Antara Iman dan Mengampuni

Ayat bacaan: Markus 11:24-25========================”Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahu…

Ayat bacaan: Markus 11:24-25
========================
“Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.”

Tidak mudah bagi kita untuk memaafkan, apalagi kalau orang yang bersalah tidak sadar akan kesalahannya. Bagaimana mau menyesali dan meminta maaf kalau sendirinya saja tidak sadar sudah menyinggung atau menyakiti perasaan orang? Lalu bagaimana posisi orang yang menjadi korban, yang berada pada posisi untuk memaafkan? Hal ini sering menjadi dilema dalam hidup banyak orang. Ada seorang teman yang baru saja menumpahkan kekesalannya dengan bercerita kepada saya. Beberapa bulan lalu ia merasa kecewa dan tersinggung akibat perkataan dan perbuatan salah satu temannya. Seiring waktu berjalan, ia bisa mengatasi perasaan tersebut dan berinisiatif untuk memperbaiki hubungan, terlebih karena ia merasa sebagai orang yang lebih muda. Saat ia menghampiri temannya itu, si teman tiba-tiba menjauh kabur, menutup, mengunci pintu rumahnya. Lucunya, sikap ini dilakukan oleh seorang pria dewasa. Merasa diri tidak bersalah? Kalaupun memang tidak sadar, itu sebenarnya kesempatan yang tepat untuk menumpahkan unek-unek karena orangnya sudah ada disitu. Atau memang hobi lari dari masalah? Itupun terasa aneh mengingat ia adalah pria yang sudah paruh baya. Maka pertanyaan tadi muncul: bagaimana kita mengampuni orang yang tidak tergerak untuk meminta maaf, bahkan tidak sadar akan kesalahannya? Apakah melepaskan pengampunan tergantung dari permintaan maaf si pelaku, dan apakah keputusan kita untuk memaafkan atau tidak itu menentukan bagaimana hidup kita dalam hubungannya dengan Tuhan?

Mengacu pada firman Tuhan, kita harus siap mengampuni tanpa pandang bulu, tanpa menimbang berat-ringannya kesalahan mereka terhadap kita. Ayat yang menyatakan hal ini sangat banyak, terutama dari pengajaran Yesus sendiri. Masalah sakit hati apalagi dendam, jika dibiarkan justru bisa merugikan diri kita sendiri. Ada banyak orang yang terikat pada kepahitan terhadap seseorang sehingga sulit maju. Ada banyak orang yang terikat pada trauma masa lalu akibat perlakuan seseorang sehingga sulit bagi mereka untuk menatap masa depan. Ada banyak yang membiarkan dendam membara sehingga sukacita mereka pun hilang. Berbagai penyakit bisa timbul akibat hal ini, mulai dari penyakit ringan sampai yang mematikan. Jika dipikir-pikir, betapa ironisnya ketika kita disakiti orang, kita pula yang menderita kerugian lebih lanjut akibat ulah mereka. Dan hanya sedikit orang yang menyadari bahwa kebencian, sakit hati atau dendam ini bisa memenjarakan iman kita sehingga sulit berkembang. Tidak banyak orang yang sadar bahwa ada keterkaitan yang sangat erat antara iman dan pengampunan .

Seperti apa hubungannya? Mari kita lihat rangkaian ayat dalam Markus pasal 11 berikut ini yang mengutip perkataan Yesus sendiri.
“Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (ay 25).
“Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” (ay 26).

Perhatikan bagaimana Yesus merangkai kedua kalimat tersebut. Kedua ayat ini secara berurutan dikatakan Yesus, dan itu bukanlah suatu kebetulan. Saya percaya Yesus sengaja mengatakan kedua kalimat ini bukan dalam dua konteks berbeda. Apa yang Yesus ingin adalah, Dia mau kita tahu dan mengerti bahwa pengampunan merupakan landasan untuk bisa menerima dari Tuhan. Sebelum berdoa, kita harus terlebih dahulu mengampuni orang-orang yang masih mengganjal di hati kita. Bereskan dulu itu, baru berdoa, karena jika tidak, iman kita masih terbelenggu dan doa yang kita panjatkan pun tidak akan bisa membawa hasil apa-apa. Akibatnya kita tidak akan menerima apa-apa dari Tuhan. Sebelum Yesus mengatakan kedua kalimat di atas, Dia baru saja menjelaskan bahwa iman yang teguh akan mampu mencampakkan gunung sekalipun untuk terlempar ke laut. (ay 23). Iman yang sekecil biji sesawi sekalipun akan mampu melakukan itu. Tuhan siap memberikan apapun yang kita minta dan doakan dengan disertai rasa percaya. Tapi sebelum itu semua terjadi, agar itu bisa terjadi, kita terlebih dahulu harus mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita, orang yang telah menyakiti hati kita, orang yang telah melukai perasaan kita. Sebab tanpa itu, iman kita masih terperangkap sehingga kita terhambat untuk menerima segala sesuatu dari Tuhan.

Saat Petrus bertanya berapa kali ia harus siap mengampuni, Yesus menjawab demikian: “Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (Matius 18:22). Tujuh puluh kali tujuh menggambarkan keharusan kita untuk bisa terus mengampuni tanpa batas. Yesus mengingatkan bahwa kita harus siap memberi pengampunan terus menerus, dan jangan menyisakan dendam dalam hati kita. Dalam doa yang diajarkan Yesus pun kita diingatkan akan hal itu. “dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” (Matius 6:12) Perihal memberi pengampunan sangat penting dan sangat berkaitan erat dengan pengampunan yang kita terima dari Tuhan. Jika kita mengampuni orang, maka Tuhan pun akan mengampuni kita. (Markus 11:25). Dan permintaan kita dalam doa pun Dia dikabulkan.(ay 24). Tapi hal sebaliknya pun berlaku. “Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” (ay 26).

Kembali ke ayat bacaan kita hari ini, Yesus menopang kedua kalimat itu dengan sengaja. Yesus ingin kita tahu bahwa memberi pengampunan adalah landasan untuk mendapat pengampunan Tuhan dan untuk menerima segala sesuatu dari Tuhan. Dia ingin mengingatkan kita bahwa tidaklah mungkin bagi kita untuk menerima pengabulan doa jika kita masih menyimpan dendam di dalam hati kita pada waktu yang sama. Sikap tidak mau mengampuni akan menghambat saluran iman dan membuat kita tidak mampu melangkah maju. Dengan menyimpan dendam atau ganjalan terhadap seseorang, di dalam hidup kita akan terganggu, sulit maju bahkan menderita, di hadapan Tuhan pun kita tidak berkenan. Saya tahu bahwa dalam kasus-kasus tertentu tidak mudah bagi kita untuk mengampuni seseorang. Mungkin hidup kita sudah hancur karena perbuatan mereka, mungkin kerugian sudah terlalu banyak, mungkin tidak akan bisa mengembalikan sesuatu yang terlanjur hilang dari hidup kita, tapi kita tetap harus sanggup melepasnya agar kita bisa melangkah maju. Kita perlu membebaskan diri kita dari belenggu dendam, mengampuni mereka yang bersalah kepada kita, agar kita bisa memerdekakan iman kita sepenuhnya. Kemampuan kita mungkin terbatas untuk itu, tapi Roh Kudus akan memampukan kita untuk memberikan pengampunan dan memerdekakan iman kita selama kita mengijinkan Roh Allah tersebut bekerja dalam diri kita. Jika diantara anda ada yang masih menyimpan ganjalan, sakit hati atau dendam terhadap seseorang, berdoalah hari ini dan ijinkan Roh Kudus bekerja untuk menguatkan kita hingga dapat mengampuni orang-orang itu dan dengan demikian membebaskan iman anda. Buanglah sumbatan pada saluran iman anda, maka anda akan menyaksikan bagaimana hidup anda akan terasa begitu ringan dan kembali dipenuhi sukacita tanpa terhalang oleh apapun.

“Forgiveness is the giving, and so the receiving, of life” – George Macdonald, penulis literatur berisi ajaran kristen asal Skotlandia

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply