All’s Well That Ends Well

Ayat bacaan: 2 Timotius 4:7
=====================
“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”

all's well that ends well,sengsara, tahan uji, serupa dengan Kristus, mahkota kehidupan

Sudah tiga hari koneksi internet macet baik di rumah maupun di kampus tempat saya mengajar. Mungkin karena providernya sama, masalah yang sama pun menimpa kedua tempat dimana saya selalu bekerja. Karena koneksi ngadat, urusan mengelola situs jazz yang seharusnya selesai dalam waktu 10 menit menjadi 10 jam. Itu baru untuk satu postingan. Sementara bahan yang harus di post bukan cuma satu. Saya sempat kelabakan dan merasa kesal dengan situasi ini. Namun puji Tuhan, ternyata Dia tanggap dengan kondisi saya. Tadi sore di tengah kesulitan yang saya alami, saya diingatkanNya untuk tetap memelihara iman. Maksudnya, saya tidak boleh kecewa dan kesal berlarut-larut. Memiliki iman yang teguh akan Kristus tentu mendatangkan kasih dan sukacita ke dalam hati kita dalam kondisi apapun. Iman akan membuat kita tidak akan berpanjang-panjang dengan keluh kesah. Masalah boleh datang, kesulitan boleh bertambah. Repot? Sudah barang tentu. But it’s okay. Karena dalam kerepotan itu ternyata ada banyak pelajaran yang saya dapatkan. Ketika saya mendapat kesulitan untuk mengakses fitur-fitur bantuan di situs saya, ternyata saya mendapatkan “ilmu baru” bagaimana mengakali itu dengan melakukan update secara manual. Jika koneksi tidak rusak, rasanya saya tidak akan mendapatkan ilmu baru ini. Karena itulah, tadi sore jika ada orang yang melihat saya, tentu ia akan merasa aneh dan lucu. Di tengah kesulitan yang timbul dalam bekerja, bukannya emosi atau bersungut-sungut, tapi sebaliknya saya malah senyum, bernyanyi-nyanyi kecil dengan bersemangat. Terima kasih Tuhan yang telah melimpahkan sukacita kembali ke dalam hati saya, meski tengah mengalami kesulitan. Memang waktu kerja saya menjadi jauh lebih lama, tapi ada ilmu yang saya dapat, dan saya berhasil mengalahkan rasa kesal dengan sukacita dahsyat dari Tuhan. Dengan sukacita itu pula, saya malam ini bersyukur karena akhirnya koneksi kembali normal. Setidaknya saat ini, setelah tiga hari bermasalah. All’s well that ends well.

All’s well that ends well, itu yang saya dengar di dalam hati saya malam ini setelah koneksi kembali normal. Ternyata ini adalah ungkapan bijak yang pernah dijadikan judul sebuah sandiwara teater oleh Shakespeare di awal tahun 1600 an. Kata bijak ini menggambarkan bahwa tidak masalah jika kita mengalami persoalan jika hasil akhirnya baik. Problems do not matter so long as the outcome is good. As long as we have the happy ending. Ini konsep Tuhan pula dalam hidup anak-anakNya yang tetap bertekun dan tidak hilang pengharapan ketika badai menerpa.

Apa yang dialami Yusuf (kitab Kejadian pasal 43-45) atau Ayub (dalam kitab Ayub) adalah contoh bagaimana badai penderitaan bisa menerpa bertubi-tubi, bahkan bisa menimpa hidup orang-orang yang dekat dengan Tuhan. But in the end, everything ended up well, for the Lord is good. Sebab Tuhan itu baik. (Mazmur 100:5). Apa yang dijanjikan Tuhan adalah segala sesuatu yang indah pada waktunya. (Pengkotbah 3:11). Mungkin kita tidak mempunyai cukup kemampuan untuk mengerti “masterplan” Tuhan tentang diri kita secara utuh, namun percayalah jika kita terus bertekun dan tegar dalam menghadapi masalah, segala sesuatu akan indah pada waktunya. Ada kalanya kita didera persoalan, mungkin bertubi-tubi, tapi di balik itu semua akan ada banyak hal yang bisa kita jadikan bahan pelajaran, bahkan mampu membuat kita menjadi lebih kuat dan tahan uji. Itulah hal yang juga dijelaskan Paulus kepada jemaat Roma. “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” (Roma 5:3-4). Itu sebabnya mengapa kita dianjurkan, dan bisa, untuk terus bersyukur dan bersukacita ketika sedang masuk ke dalam fase hidup yang sedang diamuk gelombang pasang dan angin kencang. Ada banyak orang yang mengira bahwa ketika masalah menerpa hidup mereka, maka itulah akhir dari segala-galanya. Ada yang menyerah, ada yang mengambil jalan pintas, ada juga yang memilih untuk mengakhiri hidupnya. Nanti dulu! Itu bukanlah akhir dari segalanya. Apa yang menjadi tujuan akhir kita adalah menjadi sama dengan Kristus dan terus memelihara iman hingga mencapai garis akhir, dimana kita akan dihadiahi mahkota kehidupan dan diganjar kehidupan kekal bersama dengan Bapa di Surga. Menjadi sama dengan Kristus, seperti yang dikatakan Paulus dalam kitab Roma. “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” (Roma 8:29). Dan menjaga iman sampai akhir, itu ia tuliskan dalam suratnya untuk Timotius. “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” (2 Timotius 4:7-8).

Mengacu kepada kisah Yusuf yang hampir dibunuh saudara-saudaranya dan dijual sebagai budak, “all’s well that ends well” berlaku. Ketika kemudian bertemu kembali dengan saudaranya, Yusuf tidak mendendam. Ia bahkan mengampuni dan menyelamatkan mereka. Ketika saudara-saudaranya ketakutan melihat Yusuf, ia pun berkata “Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.” (Kejadian 45:5). Lihatlah Yusuf mampu memandang dari perspektif pandang Bapa. Yusuf menyadari bahwa meskipun saudara-saudaranya begitu tega memperlakukannya dengan kejam, tapi ia tahu pasti bahwa ada Tuhan yang sedang dan terus bekerja dalam hidupnya untuk mendatangkan sesuatu yang indah. Dan memang itu yang terjadi. All’s well that ends well. Itu adalah hasil yang dicapai Yusuf, yang lulus ujian dengan nilai sangat memuaskan. Jika Yusuf sanggup, mengapa kita tidak? Ingatlah bahwa segala permasalahan bukanlah akhir dari segala-galanya. Masalah boleh timbul, tapi kita harus terus bertekun dalam menghadapi ujian. Dalam kondisi appaun, kita harus terus berupaya untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus, dan pada akhirnya kita akan dihadiahi mahkota kehidupan, diangkat untuk berada bersama-sama dengan Bapa di Surga, dan pada saat itulah semua akan berakhir dengan indah. Tetaplah bersyukur dan teruslah bersukacita memuji Tuhan.  So, it’s okay to face a problem. Problems do not matter so long as the outcome is good. And for the Lord is good, everything will be beautiful in the end.

Sengsara mendatangkan ketekunan yang akan membuat kita terlatih untuk lebih kuat agar mampu mencapai garis akhir dengan tetap memelihara iman

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: