Almarhum Romo Sumarya SJ: Jangan Pernah Takut Mati

BAGI Romo Sumarya SJ, kematian  bersama Yesus adalah suatu kerinduan. Baginya, kematian bukan sesuatu yang menakutkan tetapi suatu harapan iman. Maka dalam hidupnya beliau tidak pernah takut akan apa yang namanya kematian itu.

“Wong urip kok wedi mati….” katanya berkali-kali dalam berbagai kesempatan.

Mengenang Almarhum Romo Sumarya SJ berarti kita belajar pada pribadi yang bertekun dan siap mati untuk Kristus. Almarhum  Romo Sumarya SJ adalah juga sebuah pribadi penuh kerendahan hati. Ini  terungkap bukan hanya lewat kata tetapi terlebih lewat tindakan nyata.

Minta maaf

Beliau bukan hanya mengajarkan  kata maaf tetapi lebih dari itu melakukan perbuatan kasih dengan memberi maaf. Itulah kebapakan pribadi beliau kepada ratusan ‘anaknya’: para  seminaris.

Berani memaafkan termasuk berani minta maaf  pada sesama (seminaris) wujud keutamaan hidupnya. Meskipun beliau seorang  imam dan juga Rektor Seminari, namun dia  tetap menyadari diri sebagai pribadi lemah dan berdosa. 

Minta maaf atas dosa kelemahan ini disadari di hadapan seminari. Maka salah satu doa kegemarannya sebagai Rektor Seminari adalah: “Tuhan, tolonglah dan ampunilah aku sebab aku orang berdosa.”.

Intisari in memoriam mengenang almarhum Romo Sumarya SJ itu disampaikan oleh Direktur/Kepala Sekolah Seminari Mertoyudan oleh Romo TB Gandhi Hartono SJ pada kesempatan misa requiem di Gereja Paroki St. Stanislaus, Girisonta, Selasa, 29 Oktober 2013 lalu.

pemakaman romo sumarya t6

Refleksi tentang kematian

Romo Gandhi menyampaikan sharingnya, bahwa entah kebetulan atau tidak, renungan dua pekan terakhir Romo Sumarya SJ selalu berkisah  tentang hari kematian. Beliau sudah menyadari bahwa akhir hidupnya sudah dekat.  Seluruh perjuangannya sebagai pribadi, imam dan Jesuit sudah dicermati tidak lama lagi. Apa yang sudah, sedang dan akan diperjuangkan selama hidupnya  akan dipersembahkan kepada Tuhan yang diikutinya.

Romo Marya mengikuti lomba lari marathon ketika usianya genap 61 tahun.. Sebenarnya, ini umur yang relatif terlalu tua untuk lari jarak  jauh. Apa yang dilakukan ini ingin menunjukkan bahwa kehidupan harus selalu diperjuangkan (tidak mandeg/diam), kehidupan harus berjalan bahkan kalau perlu harus lari untuk mencapainya.

Maka sampai detik-detik terakhir hidup didunia beliau tidak diam namun tetap bergerak, lari dan bahkan mengejarnya sampai akhir (meski belum berakhir). Karena saat akhir kehidupannya bukan ada pada finish marathon di Monas, melainkan  garis akhir bersama Allah.

Pitutur alm. Romo Sumarya SJ

Romo Gandhi juga menyampaikan, di kamar pojok samping Kapel Seminari, pada tgl 18 Juni 2011 pukul 3.03, almarhum Romo Sumarya SJ juga pernah merefleksikan perjuangan sebagai formator dan pastur.

IMG-20131027-WA002Catatannya berbunyi demikian:

Wiwit aku dadi pastur

Prasetya dadi batur

Kudu ngaturké pitutur

Ngudi dalan sing luhur

Suba-sita kudu diatur,

Ora bisa diawur

Mulo aku wajib akur

Munjuk Hyang Mahaluhur

 

Terjemahan bebasnya:

Kehidupan harus didasari dengan iman dan pelayanan untuk kerja keras,

Kehidupan imam harus didasari untuk selalu  melayani (siap menjadi batur),

Kehidupan harus diatur untuk mengejar yang luhur.

Kehidupan tidak bisa diawur (asal jalan)

Namun perlu diatur (direncanakan)

agar sampai pada Yang Mahaluhur (pemberi kebahagiaan).

 

IMG-20131028-WA000Kata Romo Gandhi SJ, karena bagi almarhum Romo Sumarya SJ,  kebahagian itu tidak diberikan gratis dan otomatis oleh Tuhan namun diberikan bagi siapa pun yang mau bergerak, bekerja, serta mau memperjuangkannya tanpa menyerah dan putus asa.

Kematian Romo Sumarya SJ bagi kita mungkin menggagetkan, tapi bagi beliau tidak, karena beliau sudah mempersiapkan dengan rapi.

Beliau ingin mati dalam kesetiaan menjadi Imam dan Jesuit sejati.

Itulah dambaan hidupnya.

Maka sampai akhir hayatnya beliau tetap lari meski akhirnya mati. Baginya mati bukan untuk mengejar banda dunya tetapi untuk banda Seminari (cari dana) agar para seminaris yang beliau layani semakin caket lan rumaket ing Gusti.

Seperti bagian akhir dari refleksinya dengan  sedikit tambahan dari Romo Gandhi  sebagai berikut:

 

Gusti Yesus animbali

Ing patengahing lari

Raga banda sing tak udi

Kanggo urip Seminari

Para sedulur rino wengi

Tan kendhat angancani

Mulo aku wajib bekti

Pasrah diri Njeng Gusti

Menuju garis finish

Romo Ignatius Sumarya SJ, Rektor dan sahabat kami…

Meski engkau belum menyelesaikan lari marathonmu, namun Tuhan lebih dahulu menyelesaikannya. Engkau telah menerima hadiah sebagai pelari suci bersama Gusti.IMG-20131027-WA003

Doakan kami semua yang masih harus mengejar perjalanan hidup, kuatkanlah agar kami dapat melanjutkan tongkat estafet larimu di dunia yang penuh misteri ini.

Seperti kata-katamu dalam setiap homili istilah ‘mencermati’, kami yakin engkau tetap akan setia mencermati hidup dan panggilan kami.

Bapa di Surga terimalah hambamu Romo  Ignatius Sumarya SJ, dan jadikanlah pendoa bagi kami semua yang berdosa ini.

Selamat jalan Romo Rektor…. Sugeng tindak  dan jangan lupa dalam berlari bersama Gusti doa-doamu jangan meninggalkan kami. 

 

Photo credit: Antonius Yudo Prihartono dan Sesawi

Tautan:

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: