Anak Kecil Pemilik Lima Roti dan Dua Ikan

Ayat bacaan: Yohanes 6:9====================”Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?”What can a child do in times of trouble? Kebanyakan orang tidak akan menganggap pent…

Ayat bacaan: Yohanes 6:9
====================
“Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?”

What can a child do in times of trouble? Kebanyakan orang tidak akan menganggap penting seorang anak ketika berhadapan dengan masalah. Anak bahkan sering dianggap pengganggu saat orang tuanya tengah pusing memikirkan masalah. Betapa seringnya kita mendengar orang tua yang berkata, “Ah, kamu anak kecil, tahu apa kamu?” Dengan didasari logika bahwa anak kecil memang pemahaman dan pengetahuannya masih sangat rendah, mereka ini pun sering disepelekan. Padahal ada kalanya pemikiran polos atau lugu dari anak kecil mampu menjadi jawaban yang tidak kunjung kita temui, minimal bisa menjadi pengingat atau masukan kalau-kalau pikiran kita sudah terlalu berkabut oleh ruwetnya tumpukan masalah. Ada seorang teman saya yang justru menemukan jalan keluar justru lewat pendapat anaknya yang ternyata membuka kembali cakrawala pemikirannya akan solusi yang sebenarnya sederhana tetapi tertutupi oleh kegelisahan dalam melihat besar masalah. Pendapat seorang anak yang bahkan belum berusia 10 tahun yang sangat polos mengingatkannya untuk kembali mempercayakan hidup dan segala liku-likunya kepada Tuhan, itulah yang kemudian menjadi sebuah keputusan tepat sehingga kesulitannya teratasi.

Kemarin kita sudah melihat bahwa Yesus sendiri meminta kita untuk belajar dari kepolosan anak kecil dalam berpikir dan memandang hidup seperti yang tertulis dalam Matius 18:1-11. Kalau kita tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil yang masih bersih, kita tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. (ay 3). Kalau kita tidak merendahkan diri seperti anak kecil, kita tidak akan pernah menjadi yang terbesar dalam Kerajaan Surga. (ay 4). Kalau kita mau menyambut anak-anak ini dalam namaNya, itu akan sama dengan menyambut Tuhan Yesus sendiri (ay 5). Kalau kita berani menyesatkan mereka, maka hukuman berat siap ditimpakan kepada kita (ay 6), dan jangan pernah memandang rendah mereka karena ada malaikat mereka yang selalu memandang wajah Bapa di Surga. (ay 10). Singkatnya, meski mereka masih kecil, selalu ada yang bisa kita pelajari terutama dari cara mereka yang sederhana dalam menjalani kehidupan, kepolosan mereka yang belum terkontaminasi oleh berbagai hal yang bisa menghambat pertumbuhan iman kita, dan pastinya kita harus tetap menghargai mereka, dan tidak merendahkannya.

Ada hal menarik yang terjadi pada saat Yesus melakukan mukjizat dengan menggandakan lima roti dan dua ikan untuk memberi makan sekumpulan orang dengan jumlah yang begitu besar. Dari mana datangnya roti dan ikan itu? Dalam Injil Markus memang tidak disebutkan dari mana asalnya, tetapi Injil Yohanes ternyata menuliskan dari mana ikan itu berasal, yaitu dari seorang anak kecil yang ada disana. Ayatnya berbunyi: “Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan.” (Yohanes 6:9).

Sebelum kita membahasnya lebih lanjut, mari kita lihat kronologi peristiwanya terlebih dahulu dari pengamatan Yohanes. Yesus menanyakan kepada Filipus bagaimana untuk memberi makanan untuk seluruh orang yang berkumpul mendengar pengajaran Yesus, dan para murid pun kebingungan. “Jawab Filipus kepada-Nya: “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” (ay 7). Filipus adalah satu dari murid Yesus yang hadir disana. Ia melihat kemustahilan untuk bisa memberi makan demikian banyak orang dengan uang yang mereka miliki sesuai dengan logika manusianya. Memberi makan ribuan orang sekaligus? Itu jelas masalah besar. Seorang murid lain bernama Andreas, saudara simon Petrus ternyata punya inisiatif lebih baik. Ketimbang bertumpu pada ketidakmungkinan, ia memilih untuk bergerak dulu melihat apa yang kira-kira ada di sekelilingnya. Ia pun menemukan seorang anak yang memiliki bekal lima roti dan dua ikan. Ia kembali kepada Yesus dan mengatakan hal itu. “Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?”. (ay 9). Andreas mencari dan melihat bahwa ada lima roti dan dua ikan yang dimiliki oleh seorang anak kecil. Tapi kemudian logikanya kembali menyeruak hadir. Ya, ada lima roti dan dua ikan, tapi mana mungkin itu cukup? Andreas menemukan sesuatu, tapi pesimis dengan apa yang ia dapatkan.

