Akulturasi Budaya Portugis di Indonesia, dari Bahasa sampai Kampung Tugu

talk show UAJ 30 apr 15

WALAUPUN tidak pernah menjajah Indonesia seperti halnya Belanda, akulturasi budaya Portugis di Indonesia cukup kuat. Hal itu terungkap dalam acara Gelar Wicara dan Pameran Karya Jejak Akulturasi Budaya Portugis dan Indonesia.

Kegiatan yang termasuk dalam rangkaian acara Lustrum XI Unika Atma Jaya ini digawangi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) melalui Pusat Kajian Bahasa dan Budaya (PKBB) bekerja sama dengan Prodi Hospitality Fakultas Ilmu Administrasi Bisnis dan Ilmu Komunikasi Unika Atma Jaya.

Seperti dikemukakan Kepala PKBB Yanti kepada Sesawi.Net, Unika Atma Jaya ingin turut mewujudkan kepedulian terhadap sejarah bangsa Indonesia, terutama mengangkat seni dan budaya yang masih kurang dikenal masyarakat.

Kegiatan ini dihadiri oleh Duta Besar Portugal untuk Indonesia, Joaquim Moreira de Lemos, Ketua Asosiasi Persahabatan dan Kerja Sama Indonesia Portugal, Harry P. Haryono, Sekretaris Ikatan Besar Keluarga Tugu, Johan Sopaheluwakan, dan pejabat Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.

Joaquim Moreira de Lemos dalam sambutan lisannya menjelaskan mengenai pandangan keliru yang sering dia temui selama dua tahun menjabat duta besar di Indonesia. “Saya kadang ditanya mengenai kolonialisasi Portugis di Indonesia, padahal itu tidak pernah terjadi. Portugis datang ke Indonesia tahun 1511 untuk transaksi rempah yang waktu itu merupakan komoditi sangat bernilai,” jelasnya dengan bersemangat.

Indonesia merupakan penempatan pertama Joaquim Moreira de Lemos sebagai duta besar dan dia mengaku senang sekali karena sesuai dengan harapannya untuk ditugaskan pada negara yang punya kaitan kuat dengan Portugis.

Padrao yang terlantar

Joaquim Moreira juga menceritakan kesedihannya melihat terbengkalainya benda bersejarah Portugis yang berharga yaitu Padrao yang diberikan oleh Raja Portugis kepada Prabu Siliwangi pada tahun 1522. Padrao tersebut yang dikenal sebagai Luso Sundanese Padrao merupakan suatu prasasti perjanjian kerjasama antara Portugis dengan Kerajaan Sunda.

Padrao termasuk peninggalan sejarah yang langka dan sangat dihargai oleh sejarawan Portugis maka ketika Joaquim Moreira mulai bertugas di Indonesia, dia membawa sejarawan Portugis mengunjungi Museum Nasional dimana padrao tersebut disimpan. Ternyata petugas museum tidak tahu tentang padrao sampai akhirnya ada satu staf yang mengerti apa yang dimaksud dan membawa mereka masuk ke suatu gudang terkunci yang gelap dan sumpek dimana padrao itu digeletakkan begitu saja di belakang pintu.

“Kalau diperbolehkan Museum Nasional, saya mengimpikan untuk menampilkan peninggalan sejarah Portugis di Indonesia dalam suatu ruangan khusus dengan tujuan pembelajaran bagi masyarakat Indonesia tentang sejarah hubungan kedua negara dan akulturasi yang terjadi,” ungkap duta besar yang simpatik dan ramah ini.

Tradisi Kampung Tugu

Salah satu peninggalan bangsa Portugis di Jakarta yang masih hidup sampai sekarang adalah Kampung Tugu dimana tinggal sekelompok orang keturunan Portugis. Kampung Tugu terletak di kawasan Jakarta Utara, sekitar empat kilometer sebelah tenggara dari Pelabuhan Tanjung Priok.

Johan Sopaheluwakan, Sekretaris Ikatan Keluarga Besar Tugu mengungkapkan nama kampung mereka berasal dari kata Kampung Portugis, yang lama kelamaan disingkat menjadi Kampung Tugu seperti dikenal sekarang. Nenek moyang mereka adalah 23 keluarga Portugis yang bermigrasi dari Gowa (India) pada tahun 1661.

Keroncong Tugu disajikan dalam acara Talk Show Akulturasi Budaya Portugis di Indonesia, berlangsung di Auditorium Gedung Yustinus Lantai 15 Kampus Semanggi Unika Atma Jaya. (Foto Royani Lim/Sesawi.Net)
Keroncong Tugu disajikan dalam acara Talk Show Akulturasi Budaya Portugis di Indonesia, di Auditorium Gedung Yustinus Lantai 15 Kampus Semanggi Unika Atma Jaya (30/4). (Foto Royani Lim/Sesawi.Net)

Salah satu kesenian yang bertahan sampai sekarang adalah kesenian Keroncong Tugu. Keunikan lain Kampung Tugu adalah acara Rabo-rabo yaitu tradisi silaturahmi beramai-ramai ke seluruh rumah di kampung tersebut pada saat Tahun Baru. Selain itu, ada juga tradisi yang disebut Mandi-mandi yaitu upacara saling memaafkan satu sama lain dengan memberi tanda kapur di wajah.

“Sejarah dan budaya unik Kampung Tugu merupakan potensi untuk dijadikan destinasi wisata. Maka tujuan lain acara ini adalah sebagai ajang pertemuan antara Komunitas Tugu, pemerintah, dan masyarakat,” demikian dijelaskan Yanti, Kepala PKBB yang juga berprofesi sebagai dosen program studi bahasa Inggris Atma Jaya tersebut.

Akulturasi budaya Portugis

Pemaparan tentang akulturasi budaya Portugis dalam budaya Indonesia dikemukakan oleh mantan Duta Besar Indonesia untuk Portugis (2000 – 2004) Harry P. Haryono yang juga menjadi Ketua Asosiasi Persahabatan dan Kerja Sama Indonesia Portugal.

Pakar Hukum Internasional dari Universitas Indonesia ini menjelaskan pengaruh Portugis di Jakarta bisa dilihat nyata pada Kampung Tugu dan Meriam si Jagur di Jakarta. Selain di Jakarta, alkulturasi juga tampak di daerah lain seperti Yogyakarta dengan bangunan Istana Tamansari. Sedangkan di Flores terlihat jelas pada nama-nama keluarga masyarakat Flores dan tradisi perarakan patung peninggalan Portugis pada saat perayaan Paskah, serta di Maluku yang memiliki topi helm Portugis sebagai bagian dari baju tradisionalnya.

“Indonesia tidak pernah dijajah Portugis, tetapi pengaruh budayanya besar disini. Pengenalan budaya tersebut awalnya lewat para pastor dan pelaut yang datang ke Indonesia ratusan tahun lalu itu,” jelas Harry Haryono.

Selain itu tentu saja kita menemukan banyak kata dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Portugis, seperti boneka, pigura, bola, meja, sepatu, jendela, keju, dan armada. Total ada sekitar 300 kata yang berasal dari akulturasi budaya Portugis tersebut.

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. apa budaya portugis yg terakultrasi dengan budaya indonesia
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: