Alm. Sr. Fransica Hariyanti SPM: Bagian Sejarah 25 Tahun Karya SPM di Kalimantan

Sr Fransiska (kiri) Memasak Bersama Sr Petra SPM (kanan)“KALAU dengan Sr. Petra, saya merasa sebagai saudara dalam biara,” tutur Sr. Fransisca. Mengenai kehidupan berkomunitas di Pelaihari, Sr. Fransisca berkisah bahwa sesama suster saling peka satu sama lain, terutama dalam melaksanakan tugas sehari-hari. “Jadi dalam bekerja maupun berdoa kami selalu bersama-sama.” ucapnya gembira. Sebagai pimpinan komunitas, Sr. Petra memiliki sifat keibuan dan mau mengerti suster yang lain. Sehingga bila ada kesulitan Sr. Petra selalu siap membantu. Menurut penuturan Sr. Xaveria, SPM (rekan sekomunitas Sr. Fransisca), dalam perjuangannya selama ini Sr. Petra telah menghasilkan banyak orang sekaligus telah banyak menolong orang (terutama mereka yang sangat memerlukan pertolongan). Tak terasa, waktu berjalan, tahun demi tahun terlewati. Dan pada hari Sabtu, tanggal 4 Juli 2009, suster-suster SPM di Kalimantan merayakan 25 tahun karyanya dan alm. Sr. Fransisca menjadi bagian dari kebahagiaan itu. Ibu asrama yang sederhana “Saya sempat mendampingi Sr. Fransisca di Rumah Sakit RKZ selama sekitar seminggu,” tutur Sr. M. Xaveria kepada penulis ketika diwawancarai via telepon (10/02/2015). Sr. Xaveria mengaku kagum dengan kepribadian Sr. Fransisca. “Sr. Fransisca mengisi seluruh hidupnya dengan penuh perjuangan. Segala hal yang baik selalu diusahakannya. Sr. Fransisca juga senantiasa menjaga relasi dengan banyak orang. Menurut Sr. Xaveria, alm. Sr. Fransisca adalah pribadi yang sederhana, sering mengalah, cinta damai. “Dalam karyanya mendampingi anak-anak asrama (di Pelaihari-red), Sr. Fransisca jarang mengeluh. Bila ada masalah, selalu mengajak suster-suster yang lain berdiskusi untuk menemukan jalan keluarnya.” Dalam beberapa kesempatan, alm. Sr. Fransisca pernah berujar demikian kepada Sr. Xaveria, “Saya pribadi merasa terbantu oleh para suster sekomunitas. Kalau kamu mempunyai potensi, kembangkanlah potensi itu!” Setelah 12 tahun lamanya alm. Sr. Fransisca berkarya di Pelaihari (sejak 1997), pada pertengahan 2009 Sr. Fransisca dipindahtugaskan ke Pulau Jawa. Panggilan yang indah Sr. Fransisca memasuki gerbang Postulat SPM saat beliau berusia 34 tahun setelah diteguhkan oleh Sr. Alfonsa, SPM (alm) yang berkata, “Tuhan memanggil itu tidak melihat umur, tidak melihat pandai, dan tidak melihat dosa, tetapi melihat Siska apa adanya.” Selama menjalani kehidupan di biara, alm. Sr. Fransisca mengalami kebahagiaan, berkembang dalam hidup rohani maupun jasmani, diteguhkan, serta semakin dekat dengan Tuhan. Sr. Fransisca pernah bertugas sebagai kepala TK, pimpinan asrama, tata laksana rumah tangga, dan sosial pastoral. Semasa berkarya di sekolah, Sr. Fransisca sangat perhatian kepada anak-anak dan bertanggung jawab dalam hal kebersihan, serta mempersatukan para guru. Selain itu, suster kelahiran Klaten ini juga memiliki perhatian besar terhadap orang-orang kecil. Menurut catatan kronik SPM Provinsi Indonesia, Sr. Fransisca pernah berkarya di beberapa komunitas SPM: Situbondo, Telomoyo-Malang, Surabaya, Kepanjen-Malang Selatan, Banyuwangi, Pelaihari-Kalimantan Selatan, dan terakhir di Jombang. Apa yang sudah dibaktikan oleh alm. Sr. Fransisca tentu telah seturut teladan Ibu Rohani para suster SPM – Santa Julie Billiart, yang selalu menitikberatkan pada pembinaan rohani, terutama bagi orang-orang yang tempat tinggalnya jauh dan terlantar, juga bagi mereka yang jauh dari Gereja.

Sr Fransiska (kiri) Memasak Bersama Sr Petra SPM (kanan)

KALAU dengan Sr. Petra, saya merasa sebagai saudara dalam biara,” tutur Sr. Fransisca. Mengenai kehidupan berkomunitas di Pelaihari, Sr. Fransisca berkisah bahwa sesama suster saling peka satu sama lain, terutama dalam melaksanakan tugas sehari-hari. “Jadi dalam bekerja maupun berdoa kami selalu bersama-sama.” ucapnya gembira.

Sebagai pimpinan komunitas, Sr. Petra memiliki sifat keibuan dan mau mengerti suster yang lain. Sehingga bila ada kesulitan Sr. Petra selalu siap membantu.

Menurut penuturan Sr. Xaveria, SPM (rekan sekomunitas Sr. Fransisca), dalam perjuangannya selama ini Sr. Petra telah menghasilkan banyak orang sekaligus telah banyak menolong orang (terutama mereka yang sangat memerlukan pertolongan).

Tak terasa, waktu berjalan, tahun demi tahun terlewati. Dan pada hari Sabtu, tanggal 4 Juli 2009, suster-suster SPM di Kalimantan merayakan 25 tahun karyanya dan alm. Sr. Fransisca menjadi bagian dari kebahagiaan itu.

Ibu asrama yang sederhana

“Saya sempat mendampingi Sr. Fransisca di Rumah Sakit RKZ selama sekitar seminggu,” tutur Sr. M. Xaveria kepada penulis ketika diwawancarai via telepon (10/02/2015). Sr. Xaveria mengaku kagum dengan kepribadian Sr. Fransisca. “Sr. Fransisca mengisi seluruh hidupnya dengan penuh perjuangan. Segala hal yang baik selalu diusahakannya. Sr. Fransisca juga senantiasa menjaga relasi dengan banyak orang.

Menurut Sr. Xaveria, alm. Sr. Fransisca adalah pribadi yang sederhana, sering mengalah, cinta damai. “Dalam karyanya mendampingi anak-anak asrama (di Pelaihari-red), Sr. Fransisca jarang mengeluh. Bila ada masalah, selalu mengajak suster-suster yang lain berdiskusi untuk menemukan jalan keluarnya.”

Dalam beberapa kesempatan, alm. Sr. Fransisca pernah berujar demikian kepada Sr. Xaveria, “Saya pribadi merasa terbantu oleh para suster sekomunitas. Kalau kamu mempunyai potensi, kembangkanlah potensi itu!”

Setelah 12 tahun lamanya alm. Sr. Fransisca berkarya di Pelaihari (sejak 1997), pada pertengahan 2009 Sr. Fransisca dipindahtugaskan ke Pulau Jawa.

Susteran SPM Komunitas Pelaihari

Panggilan yang indah

Sr. Fransisca memasuki gerbang Postulat SPM saat beliau berusia 34 tahun setelah diteguhkan oleh Sr. Alfonsa, SPM (alm) yang berkata, “Tuhan memanggil itu tidak melihat umur, tidak melihat pandai, dan tidak melihat dosa, tetapi melihat Siska apa adanya.”

Selama menjalani kehidupan di biara, alm. Sr. Fransisca mengalami kebahagiaan, berkembang dalam hidup rohani maupun jasmani, diteguhkan, serta semakin dekat dengan Tuhan.

Sr. Fransisca pernah bertugas sebagai kepala TK, pimpinan asrama, tata laksana rumah tangga, dan sosial pastoral. Semasa berkarya di sekolah, Sr. Fransisca sangat perhatian kepada anak-anak dan bertanggung jawab dalam hal kebersihan, serta mempersatukan para guru. Selain itu, suster kelahiran Klaten ini juga memiliki perhatian besar terhadap orang-orang kecil.

Menurut catatan kronik SPM Provinsi Indonesia, Sr. Fransisca pernah berkarya di beberapa komunitas SPM: Situbondo, Telomoyo-Malang, Surabaya, Kepanjen-Malang Selatan, Banyuwangi, Pelaihari-Kalimantan Selatan, dan terakhir di Jombang.

Apa yang sudah dibaktikan oleh alm. Sr. Fransisca tentu telah seturut teladan Ibu Rohani para suster SPM – Santa Julie Billiart, yang selalu menitikberatkan pada pembinaan rohani, terutama bagi orang-orang yang tempat tinggalnya jauh dan terlantar, juga bagi mereka yang jauh dari Gereja.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply