Ayat bacaan: 1 Timotius 5:3
===================
“Tetapi jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah.”

Memiliki anak yang berbakti kepada orang tua menjadi harapan semua orang, tapi semakin lama semakin sulit menemukannya di dunia terlebih di jaman sekarang. Ada seorang ibu single parent yang berjuang membesarkan 8 orang anaknya sampai semuanya sukses, tapi saat ia sudah tua dan lumpuh, dari 8 anak tidak satupun yang peduli kepadanya lagi. Ia tinggal sendirian dan hanya mengandalkan bantuan tetangganya. Kemana anak-anaknya? Semua sibuk dengan dunianya masing-masing. Ini kasus yang sering kita dapati. Dengan alasan sibuk kerja, jijik mengurusi orang tua yang sudah tidak sanggup mengurus diri sendiri atau risih jika harus menenteng orang tuanya di tempat umum, mereka tega melupakan segala jasa orang tuanya dalam membesarkan sampai sukses. Jangankan mengasihi dan merawat, peduli saja susahnya minta ampun. Belum lama saya melihat seorang pria lanjut usia yang didorong dengan kursi roda oleh anaknya di sebuah mal. Wanita yang sudah dewasa ini tampaknya baru pulang dari kantor karena masih berpakaian resmi, tapi ia telaten mendorong kursi roda sambil bercerita dengan gembira kepada ayahnya. Tidak tampak respon berarti dari sang ayah yang duduk di kursi roda, tetapi ia terus saja bercerita di tengah keramaian. Pemandangan ini sudah sangat langka saya lihat di hari-hari belakangan ini. Ternyata di antara begitu banyak orang yang tidak mempedulikan orang tuanya, masih ada orang yang yang melakukan firman Tuhan secara baik dalam hal mengurus orang tuanya.

Firman Tuhan mengingatkan dengan tegas akan hal ini dalam banyak kesempatan. Salah satunya berbunyi sebagai berikut: “Tetapi jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah.” (1 Timotius 5:3). Dengan jelas dikatakan bahwa anak cuculah yang seharusnya menjadi orang pertama yang wajib memperhatikan nasib mereka, bukan tetangga, bukan rumah jompo, bukan perawat, bukan orang lain. Setiap anak dan cucu hendaklah belajar berbakti dan belajar membalas budi orang tua dan nenek atau kakek mereka. Disaat orang tua sudah tidak bisa lagi berbuat banyak karena usia mereka yang sudah lanjut, itulah saatnya bagi para anak dan cucu untuk berbakti membalas budi mereka yang dahulu mati-matian dalam membesarkan anak-anaknya dengan penuh cucuran keringat dan air mata. Sangatlah menyedihkan melihat orang-orang yang merasa malu atau risih untuk sekedar bertemu dengan orang tua mereka, apalagi mengurus dan merawatnya. Menjadi tua seolah seperti sebuah kutukan bagi kita, sehingga tidaklah heran apabila semakin lama semakin banyak orang yang takut menghadapi masa tuanya.

Firman Tuhan dengan jelas berkata bahwa anak dan cucu yang mau berbakti dan ingat untuk membalas budilah yang berkenan bagiNya. Tuhan tidak suka orang-orang yang tidak tahu membalas budi, bersikap habis manis sepah dibuang apalagi terhadap orang tua mereka sendiri, apapun alasannya. Di mata Tuhan itu sangatlah penting. Lihatlah satu dari 10 Perintah Allah yang turun lewat Musa berbunyi: “Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.” (Ulangan 5:16). Hormati, itu bukan hanya mengacu pada hubungan disaat keduanya masih segar bugar, tetapi terlebih saat menghadapi orang tua yang sudah sakit-sakitan atau lemah karena usia lanjut.

Ada sebuah contoh yang sangat baik lewat kisah Rut. Setelah suaminya meninggal, sebenarnya ia punya hak untuk meninggalkan Naomi mertuanya dan kembali kepada bangsanya sendiri. Bahkan Naomi pun sudah mengijinkannya untuk pulang kembali ke bangsanya. Tetapi Rut adalah menantu yang setia. “Tetapi kata Rut: “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku.” (Rut 1:16). Rut memilih ikut mertuanya masuk ke negeri dimana ia bisa menghadapi banyak masalah, karena disana bangsanya tidak dipandang sama sekali. Hidup Rut pun awalnya sangat sulit di negeri orang. Ia harus melakukan pekerjaan yang sangat rendah sebagai pemungut jelai. Itu adalah sebuah pekerjaan yang dilakukan dengan membuntuti orang-orang yang menyabit gandum dan memunguti sisa-sisa serpihan dari hasil sabitan mereka. Rut dengan rela melakukannya bukan saja buat menyambung hidupnya sendiri, tetapi ia melakukan itu untuk menunjukkan baktinya kepada mertuanya juga. “Maka ia memungut di ladang sampai petang; lalu ia mengirik yang dipungutnya itu, dan ada kira-kira seefa jelai banyaknya.Diangkatnyalah itu, lalu masuklah ia ke kota. Ketika mertuanya melihat apa yang dipungutnya itu, dan ketika dikeluarkannya dan diberikannya kepada mertuanya sisa yang ada setelah kenyang itu.” (2:17-18). Satu efa itu kira-kira 10 kg. Itu hasil jerih payahnya bekerja seharian, dan itu dibawanya kepada Naomi. Begitulah besarnya bakti yang ditunjukkan Rut, sehingga tidaklah heran apabila Tuhan berkenan kepadanya.

Ayah, ibu, nenek, kakek maupun mertua, mereka semua adalah orang tua kita yang harusnya kita kasihi dan peduli. Mereka berjuang dengan segala daya upaya untuk membesarkan dan menyekolahkan kita, membuat kita bisa seperti siapa kita hari ini. Jika kita sudah bekerja mapan saat ini, sudah sukses dan maju, semua itu tidaklah terlepas dari usaha orang tua kita juga. Sudahkah kita membalas budi mereka dan mengucapkan terimakasih kepada mereka? Sudahkah kita membalas budi dengan memberikan kebahagiaan di usia senja mereka? Jangan tunda lagi, nyatakanlah bahwa anda mengasihi mereka dan usahakanlah agar mereka bisa menikmati sisa hidup yang bahagia bersama anak cucunya. Dulu kita masih belum bisa apa-apa dan orang tua kitalah yang berjuang untuk masa depan kita, sekarang saatnya bagi kita untuk membalas jasa mereka dan membuat mereka bersyukur, bangga dan berbahagia di hari tua mereka karena memiliki anak cucu dan keluarga yang mengasihi mereka yang juga berkenan di hadapan Tuhan.

Tuhan berkenan kepada anak-anak yang berbakti dan tahu membalas budi orangtua

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.