Apa Kata Dunia?

Ayat bacaan: Yohanes 17:20-21
=======================
“Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”

bersatulah, denominasi

Memperbesar jurang perbedaan biasanya lebih mudah daripada mencari kesamaan. Ini sudah menjadi hal yang lumrah di jaman sekarang. Perpecahan demi perpecahan terus saja terjadi. Tidak saja terhadap orang-orang duniawi, tapi di kalangan anak Tuhan pun demikian. Tidak jarang kita menjumpai perpecahan di tubuh gereja bahkan adapula yang sampai menyebabkan permusuhan antar gereja. Tidak jarang kita mendengar orang berkata bahwa gerejanya lah yang benar dan menganggap gereja lainnya sesat. Saling mengejek, merendahkan, memojokkan, menganggap hanya dirinya yang benar sedangkan yang lainnya salah. Ini adalah hal yang menyedihkan. Bagaimana kita mau menjadi berkat jika di antara kita saja sudah saling menyalahkan? Apa kata dunia? Bukannya mencari titik persamaan tapi malah semakin sibuk menggali jurang perbedaan. Bukannya semakin dekat, tapi malah semakin jauh. Dimana letak kasih jika itu yang terjadi? Jangan mimpi dulu untuk bisa mengasihi orang lain jika kepada saudara seiman saja kita tidak mampu mengaplikasikannya. Jangan mimpi dulu untuk mengubah dunia menjadi lebih baik jika yang sudah baik saja terus kita gerogoti. Tata cara peribadatan pun akhirnya menjadi celah bagi iblis untuk mengobok-obok kita, dan ironisnya kita mengijinkannya.

Yesus sangat merindukan kesatuan di antara semua gereja Tuhan di atas permukaan bumi ini. Sudah jelas bahwa setiap gereja yang mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat merupakan bagian dari tubuh Kristus. Maka dimanapun kita berjemaat, kita pun merupakan anggota dari tubuh Kristus. Jika Dia mengasihi semua anak-anakNya, mengapa kita sendiri malah saling menyalahkan dan menjatuhkan? Mari kita lihat bagian dari doa dari Yesus untuk murid-muridNya. “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yohanes 17:20-21). Ada beberapa bagian penting dari petikan doa Yesus ini yang bisa kita ambil. Pertama, kita bisa melihat bahwa Yesus tidak hanya berdoa bagi murid-muridNya, tapi juga kepada semua orang yang percaya kepadaNya. Kemudian Yesus juga mendoakan agar semua kita yang percaya kepadaNya bisa bersatu. Sama seperti Bapa di dalam Yesus, dan Yesus di dalam Bapa, demikian pula kita semua di dalam Bapa dan di dalam Yesus. Ini bentuk kesatuan yang utuh. Dan Yesus pun menyatakan bahwa hanya dengan kesatuan seperti inilah kita bisa membuat perbedaan nyata bagi dunia. Tidak akan ada yang percaya kepadaNya jika kita sebagai umatNya di muka bumi ini justru menunjukkan kelakuan yang buruk. Jika kita sendiri pecah dan saling benci, sementara kita mengajarkan soal kasih, siapa yang bakal mau mendengar? Bukannya menjadi berkat, kita malah menjadi batu sandungan. Bukannya memuliakan Tuhan, tapi kita malah menjatuhkan namaNya.

Mengenai kesatuan ini kita bisa meneladani sikap gereja mula-mula. Lihatlah bagaimana kebersatuan mereka yang begitu indah. “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.” (Kisah Para Rasul 2:42). Dalam kebersatuan dan ketaatan pun mereka kemudian diberkati Tuhan dengan hadirnya banyak mukjizat dan tanda. (ay 43). Lalu dikatakan bahwa menyaksikan kemuliaan Tuhan turun atas mereka, semuanya terus bersatu, bahkan kepunyaan mereka masing-masing pun menjadi milik bersama. “Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama,” (ay 44). Dan lihatlah bahwa dengan kebersatuan yang mereka tunjukkan, dunia bisa melihat dan percaya. Maka Tuhan pun menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. (ay 47). Lihatlah bahwa tidak ada perbedaan antara jemaat mula-mula. Orang Yahudi atau tidak, kaya atau miskin, pria atau wanita, tua atau muda, mereka semua bersatu dan sama-sama bertekun untuk belajar kebenaran firman Tuhan. Mereka memberi diri dibaptis, memecahkan roti, berdoa, mendalami firman Tuhan, bersatu di dalam rumah Tuhan, dan yang paling penting, melakukan segala yang difirmankan Tuhan pula lewat perilaku mereka. Dan dunia pun bisa melihat bentuk kesatuan ini secara nyata.

Kembali kepada Yohanes 17:20-21 di atas, kita bisa melihat bahwa ketika Yesus berbicara mengenai satu kesatuan, hal itu bukanlah hanya mengacu kepada kesatuan rohani semata tapi juga mengacu kepada sebuah kesatuan yang secara nyata dapat dilihat oleh dunia. Tidak soal dimana anda dan saya berjemaat, kita semua adalah satu, sama-sama anggota tubuh Kristus. Kita semua adalah bagian dari tubuh Kristus dimana Kristus sendiri bertindak sebagai kepala.“Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada.” (Efesus 1:22). Ingatlah bahwa “Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.” (ay 23). Selanjutnya Paulus pun mengingatkan “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.” (2:20-21).

Hendaklah kita selalu ingat bahwa dimanapun kita berjemaat, kita semua adalah bagian dari tubuh Kristus, yang seharusnya saling mengisi. Alangkah indahnya jika kita bisa menyampingkan berbagai perbedaan yang berpotensi menjadi celah bagi iblis untuk memecah belah kita, lalu saling dukung untuk bertumbuh bersama-sama. Tidak boleh ada toleransi terhadap perpecahan, apapun alasannya diantara sesama tubuh gereja sendiri. Bentuk tata cara peribadatan boleh saja berbeda, yang penting semuanya berdasar pada iman yang sama akan  Kristus. Perbedaan denominasi boleh saja, tapi semuanya tetap merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari bait Allah yang kudus. Di atas segala perbedaan ada satu kesamaan, dan mulailah dari sana. Kita diajarkan untuk saling mengasihi, seperti halnya Tuhan mengasihi kita. Maka terapkanlah hal itu mulai dari yang kecil, yaitu diantara sesama jemaat Kristus. Jangan bermimpi untuk bisa menyelamatkan dunia jika kepada saudara sendiri saja kita masih saling curiga. Jika itu yang masih kita pertontonkan, apa kata dunia? Yesus menginginkan kita untuk bersatu, sedang iblis ingin kita terpecah belah dan saling benci. Mana yang akan kita pilih?

Denominasi boleh banyak, tapi semuanya adalah anggota tubuh Kristus

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply