Friday, 28 November 2014

Aman dalam Lindungan Allah

Ayat bacaan: Mazmur 91:7,10
==================
“Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu…malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu”

aman dalam lindungan TuhanBegitu takutnya salah seorang sepupu saya akan penyakit-penyakit menular sehingga ketika anaknya masih bayi ia memilih untuk mengurung anaknya di dalam kamar terus menerus. Ia tidak mengijinkan siapapun untuk menggendong anaknya, bahkan untuk melihat saja harus dari luar pintu kamar. Itu berlangsung hingga usia anaknya menginjak dua tahun. “Ada banyak virus dan kuman menular di luar..” katanya. Ini sebuah bentuk ketakutan yang berlebihan, karena tentu tidak sehat apabila anak bayi hanya dikurung di dalam kamar dan tidak mendapat rotasi udara cukup atau sinar matahari yang akan bagus untuk pertumbuhan tulangnya. Tapi keputusan berlebihan itu sedikit banyak memang punya alasan. Jika saya berjalan di pasar-pasar tradisional atau pusat perbelanjaan, maka saya akan bertemu dengan beberapa orang yang menggunakan masker seperti yang digunakan oleh dokter yang hendak melakukan operasi. Betapa banyaknya kuman penyakit yang bisa menular dengan mudah lewat udara, dan di tempat-tempat ramai kita akan rentan tertular. Kita bersinggungan atau berpapasan dengan begitu banyak orang yang tidak kita kenal. Kita tidak tahu apakah mereka sehat atau sakit, kalaupun sakit apakah sakit flu biasa atau penyakit-penyakit menular yang sulit disembuhkan seperti flu burung misalnya. Pada suatu kali ada seorang pemain bass dari luar yang memilih untuk memakai masker ketika berada di hall di mana ia bermain. Ia membuka maskernya di saat bermain, tetapi kemudian ia memakainya lagi sambil berjalan hilir mudik kesana kemari. Melihat virus-virus yang semakin lama sepertinya semakin bermutasi menjadi lebih berbahaya, kita bisa mengerti alasan-alasan mulai dari yang wajar hingga yang terlihat berlebihan itu. Dan saya belum berbicara mengenai berbagai situasi buruk lainnya di sekitar kita seperti bencana alam, tingkat kejahatan yang semakin meningkat mulai dari pencurian, perampokan, copet, penipuan sampai pembunuhan. Coba pikirkan, jika kita tidak memiliki jaminan apapun dalam menjalani hidup ini, tidakkah itu akan sangat mengerikan? Kalau demikian, adakah janji Tuhan akan hal ini? Jawabannya ada.

Mari kita lihat kitab Mazmur 91. Disana terdapat serangkaian ayat dalam perikop yang berjudul “Dalam lindungan Allah”. Baca dan renungkan baik-baik ayat berikut: “Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu… malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu.” (Mazmur 91:7,10). Tidakkah janji ini luar biasa? Ini janji yang sangat besar dan sangat melegakan untuk kita imani terlebih ketika kita hidup di tengah jaman yang penuh dengan bahaya dan terasa begitu menakutkan. Firman Tuhan berkata: “Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk.” (ay 3). Lalu Tuhan berjanji akan meletakkan kita dalam perlindunganNya, dibalik kepak sayapNya, memasang benteng yang tebal yang tidak akan bisa ditembus malapetaka. “Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok.”  (ay 4). Dengan berada di bawah kepak sayap dan dibentengi perisai, “Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang, terhadap penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap, terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu petang.” (ay 5-6). Seribu rebah di kiri, sepuluh ribu di kanan, tapi tidak ada satupun yang menimpa kita, karena Tuhan akan melindungi kita di bawah kepak sayapnya. Itu kata Tuhan. He will deliver us from the deadly pestilence, therefore we shall not be afraid. Not from the deadly viruses, not from the terror, not from the evil plots and slanders of the wicked, not from anything. Itu janji perlindungan Tuhan bagi kita. Kita harus mengakui betapa butuhnya kita akan janji Tuhan ini, mengingat bahwa hari-hari ini adalah jahat dan dipenuhi banyak kesulitan. Pada saat janji Tuhan itu ditulis, rasa-rasanya belum ada teknologi yang memungkinkan untuk bisa memusnahkan seribu dan sepuluh ribu orang sekaligus. Tapi pada jaman sekarang, hal itu menjadi mungkin dengan adanya bom nuklir dan berbagai senjata pemusnah masal lainnya, termasuk pula berbagai wabah penyakit menular yang mematikan. Jika janji itu sudah diberikan jauh sebelumnya, maka hari ini pesan itu terasa semakin relevan.

Kalau begitu, adakah syarat agar kita bisa menerima janji Tuhan ini? Tentu saja ada. Awal dari serangkaian janji luar biasa dalam Mazmur 91 justru menyatakan syaratnya terlebih dahulu. “Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.” (ay 1-2). Perhatikan benar, hanya orang-orang yang duduk dalam lindungan Tuhan, yang selalu hidup di dalam Tuhan-lah yang akan menerima janji Tuhan ini. Kita perlu melakukan hal itu lalu selanjutnya memegang janji Tuhan akan perlindungannya seperti yang disebutkan dalam rangkaian ayat di atas. Percayalah Tuhan akan dengan senang hati menjadi tempat perlindungan kita, menjadi tempat kita menetap dan berakar (dwell). (Mazmur 91:9). Tuhan mau menjadi Nama pertama yang akan kita panggil dan andalkan ketika kesukaran mulai menimpa kita, bukan sebaliknya menjadi alternatif terakhir atau hanya sebatas coba-coba saja. Dalam Alkitab disebutkan: “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” (Yeremia 17:7). Tuhan ingin kita menyadari bahwa Dia sanggup melakukan segala sesuatu, mengetahui bahwa tidak ada satupun rencanaNya yang gagal. (Ayub 42:2). Dia mau kita Tuhan menghendaki kita untuk menjadikanNya sebagai Pribadi yang bisa dipercaya sepenuhnya dan diharapkan untuk mengamankan hidup kita. Dan ketika kita melakukan itu semua, kita akan memperoleh pengertian mendasar bahwa Dia adalah Allah yang tidak pernah mengecewakan. Kesimpulan itulah yang diperoleh Pemazmur yang menuliskan: “Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku.” (Mazmur 62:6), “Sebab mataku tertuju pada kasih setia-Mu, dan aku hidup dalam kebenaran-Mu.” (26:3).

Tuhan mampu menangani semua bahaya yang mengelilingi kita. Anda tidak bisa membentengi penyakit dan memperoleh jaminan keselamatan seratus persen dengan segala pengaruh dan kemampuan duniawi anda. Itu tidak akan pernah bisa anda peroleh. Wabah penyakit akan terus ada, virus terus bermutasi, kejahatan pun akan tetap ada selama kita masih berjalan di bumi ini. Tetapi Tuhan menjanjikan perlindunganNya. Tidak akan ada satupun wabah, kejahatan atau masalah lainnya yang sanggup menembus kepak sayap Tuhan, bentengNya, perisai perlindunganNya. Tentu kita tidak boleh lengah dan tetap harus waspada, tetapi janganlah itu membuat kita ketakutan hingga melakukan berbagai tindakan ekstrim yang hanya akan mempersulit diri kita sendiri dan orang lain di sekitar kita. Kita tetap harus hati-hati dan menjaga kesehatan baik-baik, tetapi kita tidak perlu terus diperbudak rasa takut sehingga gemetar menjalani hari demi hari. Tenanglah dan percayalah kepada Tuhan dan kasih setiaNya. Berjalan bersama Tuhan akan membuat anda aman dari mara bahaya apapun. Hiduplah bersama Tuhan, ijinkan Dia memerintah dalam hidup anda, hiduplah sesuai kebenaran firmanNya dan seturut kehendakNya, maka Tuhan akan hadir tepat di tempat anda, merentangkan sayapNya dan membentengi anda dari segala bentuk bahaya yang ada. Lakukanlah tepat seperti apa yang Dia inginkan, pada suatu ketika nanti anda akan mengakui bahwa tidak ada pribadi lain yang mampu membebaskan dan menyelamatkan seperti Dia.

Tenanglah berjalan dalam lindungan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

0saves


If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Related Posts to "Aman dalam Lindungan Allah"

Response on "Aman dalam Lindungan Allah"