Anak-anak di Mata Tuhan (2)

(sambungan)Selanjutnya kita bisa melihat bagaimana reaksi Tuhan ketika kita mengabaikan atau menyesatkan anak-anak kecil ini. “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah bat…

(sambungan)

Selanjutnya kita bisa melihat bagaimana reaksi Tuhan ketika kita mengabaikan atau menyesatkan anak-anak kecil ini. “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.” (ay 6). Jika sampai sebegitu keras, itu tandanya anak-anak memang mendapat posisi yang sangat istimewa bagi Tuhan.

Dalam Perjanjian Lama kita bisa menemukan ayat yang menyatakan bahwa selain penting bagi kita untuk mengindahkan ketetapan-ketetapanNya, adalah penting pula untuk mengajarkan anak-anak dalam pengenalan akan Tuhan secara berulang-ulang sampai semua itu meresap dan tinggal di dalam diri mereka. “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.” (Ulangan 6:6-9). Anak-anak kecil terkadang sulit untuk berkonsentrasi, dan mereka mudah merasa bosan atau jenuh. Oleh karena itu kita harus mampu terus berulang-ulang mengajarkan mereka dan mencari cara penyampaian yang menarik agar mereka bisa menangkap intinya dengan baik. Mengajarkan sambil bermain atau lewat permainan-permainan, lewat lagu-lagu, atau bahkan dongeng sebelum tidur alias bedtime story mungkin bisa dipakai sebagai metode penyampai yang baik buat anak-anak. Perhatikan bahwa diperlukan usaha yang serius dan kerelaan mengorbankan sebagian waktu untuk bisa melakukan ini, tapi itulah yang diinginkan Tuhan bagi para orang tua. Anak-anak merupakan titipanNya yang harus disyukuri dan dibangun dalam pengenalan yang baik akan Tuhan, bukan untuk dianggap sebagai pengganggu, direndahkan, disepelekan atau disingkirkan dari hidup. Itulah yang dilakukan oleh pahlawan, dan jika melakukan itu, itu artinya kita menyambut Kristus. Melakukan sebaliknya? Menolak anak-anak itu berarti menolak Kristus, dan itu dikatakan oleh Kristus sendiri.

Jika anda mengira bahwa ini hanyalah tugas para ibu saja, anda keliru. Para ayah pun punya peran yang tidak kalah pentingnya dalam hal ini. Benar bahwa ayah harus bekerja mencari nafkah, tetapi seorang ayah teladan haruslah mampu menyediakan waktu bagi keluarga terlebih bagi anak-anaknya. Hanya mencari nafkah tanpa memperhatikan kebutuhan rohani atau jiwa dari anak tidak akan pernah cukup bagi perkembangan dan kebahagiaan mereka. Saya bertemu dengan banyak orang yang kehilangan figur ayah dalam hidupnya, dan mereka tumbuh menjadi orang-orang yang terus kehilangan sesuatu dalam hidupnya. Ada banyak pula diantara mereka yang terjatuh dalam banyak masalah karenanya. Firman Tuhan pun sudah mengingatkan secara khusus buat para ayah. “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.” (Kolose 3:21). Menghukum berlebihan dengan kekerasan, tidak mempedulikan, tidak memberi sedikitpun waktu bagi anak, ini semua akan menyakiti hati mereka dan membuatnya tawar. Oleh karena itu meski kita sebagai kepala rumah tangga harus sibuk memenuhi kebutuhan materi keluarga dan anak-anak, kita pun harus memperhatikan pula untuk memberi perhatian, kasih sayang dan membagi sebagian dari waktu kita secara khusus bagi mereka.

Sudahkah anda bertindak sebagai pahlawan dan mengarahkan “anak-anak panah” anda dengan baik, ke arah yang baik pula? Tidak mudah untuk menjadi orang tua, tapi kita memang harus mensyukuri titipan yang diberikan Tuhan kepada kita dengan mengarahkan mereka untuk menjadi teladan-teladan yang baik di masyarakat ketika mereka dewasa nanti. Ketika ada banyak orang yang masih mendambakan hadirnya buah hati dalam keluarga mereka, peliharalah dengan baik jika anda sudah memiliki buah hati titipan Tuhan ini dalam hidup anda. Mereka sangatlah berharga di mata Tuhan, dan kita yang dititipkan harus bisa menghargai itu dengan melakukan segala yang baik di masa pertumbuhan mereka.

Anak merupakan titipan Tuhan yang harus dihargai, diasuh, diurus, dipelihara dan dididik dengan baik

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply