Aqsa Mahmood, Gadis Glasgow yang Ngomporin Buat Kekerasan ala ISIS

Scottish-Jihadi-GirlSAAT itu adalah November 2013, ketika pasangan suami-istri Muzaffar dan Ny. Khalida Mahmood merasakan ada sesuatu yang ganjil pada dirinya putrinya: Aqsa. Ia masih muda belia; umurnya baru 19 tahun, ketika tiba-tiba menyatakan ingin berpamitan dengan keluarga besar mereka di Glasgow untuk sebuah perjalanan panjang ke Asia. Malam hari, sebelum esoknya berangkat terbang ke Turki, […]

Scottish-Jihadi-Girl

SAAT itu adalah November 2013, ketika pasangan suami-istri Muzaffar dan Ny. Khalida Mahmood merasakan ada sesuatu yang ganjil pada dirinya putrinya: Aqsa. Ia masih muda belia; umurnya baru 19 tahun, ketika tiba-tiba menyatakan ingin berpamitan dengan keluarga besar mereka di Glasgow untuk sebuah perjalanan panjang ke Asia.

Malam hari, sebelum esoknya berangkat terbang ke Turki, Aqsa minta izin tidur satu bed dengan saudari perempuannya –satu hal yang tak lazim untuk dunia Barat. Ia juga menyampaikan perasaannya berpamitan dengan neneknya.

Keganjilan yang dirasakan oleh kedua orangtuanya itu makin berasalan, ketika tiba-tiba Aqsa mengucapkan kalimat “Khuda Hafiz” yang kurang lebih berarti “Insya Allah”, sesaat sebelum meninggalkan Glasgow menuju Asia Kecil, destinasi perjalanannya.

Kepada CNN yang datang mewancarainya, Khalida Mahmood berujar, “Sudah pada saat itu pun, suamiya saya merasakan adanya suatu keganjilan. Ia bertanya pada saya: ‘Bukankah Aqsa baik-baik sajakah?’. Saya menjawabnya: ‘Ya’,” ujarnya perempuan Inggris berdarah Asia ini.

Beberapa bulan setelahnya, keganjilan Aqsa menjelang keberangkatannya ke Turki ini akhirnya menampakkan ‘buahnya’.

Melalui media sosial, Aqsa yang dididik dalam keluarga Muslim sangat moderat di Glasgow, tiba-tiba menampilkan dirinya sebagai sosok gadis yang sangat fundamentalis dan radikal. Melalui berbagai situs sosmed, ia menyerukan agar orang (lain) jangan ragu melakukan kekerasan atas nama agama seperti yang pernah menggemparkan Inggris dan Amerika.

Sekedar menengok peristiwa barbar yang terjadi di Woolwich,London, Mei tahun 2013. Seorang serdadu beliau Inggris bernama Lee Ribgy yang baru saja keluar dari markas militer dalam perjalanan pulang sendirian berjalan kaki di trotoar jalan tiba-tiba saja digorok lehernya oleh seorang warga Inggris keturunan Nigeria di jalanan umum di tengah keramaian London Selatan.

Kedua penyerang serdadu ini bernama Michael Adebolajo dan Michael Adebowale, imigran Inggris asal Nigeria yang mengaku membunuh Lee karena urusan balas dendam terhadap kekejaman tentara Inggris yang membunuh rakyat muslim di Irak selama Perang Teluk.

woolwich

Perempuan Inggris bernyali besar: Seorang pejalan kaki perempuan nekad ‘menegur’ salah satu penyerang dan pembunuh serdadu Lee Rigby yang masih memegang pisau berlumuran darah.

Lalu, Aqsa juga menyerukan agar dilakukannya serangan teroris di AS sama seperti yang terjadi saat berlangsungnya lomba lari marathon di Boston di bulan April tahun 2013. Di kota indah yang banyak dihuni warga katolik keturunan Irlandia ini, publik dan peserta lomba lari marathon dikejutkan oleh serangkaian ledakan bom skala ringan, namun yang membuat ‘pesta olahraga jalanan’ yang mestinya mengharumkan Boston ini malah membuat orang berlarian ketakutan.

Teror telah melukai Boston dan sebuah pembunuhan barbar dengan cara menyembelih leher manusia terjadi sebelumnya di Woolwich.

Aqsa Mahmood juga menyerukan terror di Texas, AS.

Boston Marathon Bombing

Teror bom saat Lomba Maraton di Boston, April 2013: Dua warga AS keturunan Chechnya berada di balik serangan bom yang mengacaukan pesta olahraga jalanan di Boston, Massachussetts ini.

Yang tak kalah membuat keluarganya di Glasgow terkejut adalah kiriman foto-foto Aqsa di “medan perang’’ dengan gagah menyandang senapan serbu otomatik AK-47 Kalasnikov yang termasyur itu. Ia dengan lantang menyerukan perjuangan ISIS dengan yel-yel khas.

Menurut Aamer Anwar yang bertindak sebagai penasehat hukum sekaligus juru bicara keluarga Mahmood, perubahan radikal dalam diri Aqsa bisa terjadi pada siapa saja dan di tengah keluarga Inggris mana pun. “Tak ada sesuatu yang berbeda yang telah mereka (pasangan suami –istri Mahmood) lakukan terhadap Aqsa. Mereka mendidiknya dengan sangat baik… sangat moderat dan bahkan liberal,” terangnya sebagaimana dikutip CNN edisi hari Jumat (5/9/2014) petang ini.

Menurut penuturan orangtuanya sebagaimana kemudian dikutip Anwar, perubahan radikal dalam diri Aqsa terjadi sejak gadis muda yang periang ini rajin mengikuti ceramah-ceramah agama yang disiarkan secara online hingga kemudian ‘menjalin kontak’ dengan kelompok militant secara online. Ujung-ujungnya berakhir dengan sebuah kepastian: Aqsa meninggalkan Inggris untuk bergabung dengan kelompok militant ISIS.

Ia terbang mula-mula ke Turki dan kemudian menyeberang ke Suriah dan baru kemudian ‘diketahui’ berada di tengah kelompok militant yang kini menjadi sorotan dunia internasional ini.

mahmood

Imigran dari Pakistan: Pengacara keluarga Ny. Khalida dan suaminya Muzaffar Mahmood menyampaikan keterangan pers kepada media internasional.

Muzaffar Mahmood lahir dan besar di Pakistan dan tahun 1970-an membawa istrinya beremigrasi ke Inggris dan memilih tinggal di Skotlandia di kota Glasgow. Pria ini bukan sembarangan, karena Muzaffar adalah bintang olahraga kriket Pakistan yang termasyur. Bersama istrinya Ny. Khalida, Muzaffar dikarunia empat orang anak.

“Aqsa adalah gadis baik-baik dan senang sekali sekolah di sini. Tak pernah sekalipun saya berkata keras membentak dia (karena saking alimnya dia),” terang Muzaffar.

Lazimnya anak-anak remaja Inggris dan dunia lainnya, Aqsa pun gila dengan buku-buku Harry Poter, senang mendengarkan music ColdPlay dan bahkan pernak-pernik yang berkaitan dengan The Hunger Games juga ada di kamar tidur pribadinya.

Kalau pun ada perubahan peringai pada Aqsa, itu terjadi ketika pecah perang saudara di Suriah dimana pasukan pemerintah yang setia pada Presien Bashir Al-Asaad menggempur habis-habisan pertahanan masyarakat pemberontak. Sejak itu, tiba-tiba saja Aqsa memperlihatkan dirinya sebagai pribadi yang lebih ‘alim’, suka membaca Kitab Suci, dan rajin sembahyang.

Ketika mulai masuk bangku kuliah, musickdan semua buku fiksi mulai dia singkiri. “Ia jarang sekali keluar rumah untuk sekedar senang-senang. Kalau pun keluar rumah, itu pun dia lakukan bersama saudari-saudarinya dan kami berdua untuk sekedar nonton atau makan di luar rumah,” terang kedua orangtuanya sebagaimana dikutip CNN.

Muzaffar baru dibuat kaget dan ngeh, ketika Aqsa tiba-tiba menyampaikan niatnya untuk mengunjungi kawasan perang di Aleppo di Suriah Utara. Aneh juga, kata kedua orangtuanya, Aqsa itu termasuk sosok manusia yang takut kegelapan. “Bahkan untuk naik bus pun, dia tak tahu jalan dan tak tahu harus bertanya kepada siapa,” katanya.

“Saya tak tahu mengapa tiba-tiba saja Aqsa menjadi sedemikian pemberani. Saya hampir tak bisa percaya bahwa dia telah berubah seperti itu,” tutur Ny. Khalida dengan isak tangis.  (Baca juga:  Gadis Inggris Nikahi Pejuang ISIS, Ortunya Kelabakan dan Malu)

Yang lebih membuat keluarga kaget adalah pemberitahuan Aqsa bahwa sejak dia berada di Suriah, maka tiba-tiba saja dia ingin mengakhir masa lajangnya.

Belum habis masa keterkejutannya, tiba-tiba kepada orangtuanya Aqsa menyatakan dirinya ingin mati syahid.

“Sebagai ibu yang telah melahirkannya, tentu saja saya berharap dia mau pulang dan selamat,” terang Ny. Khalida.

“Aqsa, anakku, kembalilah. Kami semua merindukanmu di sini. Anakku, atas nama Allah, ayolah pulang kembali kepada keluargamu , karena kami semua saying dan merindukanku. Please come back,” tutur Ny. Khalida.

Sumber: CNN dan BBC.

Kredit foto: Daily Mirror

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply