Apa Kata Orang

Ayat bacaan: 2 Korintus 5:16
=======================
“Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian.”

apa kata orang, menilai orang lain, menghakimi

Beberapa waktu yang lalu saya akhirnya bertemu dengan seseorang yang sebelumnya hanya saya kenal lewat cerita teman saya. Dari apa yang saya dengar dari teman saya, orang ini adalah orang yang arogan. Tapi setelah bertemu langsung, ternyata orang itu jauh dari kesan arogan. Dia ternyata ramah, baik, malah sedikit pemalu. Benar-benar sebuah gambaran yang sangat berbeda dari apa yang digambarkan teman saya. Sadar atau tidak, betapa seringnya kita menilai seseorang bukan berdasarkan penilaian objektif, tapi hanyalah didasarkan pada penilaian atau cerita orang lain. Betapa mudahnya kita menilai orang lain negatif hanya berdasarkan apa kata orang. Padahal pada kenyataannya belum tentu demikian. Penilaian buruk serta merta kita jatuhkan kepada seseorang tanpa terlebih dahulu melihat kenyataan melainkan hanya dari cerita yang kita dengar.

Paulus mengingatkan mengenai hal ini dalam suratnya untuk jemaat Korintus. Ukuran manusia dalam menilai sungguh beragam. Ada faktor kepentingan pribadi, sentimen pribadi, perbedaan sifat, perbedaan pandangan, suasana hati pada saat-saat tertentu dan sebagainya yang dapat mempengaruhi sebuah kesimpulan. Paulus berkata: “Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian.” (2 Korintus 5:16). Mengapa Paulus mengatakan bahwa mereka tidak lagi menilai seseorang menurut ukuran manusia? Ayat sebelumnya menjelaskan alasannya. “Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” (ay 15). Ya, siapapun orangnya, baik atau buruk sifatnya, seperti apapun ia, Kristus telah mati baginya. Siapapun orangnya, mereka bernilai penting di mata Allah sehingga Kristus rela mati di atas kayu salib untuk dia, seperti halnya untuk kita sendiri. Tidakkah keterlaluan jika kita menilai atau menghakimi seseorang atas kekurangannya padahal Kristus sendiri menganggap mereka begitu berharga sehingga rela menanggung penderitaan untuk sebuah keselamatan? Terlebih jika kita menilai bukan berdasarkan kenyataan, tapi hanya didasarkan kepada apa kata orang. Yesus mengatakan hal ini juga. “Kamu menghakimi menurut ukuran manusia, Aku tidak menghakimi seorangpun” (Yohanes 8:15). Yesus menambahkan “dan jikalau Aku menghakimi, maka penghakiman-Ku itu benar, sebab Aku tidak seorang diri, tetapi Aku bersama dengan Dia yang mengutus Aku.” (ay 16). Yesus menilai berdasarkan ukuran Bapa yang begitu mengasihi manusia, bukan berdasarkan ukuran manusia yang seringkali bias, tidak cukup objektif karena banyaknya faktor yang terlibat didalamnya. Alangkah ironisnya ketika Allah menganggap manusia itu berharga, kita malah sibuk membangun tembok-tembok pemisah dan menyebarkan aroma permusuhan kepada orang lain lewat sikap kita hanya berdasarkan apa yang kita dengar dari orang, atau hanya berdasarkan pendapat pribadi, dari pandangan atau imajinasi berlebihan kita sendiri yang sangat subjektif sifatnya.

Jangan mudah menelan apa kata orang sebelum mengetahui kebenarannya. Adalah sangat penting bagi kita untuk belajar menilai segala sesuatu secara objektif, dengan bukti atau fakta yang kita saksikan secara nyata. Itupun bukan dimaksudkan untuk membenci orang seandainya memang benar ada hal yang kurang baik dari mereka. Nobody’s perfect. Tidak hanya orang lain, tapi kita sendiripun punya kekurangan-kekurangan juga. Terlalu cepat mengambil kesimpulan atas orang lain bisa mengarahkan kita untuk terpeleset dalam menghakimi orang lain, sesuatu yang tidak seharusnya kita lakukan. “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Matius 7:1-2). Tidak ada seorangpun dari kita yang mau dinilai negatif. Jika kita tidak mau dinilai negatif, janganlah kita melakukannya kepada orang lain. “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (ay 12). Biar bagaimanapun, Yesus Kristus telah mati bagi mereka, anda dan saya. Jangan terlalu cepat menyimpulkan sesuatu, tapi selidikilah terlebih dahulu dengan benar. Kalaupun benar ada kekurangan, jadilah teladan dan doakan mereka agar mereka menjadi lebih baik. Setiap manusia punya kekurangan. Jauhlah dari menilai/menghakimi orang lain hanya karena kita menganggap diri kita lebih baik dari mereka, apalagi jika sampai membenci mereka hanya karena apa kata orang atau bentuk-bentuk pemikiran yang subjektif semata menurut diri kita. Karena biar bagaimanapun, Kristus rela mati bagi mereka, seperti halnya bagi kita.

Kita tidak lebih baik dari orang lain, karenanya jangan menilai orang lain apalagi hanya menurut apa kata orang

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply