(sambungan)

Dalam Amsal dikatakan “Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran.” (Amsal 10:12). Kalau kebencian tidak membawa kebaikan apa-apa selain malah menambah masalah, sedang kasih justru mampu menutupi segala pelanggaran yang mungkin muncul, mana yang seharusnya kita pilih? Mengapa kita masih berpikir bahwa adalah wajar untuk membalas sakit hati dan mengira bahwa mengampuni dan mendoakan merupakan pilihan yang tidak tepat atau malah dianggap bodoh?

Yesus datang membawa pesan berisi sebuah paradigma baru yang pasti terdengar kontroversial pada masa itu, terutama bagi mereka yang mendalami hukum Taurat. Yesus memulainya dengan menyitir hukum Taurat mengenai mata ganti mata di atas. “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” (Matius 5:38-39). Itu sangat kontroversial bahkan sampai hari ini. Itupun merupakan reaksi yang sepertinya mustahil dilakukan ketika kita tengah dirugikan atau disakiti orang lain. Selanjutnya Yesus juga berkata : “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (ay 43-44). Sulit? Mungkin saja, tapi bukan tidak mungkin. Itulah tingkatan yang harus bisa kita capai, “karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga..” (ay 45).

Salah satu tugas Yesus turun ke dunia ini adalah untuk menggenapi hukum Taurat. “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Matius 5:17). Sebagai pengikutNya, kita diharuskan untuk menjalankan apa yang menjadi kehendak Tuhan persis seperti yang disampaikan oleh Yesus. Berhadapan dengan orang sulit? Orang yang menghujat, mengecam, menjelek-jelekkan kita, bahkan menyakiti kita? Hadapi bukan lagi dengan membalas, mendebat mereka kembali, bukan dengan membela diri kita dengan segala cara, melainkan dengan terus melakukan perbuatan baik dan mendoakan mereka. Lawan kebencian dengan kasih yang telah dianugerahkan Tuhan secara langsung dalam diri kita. Itulah yang menjadi kehendak Allah.

Kalau kita berkata sulit, Yesus bukan hanya mengharuskan kita menjalankannya tapi juga telah memberi teladan secara langsung pada masa-masa kedatanganNya hadir di dunia. Dalam perjalananNya di muka bumi ini bukan hanya sekali dua kali Yesus menghadapi kecaman oleh kalangan para petinggi agama di masa itu, tapi Dia tidak pernah membalas dengan perlawanan kembali. Sebagai gantinya, Kisah Para Rasul 10:38 memberikan kesaksian indah mengenai apa yang diperbuat Yesus menghadapi itu semua. “..tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.”

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.