"Angkatan ini adalah angkatan yang jahat"

“Angkatan ini adalah angkatan yang jahat”
(Rm 1:1-7; Luk 11:29-32)

“Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!”(Luk 11:29-32), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•    “Tanda-tanda zaman”, begitulah judul bulanan dalam majalah Basis, yang ditulis oleh Pater Dick Hartoko SJ alm., ketika ia mengelola majalah bulanan tersebut. Dalam tulisan tersebut kurang lebih direfleksikan aneka macam peristiwa yang telah terjadi serta disimpulkan pelajaran tertentu dari berbagai peristiwa tersebut.  Memang dalam berbagai peristiwa ada tanda-tanda tertentu yang dapat menjadi pelajaran atau peringatan bagi kita, maka marilah kita belajar membaca tanda-tanda zaman, meningkatkan dan memperdalam kepekaan membaca tanda-tanda zaman. Salah satu cara adalah pemeriksaan batin atau mawas diri setiap hari (ingat: pemeriksaan batin merupakan bagian dari doa malam, doa harian!). Dalam pemeriksaan batin kita dididik untuk lebih mengenal dan memahami apa yang baik dan buruk, apa yang sebaiknya kita lakukan dan apa yang harus kita tinggalkan. Pemeriksaan batin merupakan doa, maka kita mawas diri bersama Tuhan, dalam terang rahmat Tuhan, sehingga kita mampu melihat lebih tajam apa yang telah dan sedang kita alami, dan tentu saja pertama-tama melihat dan kemudian mengimani karya Tuhan dalam diri kita yang lemah dan rapuh serta dalam seluruh ciptaan lainnnya di dunia ini. Ketika kita melihat karya Tuhan  yang maha segalanya, maka mau tidak mau kita akan dipengaruhi alias diperbaharui atau bertobat. Kebiasaan pemeriksaan batin atau mawas diri setiap hari dapat dikembangkan dalam kegiatan evaluasi bersama, entah di dalam keluarga, tempat kerja maupun masyarakat. Dalam evaluasi bersama pada umumnya perlu disertai dengan penelitian-penelitian, maka dengan ini kami berharap pada aneka usaha dan pemerintah untuk memberi perhatian perihal penelitian. Evaluasi berdasarkan buah-buah penelitian akan lebih berarti dan bermakna.
•    “Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya. Kamu juga termasuk di antara mereka, kamu yang telah dipanggil menjadi milik Kristus”(Rm 1:5-6), demikian sapaan Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus.  Kita, karena dan dalam pembaptisan, telah menjadi milik Kristus, dan dengan demikian juga dipanggil `untuk menuntun semua bangsa supaya mereka percaya dan taat kepada Tuhan’. Taat dan percaya kepada Tuhan pada masa kini hemat saya mengalami erosi, antara lain digerogoti atau diperlemah oleh aneka produk teknologi, misalnya HP (hand-phone). HP memang sarana fungsional serta efisien dalam hal komunikasi atau berrelasi, namun tanpa sadar ada sementara orang, kalau tidak boleh kita semua para pemilik dan pengguna HP, yang mabuk HP. Misalnya setiap jam menilpon saudaranya, isteri atau suaminya, anaknya yang sedang dalam perjalanan atau setiap hari menipon suami atau isterinya yang sedang tugas dinas luar kota cukup lama atau sedang mengkuti seminar, dst.. Hemat saya apa yang memotivasi untuk menilpon tersebut adalah kecurigaan atau kekurang-percayaan: jangan-jangan pasangannya atau anaknya menyeleweng/selingkuh.  Jika orang mudah curiga dan kurang percaya kepada saudara-saudarinya, hemat saya yang bersangkutan juga sulit untuk percaya kepada Tuhan, percaya pada Penyelenggaraan Ilahi. Jika kita sungguh percaya kepada Tuhan, maka kita juga percaya bahwa Tuhan senantiasa melindungi den merahmati saudara-saudari kita yang berada jauh dari kita atau sedang tidak bersama kita. Dengan kata lain hendaknya ketika dalam `perpisahan’ tersebut orang lebih menunjukkan diri sebagai milik Tuhan alias lebih banyak berdoa, mendoakan saudara-saudarinya daripada mengganggu dengan HP.

“Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus. TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa. Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!” (Mzm 98:1-4)

Jakarta, 12 Oktober 2009

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply