Antara Berkata dan Didengar

Ayat bacaan: Filipi 2:3
===================
“dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;”

mendengar dan bicara

Setiap orang punya kebutuhan untuk berbicara, disisi lain juga punya kebutuhan untuk didengarkan. Bahkan bagi sebagian orang kebutuhan untuk didengarkan begitu penting sehingga bisa menjadi “bahasa kasih”nya. Artinya, mereka akan merasa dikasihi apabila mereka didengarkan. Ada banyak kehancuran rumah tangga berawal dari hal yang mungkin menurut kita hanya sepele. Suami yang terlalu lelah langsung tertidur dan tidak memiliki waktu lagi untuk mendengar istrinya. Sepele saja, tetapi lama kelamaan ini bisa menjadi sebuah racun mematikan apabila sang istri ternyata memiliki bahasa kasih berbentuk kerinduan atau keinginan untuk didengarkan suaminya. Begitu juga sebaliknya, ada suami yang ingin istrinya mendengar ceritanya ketika bekerja, apa pencapaian-pencapaiannya dan ia ingin istrinya bangga terhadap kerja kerasnya. Dan bayangkanlah jika istrinya ternyata kurang peka dan tidak mau pusing-pusing mendengar cerita tentang pekerjaan suami yang sama sekali tidak ia pahami. Di sisi lain ada banyak pula hubungan yang hancur akibat kata-kata yang keluar tidak dikawal dengan hati-hati. Sepintas saja kata kasar keluar karena kita sedang emosi, sesaat lagi kita sudah lupa. Tetapi bisa jadi hal itu berbekas hingga waktu lama, bahkan menghancurkan seseorang tanpa kita sadari.

Alkitab mengatakan bahwa memperhatikan kepentingan orang lain jauh lebih penting ketimbang mencari kepentingan diri sendiri. Demikian pula halnya dalam berkata-kata. Alkitab mengajarkan kita untuk benar-benar memperhatikan setiap kata yang kita keluarkan dengan hati-hati. Jangan sampai: “dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk.” (Yakobus 3:10). Dan ini dikatakan Yakobus tidak boleh sampai terjadi. Dan memang, Tuhan telah berfirman bahwa segala kata yang keluar dari kita harus kita pertanggungjawabkan kelak di hari penghakiman. “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.” (Matius 12:36). Dalam banyak kesempatan Alkitab mengingatkan kita untuk menyaring setiap kata yang keluar. Apa yang seharusnya kita ucapkan dan apa yang seharusnya kita hindarkan. Mari kita lihat beberapa diantaranya:

– Kita harus memberi Allah nyanyian, puji-pujian dan ucapan syukur dengan mulut kita (Mazmur 100:4)
– Tuhan ingin kita menyebut namaNya dengan hormat tertinggi (Keluaran 20:7)
– Lemah lembutlah dalam menghadapi orang marah (Amsal 15:1)
– Perhatikan baik apa yang keluar dari mulut kita, apakah pengetahuan atau malah mengekspos kebodohan sendiri (ay 2)
– Hindari kata kotor, pakai mulut untuk membangun dan memberkati orang lain (Efesus 4:29) dan ucapkanlah syukur (5:4)
– jangan menipu, tetapi katakanlah kebenaran (Keluaran 20:16)
– katakan yang manis, sedap didengar, berisi kebajikan dan jangan menahan pujian (Filipi 4:8)

Ini baru sebagian dari hal-hal yang seharusnya kita perhatikan dalam berkata-kata. Sesungguhnya menjaga kata yang keluar dari mulut kita sungguh merupakan sesuatu yang penting untuk kita awasi. Yakobus mengatakan bahwa perkataan kita bisa seperti kemudi sebuah kapal atau bahkan percikan api yang bisa memicu kebakaran hutan yang besar dan membawa kehancuran serius. (Yakobus 3:2-8). Jelas, menjaga perkataan merupakan sebuah kerja keras yang sama sekali tidak ringan. Tetapi kita diminta untuk serius dalam menyikapinya. Terlalu cepat berkata-kata sama sekali tidak dianjurkan oleh Alkitab. Lihatlah apa yang dikatakan Yakobus berikut: “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.” (1:19). Artinya, ketimbang mementingkan kebutuhan untuk berbicara, kita justru harus menekankan kesediaan kita untuk mendengar. Dalam suratnya kepada jemaat Filipi Paulus menekankan bahwa kita harus lebih mementingkan orang lain ketimbang diri sendiri, “dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” (Filipi 2:3-4). Sebuah rasio seberapa banyak kita mendengarkan dan berapa banyak kita berbicara bahkan bisa menjadi sebuah barometer yang cukup efektif untuk menunjukkan sejauh mana kita sudah benar-benar peduli terhadap kepentingan orang lain.

Apakah ini artinya kita tidak punya hak untuk mengungkapkan isi hati kita? Tentu saja tidak. Kita tetap punya hak untuk itu, tetapi jagalah baik-baik agar jangan sampai kata-kata yang kita keluarkan hanya berisi hal yang sia-sia. Itu semua harus kita pertanggungjawabkan kelak pada hari penghakiman. Ketika Alkitab berkata jika kita memberi maka kita akan menerima lebih banyak, itu pun berlaku dalam hal memberi telinga kita untuk mendengar. Jika kita memberikan telinga kita untuk mendengarkan orang lain dengan keikhlasan, hati orang pun akan tertarik untuk mengenal jiwa kita lebih baik lagi.

Perhatikan baik-baik apa yang keluar dari mulut kita, hindari kutuk, ucapkan syukur dan berkat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply