Anjing Kesayangan

Boso 2“Lalu Yesus berkata kepadanya, ‘Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.’ Tetapi perempuan itu menjawab, ‘Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.’” (Mrk 7, 27-28) DI tengah-tengah kegiatan panitia Posko Bencana Banjarnegara, ada seorang anak yang bergabung dengan membawa anjing kesayangannya. Anjingnya kecil dan dibawa dalam satu kandang yang mungil. Saat dilepas dari kandangnya, anjing itu berlari-lari di aula, menjadi mainan anak-anak yang lain. Anjing kecil itu kadang ditangkap, dipeluk dan digendong. Sementara orang merasa ‘najis’ dengan anjing. Namun banyak orang menyukai dan memelihara anjing di rumah mereka. Anjing tidak hanya di taruh di kandang sepanjang hidup. Anjing pun sering dibiarkan masuk ke dalam rumah, tidur di sofa, diajak berjalan pagi, dibawa di dalam mobil, dimandikan atau disalonkan. Bahkan anjing pun sering dititipkan di ‘petshop’, selama majikannya bepergian. Banyak orang berani membayar mahal agar mendapatkan jenis ajing yang bagus dan juga biaya untuk makanan serta pemeliharaannya. Anjing tidak hanya sekedar dipelihara sebagai penjaga rumah. Banyak anjing dilatih untuk menangkap penjahat maupun dilatih berbagai ketrampilan lain. Bahkan ada stasiun televisi yang selalu menayangkan lomba lari dari anjing-anjing, yang jenis dan warnanya bermacam-macam. Anjing memang termasuk kelompok binatang. Namun demikian, anjing bisa menjadi contoh bagi manusia dalam menghayati kesetiaan dan pelayanan. Anjing begitu setia dan taat pada perintah majikannya. Anjing menjadi penjaga keamanan rumah yang setia. Keutamaan inilah yang mungkin juga dirasakan oleh seorang ibu dari Siro-Fenisia, yang datang kepada Yesus dan minta agar anaknya dibebaskan dari kuasa setan. Ibu itu tidak marah dan tidak mundur, sekalipun dirinya ‘disamakan’ dengan anjing. Ibu itu tetap setia dan teguh dengan permohonannya, sehingga anaknya pun bebas dari kuasa setan. Keselamatan menuntut kepercayaan, kesetiaan dan keteguhan sikap. Teman-teman selamat pagi dan selamat berkarya. Berkah Dalem. Kredit foto: Ilustrasi (Mathias Hariyadi)

Boso 2

“Lalu Yesus berkata kepadanya, ‘Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.’ Tetapi perempuan itu menjawab, ‘Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.’” (Mrk 7, 27-28)

DI tengah-tengah kegiatan panitia Posko Bencana Banjarnegara, ada seorang anak yang bergabung dengan membawa anjing kesayangannya. Anjingnya kecil dan dibawa dalam satu kandang yang mungil. Saat dilepas dari kandangnya, anjing itu berlari-lari di aula, menjadi mainan anak-anak yang lain. Anjing kecil itu kadang ditangkap, dipeluk dan digendong. Sementara orang merasa ‘najis’ dengan anjing.

Namun banyak orang menyukai dan memelihara anjing di rumah mereka. Anjing tidak hanya di taruh di kandang sepanjang hidup. Anjing pun sering dibiarkan masuk ke dalam rumah, tidur di sofa, diajak berjalan pagi, dibawa di dalam mobil, dimandikan atau disalonkan.

Bahkan anjing pun sering dititipkan di ‘petshop’, selama majikannya bepergian. Banyak orang berani membayar mahal agar mendapatkan jenis ajing yang bagus dan juga biaya untuk makanan serta pemeliharaannya. Anjing tidak hanya sekedar dipelihara sebagai penjaga rumah.

Banyak anjing dilatih untuk menangkap penjahat maupun dilatih berbagai ketrampilan lain. Bahkan ada stasiun televisi yang selalu menayangkan lomba lari dari anjing-anjing, yang jenis dan warnanya bermacam-macam. Anjing memang termasuk kelompok binatang. Namun demikian, anjing bisa menjadi contoh bagi manusia dalam menghayati kesetiaan dan pelayanan. Anjing begitu setia dan taat pada perintah majikannya.

Anjing menjadi penjaga keamanan rumah yang setia. Keutamaan inilah yang mungkin juga dirasakan oleh seorang ibu dari Siro-Fenisia, yang datang kepada Yesus dan minta agar anaknya dibebaskan dari kuasa setan. Ibu itu tidak marah dan tidak mundur, sekalipun dirinya ‘disamakan’ dengan anjing. Ibu itu tetap setia dan teguh dengan permohonannya, sehingga anaknya pun bebas dari kuasa setan. Keselamatan menuntut kepercayaan, kesetiaan dan keteguhan sikap.

Teman-teman selamat pagi dan selamat berkarya. Berkah Dalem.

Kredit foto: Ilustrasi (Mathias Hariyadi)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply