Allah Peduli, Demikian Pun Kita Harus Peduli

Minggu, 28 Februari 2016
Minggu Prapaskah III
Kel 3:1-8a.13-15; Mzm 103:1-2.3-4.6-7.8.11; 1Kor 10:1-6.10-12; Luk 13:1-9

Pengurus kebun itu menjawab, “Tuan, biarkanlah dia tumbuh setahun ini lagi. Aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya. Mungkin tahun depan akan berbuah. Jika tidak, tebanglah!”

MARI kita pusatkan perhatian kita pada bacaan pertama dan Injil hari ini. Ada kesamaan tema dalam kedua bacaan tersebut khususnya tentang kepeduliaan Allah kepada kita.

Dalam bacaan pertama, kita berjumpa dengan Alah yang dapat mendekati Musa, dan menarik Musa untuk dekat pada-Nya. Itulah pengalaman Musa pada semak yang menyala namun tak terbakar. Di sana Allah bersabda kepada Musa, bahwa Allah telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku… dan Aku telah mendengar seruan mereka…, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka… Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan dan menuntun mereka.” (bdk Kel 3:7-8).

Di sini kita mengalam betapa Allah peduli kepada kita, umat-Nya. Ia mengetahui penderitaan kita dan datang untuk membebaskan kita. Ia berkenan berada dekat dengan kita dan kita dekat dengan-Nya. Allah sedemikian dekat dengan kita, sebab Allah selalu peduli.

Dalam Injil kita berjumpa dengan Allah yang peduli kepada kita dalam diri Yesus Kristus. Yesus menyampaikan kepada kita perumpamaan tentang pohon ara yang tetap dibiarkan hidup dan tidak ditebang meski ia tak menghasilkan buah. Terima kasih kepada pengurus kebun dalam perumpamaan itu, yang olehnya, pohon ara itu boleh tetap hidup dan tidak ditebang. Setiap kali, setiap tahun, kita baca perumpamaan itu, dan kita mendapati bahwa pohon ara itu memang tidak akan pernah ditebang, selalu diberi kesempatan untuk hidup, dan siapa tahu berbuah!

Dalam meditasi saya, Yesus Kristus sendirilah pengurus kebun yang baik itu yang memohon kepada pemilik kebun, yakni Bapa Surgawi, “Tuhan. biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah, jika tidak, tebanglah dia!” Yesus Kristuslah Pengurus Kebun yang baik itu yang menghadirkan wajah kerahiman Allah. Dialah yang akan merawat segala sesuatunya dalam hidup kita. Ia yang akan mencangkul tanah hati kita, dan menaburkan pupuk pada hidup kita seperti dalam perumpamaan itu,

Bahkan, Dia sendirilah yang rela ditebang hingga mencurahkan darah-Nya dan disalibkan. Itulah rahmat yang luar biasa hingga kita mestinya yang harus ditebang, namun diselamatkan, sementara Dia sendiri harus ditebang, dengan merentangkan tubuh-Nya pada kayu salib-Nya. Semua itu melulu demi kasih dan kerahiman Allah bagi kita!

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita menyembah Yesus Kristus yang ditebang dan dipecah-pecah dalam Ekaristi. Dialah Putra Allah yang telah mendengarkan jeritan kita dan peduli pada penderitaan kita, umat-Nya.

Tuhan Yesus Kristus,Engkau menghendaki kami hidup dengan menghasilkan buah damai dan kebahagiaan. Berkali-kali dan lagi Engkau sabar terhadap kami dan menerima kami kembali dalam pelukan-Mu saat kami menjauh dari pada-Mu. Terima kasih atas kebaikan-Mu, Tuhan. Sebagaimana Engkau selalu sabar kepada kami, semoga kami pun selalu sabar kepada sesama sama seperti Engkau terhadap kami kini dan selamanya. Amin.

Sumber: Sesawi.net

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.