Bagaimana dengan reaksi anak kecil pemilik roti dan ikan sendiri? Tidak disebutkan apa jawaban si anak, tapi dari apa yang kita baca selanjutnya, kita tidak mendapati penolakan dari si anak. Tampaknya anak kecil itu dengan sukarela memberikan apa yang ia miliki. Lalu Yesus pun mengucap syukur atas roti dan ikan, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang. Luar biasa, jumlah bekal yang kecil itu cukup untuk mengenyangkan semua orang disana bahkan berlebih. Anak kecil itu tidak pernah kita ketahui namanya. Kita tidak tahu siapa dia. Tapi meski demikian, anak kecil ini dicatat dalam Alkitab yang masih bisa kita baca sampai hari ini. Ia bisa saja menolak. Ia mungkin saja bingung mau diapakan roti dan ikannya, dan apa sih yang bisa diperbuat dengan bekalnya yang sedikit itu. Tapi ia tetap memberikan bekalnya meski belum tahu apa yang akan terjadi setelah itu. Dan mukjizat pun terjadi.

Kita bisa belajar dari reaksi si anak. Jelas bahwa apa yang ia miliki secara kemampuan daya pikir kita tidak akan cukup untuk memberi makan 5000 orang lebih. Tapi ia tidak menolak sama sekali. Meski ketika Andreas menyatakan keraguannya akan jumlah yang sedikit itu, bocah tersebut tidak ikut-ikutan pesimis mendengar apa yang ia miliki disepelekan Andreas. Ia bisa saja berkata “ya sudah, kalau memang tidak cukup, saya makan sendiri saja.. biar bagaimana ini kan punya saya..” Anak kecil itu bisa menolak, apalagi ketika apa yang ia miliki tidak dihargai sepenuhnya oleh Andreas. Tapi bukan itu yang ia lakukan. Anak ini juga bisa saja berkata, “Yesus, jika Engkau memang benar Tuhan, kenapa tidak turunkan saja makanan dari langit? Kenapa harus mengambil bekalku?” Tapi bukan itu yang ia katakan. Apa yang ia lakukan adalah dengan sukarela, tanpa banyak tanya, tanpa protes apa-apa, memberikan seluruh bekalnya kepada Yesus. Apa yang ia miliki, meski hanya sedikit akhirnya bisa memberkati banyak orang secara luar biasa.

Yesus meminta kita untuk belajar dari anak kecil. Jangan pernah sepelekan mereka, tapi belajarlah dari iman mereka yang polos dan tulus, tanpa pretensi apa-apa, tanpa mengharapkan imbalan dan lainnya. Demikian firman Tuhan: “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga.” (Matius 18:10). Sikap iman seperti merekalah yang berkenan di hadapan Tuhan. Tuhan Yesus juga berkata “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” (Markus 10:15). Ini berbicara mengenai kepolosan dan ketulusan seorang anak kecil yang tidak dipengaruhi oleh keraguan, kecurigaan, ketidakpercayaan atau bentuk-bentuk pikiran lainnya. Disamping itu, kita pun melihat bahwa anak kecil itu tidak meminta penghargaan apapun atas pemberiannya. Ia bisa saja sombong bahwa semua mukjizat itu sebenarnya berawal dari miliknya, tapi ia pun tidak melakukan itu. Dia tidak berpikir untuk bermegah dan mencuri kemuliaan yang menjadi milik Tuhan. Maka mengenai sikap seperti ini kelak Yesus mengatakan “Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.” (Matius 18:4). Seperti itu pula hendaknya kita seharusnya dalam menyambut Kerajaan Allah. Kita harus menyelidiki dan memeriksa apa talenta kita yang telah dianugerahkan Tuhan, mengucap syukurlah atas itu. Seperti anak kecil pemilik lima roti dan dua ikan ini, kalau kita mau serahkan ke dalam tangan Tuhan dengan kepercayaan penuh, maka Tuhan pun mampu memakai itu semua untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besar.

Kita tidak perlu malu untuk belajar dari anak kecil. Ketika kita orang dewasa sudah terkontaminasi oleh berbagai hal yang bisa melemahkan iman kita, mari kembali kepada kepolosan anak-anak kecil yang belum terpengaruh oleh semua itu. Iman yang polos dan murni, iman yang tidak terguncang oleh apapun, iman yang percaya sepenuhnya tanpa keraguan dan pertanyaan, itulah yang diinginkan Tuhan untuk dimiliki anak-anakNya. Jangan sedikitpun meragukan kemampuan Tuhan, jangan sedikitpun merasa bahwa kita tidak cukup banyak dibekali Tuhan untuk sukses. Jangan belum apa-apa sudah merasa rendah diri bahwa apa yang kita miliki tidak bernilai atau berharga, tidak bermanfaat dan tidak akan cukup untuk bisa berbuat sesuatu. Ingatlah bahwa Tuhan bisa memakai apapun yang ada pada kita, meski bagi kita terlihat kecil menurut logika sekalipun, untuk melakukan karyaNya yang besar jika kita menyerahkan itu semua ke dalam tanganNya. Bagaimana iman kita, bagaimana kerelaan kita, bagaimana sikap kita dalam mempersembahkan milik kita, itulah yang menyenangkan hati Tuhan dan akan dipakaiNya secara luar biasa. Anak-anak yang masih polos bisa memandang hidup dengan cara yang jauh lebih sederhana dan menggantungkan hidupnya kepada Tuhan tanpa banyak tanya. Kita bisa belajar dari mereka untuk kembali memiliki iman yang tidak keruh, tetapi jernih agar bisa mengalami banyak mukjizat dari Tuhan.

Kepolosan iman anak kecil bisa menjadi contoh baik buat orang dewasa yang pikirannya sudah banyak terkontaminasi oleh masalah hidup

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply