeda tata cara dengan kita karena merasa kitalah yang paling benar. Menghakimi jelas bukan gambaran sikap yang seharusnya dimiliki oleh orang percaya. “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Matius 7:1-2). Di saat kesombongan itu hadir dan menelan kita, maka belas kasih pun menjadi kering, seperti apa yang kita lihat dari sikap orang-orang Farisi di atas. Formalitas atau aturan itu perlu untuk menjaga kelancaran dan keteraturan, tetapi jangan lupa bahwa kasih karunia Tuhan dan belas kasih seharusnya tetap menjadi dasar dari segala yang kita lakukan dalam hidup kita. Aturan akan menjadi indah apabila dipakai untuk memuliakan Tuhan dengan menyatakan kasih kepada orang lain tanpa pandang bulu, sebaliknya akan sangat tragis apabila malah merusak hubungan kita dengan sesama terlebih dengan Tuhan. Tidakkah ironis jika peraturan bukan membuat kita menjadi lebih baik tetapi malah menghancurkan diri kita sendiri yang juga bisa berdampak pada orang lain?

Membangun hubungan secara pribadi dengan Tuhan jauh lebih penting ketimbang tata cara yang dibuat manusia

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: