Antara Percaya dan Ragu

Ayat bacaan: Markus 9:24
=====================
“Segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!”

kontradiksi, antara percaya dan raguSudah berdoa terus menerus tapi belum kunjung mendapat jawaban? Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan hal ini. Mungkin belum sesuai waktunya Tuhan, mungkin kita belum membereskan masalah-masalah yang masih tinggal di dalam diri kita di hadapan Tuhan sebelum berdoa, atau mungkin doa yang kita panjatkan tidak didasari dengan rasa percaya dalam iman yang cukup. Masalah percaya penuh sering menjadi hambatan turunnya jawaban Tuhan atas doa kita. Mungkin bukan karena kita yang tidak mau percaya, tetapi himpitan beban yang begitu berat membuat keraguan kita muncul setiap kali kita mengharapkan turunnya tangan Tuhan untuk melepaskan kita. Kita mau percaya, tapi bagaimana mungkin itu terjadi atas diri kita? Bukankah masalah ini terlalu berat dan sepertinya tidak ada jalan keluar? Itu sering menyita pikiran kita sehingga doa-doa kita pun tidak kita lepaskan dalam rasa percaya yang cukup. Antara percaya dan ragu, terombang ambing bagaikan berdiri di atas seutas tali tipis, antara putus asa dan harapan. Tidakkah kita sering mengalami hal ini?

Hari ini mari kita lihat kisah ketika seorang ayah membawa anaknya yang kerasukan roh jahat ke hadapan Yesus. (Markus 9:14-29). Betapa paniknya si ayah, karena bukan saja roh itu membisukan anaknya sejak kecil, tapi juga menyerang anaknya dengan cukup parah. “Dan setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya bekertakan dan tubuhnya menjadi kejang.” (Markus 9:18). Tidak satupun murid Yesus yang sanggup berbuat sesuatu. Si ayah pun berkata: “Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” (ay 22). Perhatikan si ayah mengatakan “jika Engkau dapat berbuat sesuatu.” Adakah hal yang tidak dapat dilakukan Tuhan? Tentu kita semua tahu jawabannya. Dan itu juga yang dikatakan Yesus. “Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (ay 23). Lihat bahwa Yesus menekankan kepada kata “percaya.” Itu adalah salah satu kunci penting untuk mendapatkan jawaban atas doa. Dan jawaban selanjutnya dari si ayah sungguh menarik untuk kita simak. “Segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini! (ay 24). Ini perkataan yang kontradiktif yang ia ucapkan dalam setarik nafas, dalam satu kalimat. Mana yang benar, percaya atau tidak percaya?

Sesungguhnya apa yang dialami si ayah seringkali kita alami pula dalam hidup kita. Ketika beban pergumulan memuncak kita menjadi terombang-ambing antara keadaan ingin percaya tapi tidak cukup bisa untuk mempercayainya. Kita ingin ditolong tapi kita ragu apakah mungkin pertolongan itu bisa hadir. Sekali lagi, yang menjadi masalah bukanlah ketidak-inginan kita untuk percaya, tapi justru lebih kepada ketidaksanggupan kita untuk mengimaninya. Beban terkadang menimpa dengan sangat berat sehingga sulit bagi kita untuk tetap fokus dengan iman disertai rasa percaya yang penuh ketika kita memohon pertolongan Tuhan lewat doa kita. Maka teriakan si ayah pun mewakili apa yang sering kita alami hari ini.

“I want to believe, please help me to believe!” Sederhananya seperti itulah pergumulan si ayah menghadapi keadaan anaknya. Puji Tuhan, Dia bukanlah Allah yang kaku dan hanya menyuruh. Dia adalah Allah yang peduli akan pergumulan kita. Ketika kita diminta untuk percaya, dan kita belum cukup sanggup untuk itu, bukankah sangat melegakan ketika kita mengetahui bahwa Tuhan pun bersedia membantu kita untuk percaya, untuk mengatasi keraguan kita? Dan Tuhan siap untuk melakukannya. Dia bersedia untuk itu. And that’s a good news since we are only human with limited ability and full with weaknesses.

Berulang kali Yesus menegur murid-muridNya yang kurang percaya. Termasuk si ayah pun ditegur karena tidak percaya. Kenyataannya, Yesus mau membantu sisi kurang percaya si ayah dan menyembuhkan anaknya. Jika kita melihat kejadian lain ketika Yesus menyembuhkan orang sakit kusta (Lukas 5:12-16), kita melihat perbedaan iman dari orang kusta ini dengan ayah dari anak yang kerasukan tadi. Orang berpenyakit kusta ini berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” (ay 12). Itu perbedaan nyata antara imannya dengan iman si ayah yang berkata “jika Engkau dapat.” Tuhan selalu dapat, dan bagi orang percaya tidak ada kata mustahil. Karena itu kita harus terus melatih diri kita untuk mampu memiliki iman yang dipenuhi rasa percaya. Jika kita masih tidak sanggup memilikinya, berdoalah dan minta Tuhan membantu kita untuk bisa percaya terlebih dahulu sebelum kita mulai memohon pertolonganNya. Yesus sudah mengingatkan kita “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” (Yohanes 14:1), atau “Jangan takut, percaya saja!” (Markus 5:36) dan banyak lagi firman Tuhan yang menyuruh kita untuk memiliki sebentuk rasa percaya yang cukup untuk bisa mendapatkan jawaban atas permasalahan-permasalahan kita. “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (Markus 11:24). Begitu pentingnya sebuah iman yang percaya dalam menerima uluran tangan Tuhan, maka dari itu marilah hari ini kita berdoa agar Tuhan meneguhkan kepercayaan kita kepadaNya. Dan tidak akan ada lagi hal yang mustahil bagi kita.

Tekanan hidup bisa membuat kita ragu, tapi puji Tuhan, Dia bersedia meneguhkan kepercayaan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: