Ayat bacaan: Matius 20:26
=====================
“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu; dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu”

anak raja berhati hamba

Setiap membaca lowongan kerja di koran saya sering tersenyum sendiri. Betapa job requirement yang ada di Indonesia ini begitu mementingkan gelar ketimbang kemampuan. Untuk menjadi counter sales saja sudah banyak yang membutuhkan S1. Lalu kemana D3 atau mungkin lulusan SMA yang punya kemampuan yang karena satu dan lain hal tidak/belum bisa melanjutkan hingga meraih gelar sarjana? Dalam sebuah iklan lowongan pekerjaan saya pernah merasa bingung melihat permintaan mereka. Sarjana, usia maksimal 25 tahun, pengalaman minimal 3 tahun. Artinya yang mereka butuhkan adalah orang yang lulus kuliah di usia 22 tahun dan langsung bekerja. Serius atau tidak sih? Tapi memang seperti itulah gambaran lowongan pekerjaan yang ada sekarang. Kesimpulannya, apa yang dibutuhkan oleh perusahaan biasanya adalah orang yang berpendidikan cukup, punya pengalaman dan memiliki kemampuan.

Seandainya Yesus menulis iklan di koran, apa kira-kira yang akan Dia tulis? Sepertinya bukan gelar, tingkat pendidikan atu bukan juga pengalaman. Apa yang Dia akan minta adalah hati yang mau melayani, hati seorang hamba yang mau merendahkan diri sedemikian rupa untuk melayani orang lain, bahkan yang paling hina sekalipun. Mari kita lihat Matius 20:20-28. Pada suatu hari datanglah ibu dari anak-anak Zebedeus bersama kedua anaknya, yaitu Yakobus dan Yohanes, yang keduanya diberi Yesus julukan Boanerges atau anak-anak guruh. (Markus 3:17). Kedatangan sang ibu adalah demi memohon kepada Yesus agar kedua anaknya bisa beroleh kedudukan yang baik kelak di Kerajaan surga. Ini permintaan wajar dari seorang ibu yang sayang anak-anaknya. “Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” (Matius 20:21). Yesus lalu menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” (ay 22a). Yesus berbicara mengenai kesanggupan mereka untuk mengikuti Kristus dan untuk memikul salib, turut minum dari cawan penderitaan yang harus Dia minum. Ini sejalan dengan pesan Kristus bahwa siapapun yang mau mengikuti Kristus haruslah siap untuk menyangkal dirinya sendiri dan memikul salib. (Markus 8:34,Lukas 9:23). Sebab, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” (Matius 10:38). Yohanes dan Yakobus pun menjawab bahwa mereka sanggup. Lalu Yesus menegaskan bahwa perihal siapa yang duduk di kiri dan kanan Kristus itu bukanlah hakNya, tapi merupakan hak Tuhan sepenuhnya. (ay 23). Tapi jika ingin menjadi besar dan terkemuka, Yesus memberikan petunjuk penting. Yesus berkata, ketika pemerintah-pemerintah yang tidak mengenal Allah akan memerintah dengan tangan besi, menekan rakyatnya dengan keras karena mereka berkuasa, sebagai pengikut-pengikut Kristus tidaklah boleh demikian. “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” (ay 26-27). Yesus menegaskan bahwa untuk mencapai posisi yang baik, seseorang haruslah rela menjadi pelayan dan memiliki hati seorang hamba. Sebab, “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (ay 28).

Jika kita ingin besar dan terdepan di antara pengikut-pengikut Kristus, kita bukannya harus meninggikan diri kita dalam kekuasaan, tapi justru kita harus semakin merendahkan diri kita hingga menjadi seorang pelayan dan hamba. Petrus dikemudian hari mengingatkan kembali tentang hal ini, “Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya” (1 Petrus 5:6). The only way up is down. Ini prinsip Kerajaan Surga. Kita anak-anak Tuhan menyandang status sebagai anak Raja, Raja diatas segala raja. Tapi Kerajaan Surga tidaklah seperti kerajaan di dunia, dimana siapa mereka bisa berkuasa secara absolut sesuka hatinya karena punya kuasa untuk itu. Dalam Kerajaan surga justru kita diminta untuk memiliki kerendahan hati, mau melayani orang lain yang paling hina sekalipun dengan sebentuk hati seorang hamba. Maka saya senang menggambarkan diri kita sebagai anak Raja berhati hamba. Memiliki hati hamba dan kerendahan hati untuk melayani berarti pula bahwa kita harus melakukannya dengan penuh kasih, yang menjadi dasar kekristenan. Paulus mengingatkan hal ini: “Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!” (1 Korintus 16:14). Seperti apa bentuk kasih itu? “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.a menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” (1 Korintus 13:4-7). Inilah bentuk kerendahan hati yang harus dimiliki seorang hamba yang mengabdi kepada Tuhan.

Tidak ada syarat lain untuk mengabdi kepada Tuhan di KerajaanNya selain rela untuk menjadikan diri kita sebagai pelayan. It’s not about how high we rise, but it’s about how low we go down. Hanya orang dengan sikap seperti inilah yang akan mampu memuaskan Tuhan, Raja diatas segala raja. Sudahkah kita memiliki sikap anak Raja yang benar, yaitu sikap yang melayani dengan hati hamba?

Pelayan yang baik akan mementingkan kehendak tuannya bukan dirinya sendiri

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. Khotbah syukuran
  2. khotbah syukuran kematian
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.