Antara Paku dan Kemarahan (2)

 (sambungan)

Dalam kitab Mazmur, Daud mengatakan: “Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.” (Mazmur 37:8). Ada kalanya memang kita bisa merasa kesal dan kemudian marah. Sebagai manusia yang memiliki perasaan memang pada waktu-waktu tertentu kita tidak bisa menghindar dari kekesalan atau kemarahan akibat banyak hal atau ditimbulkan oleh perilaku orang lain yang menyinggung kita, apalagi ketika kita sedang capai, mood sedang labil dan lain-lain. Meski kita bisa marah pada suatu waktu, kita harus tahu bagaimana meredamnya, tidak membiarkan amarah itu terus membesar hingga tidak lagi bisa kita kendalikan.  Apa yang bisa kita lakukan adalah sesegera mungkin meredamnya. Emosi seringkali berawal kecil, namun bertambah parah jika kita diamkan. Dan apabila sudah parah, emosi itu akan menjadi sulit untuk kita redam. Bagaikan api yang cuma muncul dari sebatang korek kecil, tetapi itu bisa membakar habis sebuah rumah. Jika kita kalah dan membiarkan emosi terus membesar menelan kita, disanalah akhirnya berbagai kejahatan mengintai dan siap membinasakan kita. Berbagai tindakan bodoh pun bisa muncul tanpa terkendali dan tanpa sadar karena kita sudah gelap mata dikuasai oleh emosi. Oleh karena itu kita harus bisa cepat meredam kemarahan kita sebelum terlambat, sebelum kita melakukan atau mengatakan hal-hal yang bisa melukai orang lain atau merugikan/mencelakakan diri kita sendiri.

Yakobus berkata: “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.” (Yakobus 1:19). Kita diminta untuk mendengar dulu baik-baik dan tidak cepat menyela apalagi jika belum apa-apa sudah langsung marah. Cepatlah mendengar, tetapi lambat untuk membalas lewat kata-kata. Jangan terburu-buru menyela sebelum tahu betul masalahnya. Apa yang sering dilakukan manusia justru sebaliknya. Belum jelas masalahnya sudah terlebih dahulu menyerang. Lantas ayat selanjutnya menyatakan mengapa kita diminta untuk lambat berkata-kata dan menghindari kemarahan. “sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.” (ay 20). Lebih lanjut lewat Paulus kita juga bisa menemukan peringatan agar kita membuang jauh-jauh kemarahan dari diri kita. “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” (Efesus 4:31). Apa yang dianjurkan bagi kita adalah sebaliknya, “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” (ay 32).

Jika anda merasa kesal dan mulai marah, segeralah redam kemarahan itu sebelum kemarahan itu menguasai diri anda. Seperti yang saya katakan kemarin, membiarkan kemarahan menyala-nyala tanpa terkendali dalam diri kita adalah seperti menyediakan taman bermain yang sangat menyenangkan bagi iblis. Dan itu pun disampaikan dalam Alkitab. “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” (Efesus 4:26-27). Lihatlah bahwa dibalik kemarahan yang terus meningkat naik kita sebenarnya membuka celah atau ruang seluas-luasnya kepada iblis untuk menari-nari berpesta pora menghancurkan kita. Petrus berkata: “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Petrus 5:8). Dari ayat ini kita bisa melihat dengan jelas bahwa sesungguhnya iblis hanya bisa berjalan berkeliling mengaum mencari mangsa. Iblis tidak akan pernah bisa menembus kita dan hanya bisa berputar-putar mencari celah yang bisa ia terobos. Ketika kita membiarkan emosi berkuasa atas kita, itulah saat dimana kita membuka celah untuk iblis masuk dan menghancurkan kita.

Alkitab menyatakan bahwa orang yang membiarkan dirinya gampang meledak dalam amarah adalah orang bodoh: “Terhormatlah seseorang, jika ia menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak. (Amsal 20:3). Setiap orang bodoh, bukan sebagian. Itu menunjukkan betapa buruknya ketika kita menjadi pribadi yang meledak-ledak dan gampang marah. Dalam kesempatan lain kita juga bisa membaca Firman Tuhan lainnya yang mengatakan hal ini: “Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh.” (Pengkotbah 7:9). Lewat sebuah kemarahan ada banyak kejahatan yang mengintai disana. Semakin lama kita membiarkan diri kita marah, maka semakin banyak pula kesempatan iblis untuk menghancurkan kita dengan berbagai bentuk kejahatan. Jangan terlena dengan amarah. Meski alasannya ada, meski penyebabnya jelas, kita harus secepat mungkin mengontrol emosi kita sedini mungkin. Mengapa? Karena akan jauh lebih mudah untuk meredam emosi ketika masih baru, tetapi menjadi sangat sulit bahkan mustahil ketika emosi itu sudah terlanjur menguasai diri kita. Sekali lagi, ingatlah bahwa paku yang ditancapkan ke dinding meski kecil sekalipun akan tetap meninggalkan lubang atau bekas disana selamanya. Paku-paku seperti itu bisa berterbangan keluar dari kemarahan kita dan menancap, menembus, melukai hati banyak orang. Berhentilah melukai orang lain terutama orang yang kita kasihi seperti orang tua, anak, suami/istri dan lain -lain hanya karena kita tidak bisa mengendalikan emosi kita. Berhentilah melubangi orang lain lewat paku-paku yang terus kita tancapkan tanpa henti di hati mereka. Kuasai diri segera ketika marah, sehingga tidak ada paku yang terlanjur menembus orang lain dan meninggalkan luka menganga disana.

Emosi sesaat bisa membawa bekas luka di hati orang sepanjang hidupnya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: