Aku Jatuh Kecelakaan, Sempoyongan, Lalu Koma (1)

TAHUN 1989 adalah tahun pertama aku masuk universitas.  Tahun itu pula, aku  mengalami kecelakaan lalu lintas dengan naik sepeda motor boncengan dengan kakak sepupuku. Lokasinya di depan kampus universitas. Saat itu, kakakku ingin berbelok ke kampus yang terhubungkan dengan sebuah jembatan pendek dari jalan raya. Parit di bawah jembatan sederhana itu tak lebih dari 2 […]

TAHUN 1989 adalah tahun pertama aku masuk universitas.  Tahun itu pula, aku  mengalami kecelakaan lalu lintas dengan naik sepeda motor boncengan dengan kakak sepupuku. Lokasinya di depan kampus universitas.

Saat itu, kakakku ingin berbelok ke kampus yang terhubungkan dengan sebuah jembatan pendek dari jalan raya. Parit di bawah jembatan sederhana itu tak lebih dari 2 meter lebarnya. Lebih tepat menyebutnya sebagai got daripada sungai atau kali.

Kakakku memacu sepeda motornya sangat kencang. Ketika berbelok, dia kehilangan kendali atas motornya dan tak kusadari aku pun melayang meluncur jatuh hingga kepalaku membentur dinding jembatan dan aku pun terjatuh di dalam parit dengan kondisi air setinggi pinggang.

Saat aku duduk terjengkang di dalam parit, tubuhku lalu ditubruk motor bersama badan sepupuku. Karena tangannya masih menjepit stang, maka bagian kepalaku akhirnya kena benturan keras stang sepeda motor itu.

Selanjutnya, yang kurasakan hanya sebuah perubahan besar tengah terjadi dalam tubuhku. Aku merasa tiba-tiba semuanya seolah-olah menjadi besar. Terutama di bagian kepalaku. Sepertinya seperti kepalaku menjadi sebesar bola dunia.

Tak lama kemudian datanglah teman-teman kampus membantu kami. Aku masih sadar waktu itu.  Dengan pakaian basah kuyup dan menutup luka di bagian badan, akhinya kami berdua memutuskan pulang ke rumah.

Sampai di rumah, aku tetap sadar. Bahkan aku memberitahu kakakku tentang “kronologi” peristiwa kecelakaan yang baru saja menimpaku. Aku segera mandi dan bebersih diri. Namun, saat tengah mandi itulah aku mulai merasa badanku mulai limbung.

Lemas dan mulai merasa sangat mual. Pandanganku mulai kabur dan berputar-putar. Dalam sekejap aku mulai muntah. Aku cemas karena muntah jelas bukan sesuatu yang baik dalam hal ini.  Namun toh aku  tetap berkali-kali muntah.

Aku segera berteriak memanggil abangku. Aku pun menjerit-jerit panik. Aku mulai merasa ada sesuatu yang berubah cepat dalam tubuku dan kepalaku. Saat itu, aku mulai merasakan tiba-tiba tubuhku menjadi ringan dan pandanganku mulai berputar-putar. Seluruh tubuhku mulai kesemutan dan aku juga mulai kehilangan rasa. Dalam sekejap, aku pingsan dan tak tahu lagi ketika abangku datang memapahku(Bersambung)

Artikel terkait:

Aku Jatuh Kecelakaan, Sempoyongan, Lalu Koma (2)

Aku Jatuh Kecelakaan, Sempoyongan, Lalu Koma (3)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply