AskINSPIRE: Donor Sperma dan Kontrasepsi

September 29, 2017AskINSPIRE: Donor Sperma dan Kontrasepsi

Ada pertanyaan yang masuk ke INSPIRE:



Kakak admin, saya mau bertanya lagi:


1. Seandainya ada pasangan suami istri, yang kesulitan memiliki anak karena suami mandul, apakah diperbolehkan untuk menerima donor sperma dari laki-laki lain supaya mereka tetap dapat memiliki anak?


2. Apakah kontrasepsi dilarang oleh Tuhan? Di dekat tempat tinggal saya, ada pemuka agama Kristiani yang mengatakan bahwa kontrasepsi itu dosa.



Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada tiga hal yang harus kita pahami mengenai perkawinan dalam iman Katolik.


1. Manusia menggambarkan Allah yang adalah persatuan antar Pribadi (communion of persons)


Orang Kristiani percaya bahwa Allah adalah Allah Tritunggal—Satu Allah, Tiga Pribadi—adalah karena kita percaya bahwa “Allah adalah kasih,” (1 Yoh 4:8). Jika Allah bukan Tritunggal, Allah bukanlah kasih, karena kasih tidak pernah bisa berdiri sendiri. Kasih selalu membutuhkan tiga hal: seseorang yang mencintai, seseorang yang dicintai, dan hubungan di antara keduanya. Allah Bapa begitu mencintai Allah Putra, dan Allah Putra begitu mencintai Allah Bapa. Begitu besarnya cinta di antara mereka, hingga hadirlah pribadi ketiga, yaitu Allah Roh Kudus. Karena Dari pewahyuan ini, kita mengenal bahwa Allah adalah persatuan dari pribadi-pribadi (communion of persons). Dalam diri-Nya sendiri, Allah bahagia dan sempurna karena selalu berada dalam pertukaran kasih yang sempurna dan abadi.



Kita, manusia, diciptakan dalam gambar dan rupa Allah (Kej 1:26)—Allah yang adalah KASIH (1 Yoh 4:8), dan selalu dalam relasi kasih. Berarti, manusia memang diciptakan untuk memiliki kualitas keilahian, serupa dengan Allah. Kualitas ini dinyatakan dalam kemampuan manusia untuk mengasihi seperti Allah mengasihi, dan menciptakan persatuan pribadi, seperti persatuan pribadi Allah dalam Tritunggal Mahakudus.


Gambaran yang paling nyata bahwa kita diciptakan dalam kasih pertama-tama terlihat dalam hidup perkawinan. Paus Fransiskus menjelaskan dengan mudah mengenai hal ini, “Allah Tritunggal adalah persatuan kasih, dan keluarga adalah gambaran-Nya yang hidup.”


2. Ciri cinta kasih dalam perkawinan Katolik: bebas, total, setia, berbuah


Manusia yang diciptakan oleh Allah yang adalah KASIH dan selalu dalam relasi kasih; perkawinan manusia menggambarkan relasi kasih antara pribadi Allah. Kasih seperti apa yang menggambarkan Allah? Kasih yang memberikan diri, dan pemberian diri tersebut bersifat mempersatukan secara bebas, total, setia, dan berbuah.


Gambaran bebas, total, setia, dan berbuah adalah gambaran persatuan kasih di antara Pribadi Tritunggal. Juga seperti itulah Allah mengasihi manusia: Ia mengasihi manusia secara bebas dan tanpa paksaan; memberikan diri-Nya secara total dan utuh kepada manusia, termasuk nyawa-Nya; setia bahkan ketika manusia tidak setia (2 Tim 2:13); dan di mana Allah hadir, selalu ada keberbuahan dan kehidupan.


3. Sifat perkawinan Katolik: mempersatukan dan terbuka pada keturunan; monogami, tidak terceraikan, dan seumur hidup


Di dalam ajaran Katolik, sebuah perkawinan dinyatakan sah di antara dua orang terbaptis jika telah dilakukan sebuah hubungan seksual—saat suami dan istri menjadi satu daging—yang terbuka pada kehidupan. Hal ini sesuai dengan ciri cinta kasih dalam perkawinan Katolik, yaitu saat seseorang memberikan diri secara bebas tanpa paksaan dalam hubungan suami istri; diberikan secara total, termasuk kesuburannya, sehingga terbuka kepada kemungkinan lahirnya keturunan; dan diberikan secara setia, yaitu hanya kepada pasangannya saja, bukan kepada orang lain, seumur hidup hingga maut memisahkan.



“Allah ingin agar suami dan istri tidak dipisahkan. Kalau dimengerti dengan benar, sakramen perkawinan merupakan beban yang akan memberi kebebasan. Istri bebas untuk menjadi tua dan keriput tanpa takut dicerai, sementara suami juga bebas menjadi botak dan berperut gendut tanpa takut ditinggalkan istrinya.” (Scott Hahn)


Makna dan prinsip dalam perkawinan Katolik merupakan dasar dari pandangan Gereja mengenai moralitas terkait seksualitas.

Ajaran Gereja Katolik mengenai Anak

Gereja selalu melihat anak sebagai suatu tanda berkat ilahi, dan menyadari bahwa kesulitan memperoleh keturunan menjadi suatu penderitaan berat bagi pasangan suami istri. Namun, Gereja juga mengingatkan bahwa anak bukanlah sesuatu yang dapat dituntut atau hak, melainkan suatu anugerah. Anak tidak bisa dipandang sebagai hak milik. Anak memiliki hak yang sebenarnya, yaitu menjadi buah tindakan khusus dari penyerahan diri kedua orang tuanya (maksudnya, hubungan seksual), dan hak untuk dihormati sebagai manusia sejak pembuahannya (maksudnya, sejak persatuan sel sperma dan ovum). Anak juga memiliki hak untuk dikandung dan dilahirkan dalam pernikahan dan dari pernikahan, dari orang tua yang merupakan pasangan suami istri.

Ajaran Gereja Katolik mengenai Donor Sperma dan Prokreasi Artifisial

Mengenai donor sperma, kalau melihat keempat ciri di atas, hal ini akan melanggar ciri kesetiaan. Inilah alasan mengapa donor sperma atau sel telur yang bukan berasal dari pasangan suami istri sendiri tidak dapat diterima secara moral Katolik, karena anak yang muncul darinya bukan menjadi buah dari hubungan seksual ayah dan ibunya. Selain itu, anak juga dilucuti dari haknya untuk dilahirkan dari hubungan darah antara kedua orang tuanya, yang dapat berakibat pada terhambatnya kematangan identitasnya.


Mungkin kita akan bertanya, kalau begitu apakah teknologi reproduksi berbantu di luar hubungan seksual alamiah (prokreasi artifisial) dengan tetap menggunakan sel ayah dan sel ibu sendiri dapat diterima? Jawabannya adalah tidak, karena hal tersebut memisahkan sifat perkawinan yang mempersatukan (unitif) dan terbuka pada keturunan (prokreatif).

Ajaran Gereja Katolik mengenai Kontrasepsi

Mengenai kontrasepsi, kalau kita melihat keempat ciri di atas, hal ini akan bertentangan dengan ciri totalitas dan terbuka pada keturunan. Dalam penggunaan kontrasepsi, pasangan suami istri tidak memberikan dirinya secara utuh karena tidak memberikan kesuburannya, dan sangat mungkin memiliki sikap hati yang tidak lagi terbuka pada keturunan. Kontrasepsi dan aborsi juga sangat dekat kaitannya, seperti buah dari pohon yang sama. Ketika kehidupan yang merupakan hasil hubungan seksual menjadi “musuh” yang harus dihindari apapun caranya, aborsi menjadi jalan keluar ketika terjadi kegagalan kontrasepsi.


Dari sebab inilah, Gereja Katolik tidak membenarkan penggunaan kontrasepsi buatan dalam berbagai bentuknya. Cara yang diterima oleh Gereja dalam perencanaan kehamilan adalah perencanaan keluarga secara alamiah (Natural Family Planning), atau yang sering disebut KBA.


Sambil menulis penjelasan ini, saya merenungkan perkataan seorang dokter anak dan ahli genetika Katolik bernama Jerome LeJeune ketika ia mengatakan, “Memisahkan anak dari cinta, bagi spesies kita, adalah sebuah kesalahan metodologis. Kontrasepsi, yaitu bercinta tanpa menghasilkan anak; fertilisasi artifisial (in vitro), yaitu menghasilkan anak tanpa bercinta; aborsi, membatalkan anak; pornografi, membatalkan cinta. Semuanya ini, dalam derajat yang berbeda-beda, tidak sesuai dengan hukum kodrat.”


Sumber:
Peter Kreeft. Fundamentals of the Faith. San Francisco: Ignatius Press, 1988.
Katekismus Gereja Katolik
Instruction on Respect for Human Life
Instruction Dignitas Personae
Humanae Vitae
Evangelium Vitae
Dignitatis Humanae
Pedoman Pastoral Keluarga. Konferensi Waligereja Indonesia, 2011.


Sumber: Inspire.com

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply